Tampilkan postingan dengan label amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amerika. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juni 2010

Jika Obama Jadi Berkunjung ke Indonesia

KEDATANGAN Presiden AS Barack Obama di Bali, kapan pun, harus disambut gembira masyarakat Indonesia khususnya Bali. Dengan kunjungan itu nama baik Indonesia termasuk Bali akan lebih dikenal masyarakat AS.

Buissness and Education Consultant PT Wahana Tunggal Abadi Brant Connors mengharapkan, masyarakat Indonesia bisa belajar dari kemenangan Obama sebagai presiden di AS. “Obama berangkat dari berbagai pengalaman hidup yang berat hingga dia mampu tampil sebagai orang nomor satu di AS. Kemenangan Obama disambut masyarakat AS dengan gembira,” ujar konsultan pendidikan bagi tenaga kapal pesiar ini. Ia menilai, Obama mampu membangun kualitas dirinya dengan baik, dan menanamkan citra positifnya di kalangan masyarakat AS.

Dalam pengamatannya, selama hampir 10 tahun tinggal di Indonesia, ia melihat banyak perubahan politik di Indonesia. Seyogianya, masyarakat Indonesia dapat memetik manfaat positif dari kedatangan Obama sebagai suatu pembelajaran demokrasi di Indonesia. Dengan kedatangan Obama pula, kata lelaki kelahiran Seattle AS 33 tahun silam ini, Indonesia khususnya Bali makin dikenal masyarakat AS. Ia berharap, menyambut kedatangan Obama, masyarakat Bali bukan hanya menampilkan budaya Bali, namun, bisa melihat peluang agar kerja sama dan hubungan internasional makin ditingkatkan. Brant menilai, Bali memiliki keunikan di matanya. Masyarakatnya yang terbuka dan bersahabat telah memikat hatinya. Ia sudah berkunjung ke semua wilayah Indonesia, tetapi memutuskan tinggal di Bali karena memiliki banyak teman di daarah ini. Kesibukannya sebagai konsultan bisnis dan pendidikan, mengharuskannya cuti dari kuliahnya di Pascasarjana Kajian Budaya Unud.

Lelaki yang pernah menjadi penulis lepas di berbagai koran dan majalah berbahasa Inggris ini mengatakan, orang Bali yang bekerja di kapal pesiar dan magang kerja di AS mudah beradaptasi. Namun, sifat orang Bali yang masih ada rasa malu untuk bicara masih menghambat mereka selama di kapal. “Perlu penyesuaian diri, sebelum mereka mampu beradaptasi dengan baik,” ujarnya. Ia berpandangan, makin banyaknya perempuan Bali yang bekerja di kapal pesiar, menunjukkan adanya perubahan ke arah kemajuan. Manajemen kapal pesiar yang memberikan kesempatan 50% pekerja perempuan di kapal hendaknya direspons positif.
Dalam era globalisasi, Brant mengharapkan orang Bali harus berbenah diri mengikuti perkembangan. “Aspek tradisional mana yang harus dipertahankan dan dalam hal apa harus mengikuti perkembangan zaman, perlu dipilah-pilah,” katanya.

Banyak hal yang didapat orang Bali bekerja di luar negeri. Misalnya terkait etos kerja, disiplin waktu, cara menghadapai masalah, dan organisasi kerja. Lelaki yang pernah menempuh kuliah 1½ tahun dan mengajar antropologi di universitas negeri di Malang ini sangat menggemari masakan Indonesia dan Bali. Ia sudah terbiasa makan di warung pinggir jalan, walaupun awalnya, ia sempat terserang tipus karena salah makan. “Makanan favorit saya ikan bakar dengan sambal mentah. Saya juga pernah makan lawar. Saya memang suka pedas,” ujarnya.
Ia mengatakan, setelah berminggu-minggu makan di warung kaki lima, terkadang ia kangen makanan Amerika. Namun, kata Brant, tidak ada restoran khusus Amerika di Bali. Restoran siap saji franchise Amerika banyak, tetapi itu bukan makanan khas Amerika. Biasanya, ia membuat makanan spesial tacos dari Mexico dan mengundang teman-temannya datang untuk mencicipinya. “Tacos dibuat dari lembaran tortilla diisi daging dan sayuran diberi saus pedas,” jelasnya.

HARAPAN kunjungan Obama ke Bali bisa meningkatkan citra positif Bali, juga dilontarkan Ryan Ingrassia, mahasiswa asal Kalifornia yang sedang kuliah di Fakultas Sastra Unud. Lelaki yang baru sebulan tinggal di Bali ini menyatakan jika masyarakat Indonesia menyambut kedatangan Obama dengan menunjukkan sikap bersahabat dan menjaga keamanan tentu dapat meningkatkan citra positif Indonesia dan Bali khususnya. “Obama pernah tinggal di Indonesia. Itu memberi nilai lebih kedatangannya ke Indonesia. Obama pasti suka makanan Indonesia juga,” kata Ryan.

Ryan mengungkapkan, dulu sebelum datang ke Indonesia, ia banyak membaca berita miring tentang Indonesia. Teroris, dan bencana alam terus menghiasi beberapa media massa di AS. Waktu Ryan di Jakarta, bom meledak di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan. Namun, dalam pandangannya, tidak semua orang Indonesia benci orang Amerika. Banyak orang Indonesia yang menerima mereka dengan tangan terbuka.

Setelah tinggal di Bali, Ryan melihat sendiri bagaimana masyarakat Indonesia sangat terbuka dan bersahabat, serta saling membantu sama lain. Kerukunan juga sangat terjaga. “Saya melihat orang yang tinggal di Bali bukan hanya orang Hindu Bali, ada juga orang Jawa, Flores, dan suku lain. Mereka hidup berdampingan dengan rukun. Mereka juga sangat welcome membantu saya belajar bahasa Indonesia,” kata Ryan.

Mahasiswa George Washington University ini hanya memunyai waktu empat bulan belajar bahasa Indonesia di Bali. Sebelumnya, dua bulan ia habiskan di Yogyakarta dan 2½ bulan di Jakarta. Ia harus lulus ujian dalam dua bahasa yakni Inggris dan Indonesia untuk Jurusan Hubungan Internasional. Bagi Ryan, berbicara menggunakan bahasa Indonesia lebih mudah dibanding menulis menggunakan bahasa yang sama. Setelah pulang kuliah, Ryan menghabiskan waktunya belajar kosa kata dan praktik berbahasa Indonesia.

Selain belajar, Ryan juga memanfaatkan waktunya untuk jalan-jalan. Berbagai tempat di Bali sudah dikunjunginya seperti Bedugul, Uluwatu, Munduk (Buleleng). Kadang ia pergi dengan naik bus umum. Ryan mengatakan, orang Amerika suka makan daging sapi, sayuran, jagung, kentang, salad, atau pasta. Di Bali, ia tidak terlalu sulit mencari makanan, karena ia menyukai makanan Indonesia seperti bakso, babi kecap, rendang sapi, pepes ikan, sate dengan saus kacang. Namun, ia belum pernah mencoba makanan khas Bali lawar. “Dua minggu pertama saya sakit perut setelah makan di pinggir jalan,” katanya sambil tertawa. –ast

Koran Tokoh, Edisi 595, 31 Mei s.d 6 Juni 2010

Minggu, 30 Mei 2010

Kedatangan Obama Positif bagi Perkembangan Pariwisata

SEBAGAI orang muda yang ingin mengenal negara lain lebih dekat, Bruce W. Carpenter tiba di Indonesia. Tahun 1974, Bruce yang baru saja menyelesaikan kuliah di negaranya, AS, pertama kali menginjakkan kakinya di Kuta, Bali. Keindahan Bali yang ia dengar dari beberapa orang yang sudah pernah berkunjung ke pulau ini, menjadikan ia panasaran untuk melihatnya secara langsung. Berbekal uang 400 dolar AS ia melakukan perjalanan liburan panjang, mengunjungi beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia.
Ia mengungkapkan, dalam perjalanannya itu dirinya pernah hidup hanya dengan uang 2 dolar AS per hari. Uang sedikit itu ia gunakan untuk biaya makan, penginapan, dan jalan-jalan. Untuk itu ia lebih sering naik bus dan kapal laut. Setelah melakukan perjalanan keliling Indonesia, Bruce akhirnya jatuh cinta pada kebudayaan Bali. "Waktu saya tiba di Kuta, suasananya masih sepi. Lalu lintas sangat jauh dibandingkan kondisinya sekarang. Banyak pohon kelapa tumbuh di pinggir pantai. Pasir di pantainya tanpa sampah berserakan. Banyak penduduk yang beternak sapi. Saat itu Kuta terkesan sebagai wilayah yang penuh hamparan sawah," kenang lelaki asal New York ini.

Lelaki yang beristrikan wanita asal Belanda, Carola, ini menuturkan, dari Kuta jika ingin pergi ke Ubud, ia harus melewati Denpasar. Jalanan sepi. Belum ada jalan by pass yang membuat perjalanan lebih cepat. Di pasar-pasar, orang-orang tua, termasuk perempuan, sering terlihat bertelanjang dada. Tidak ada agenda tetap hiburan malam bagi masyarakat, yang ada pertunjukan kesenian saat berlangsung piodalan. Bruce berteman dengan Jero Dalang Made Sija dari Bona, dan Made Jimat seorang penari dari Batuan, Gianyar. Bruce tidak bisa menari Bali. Tetapi, ia mengaku sangat suka menonton tarian Bali dan pertunjukan wayang Bali. Banyak hal ia pelajari di Bali. Selain seni dan budaya, sejarah termasuk karakter manusia Bali juga ia cermati. Banyak buku yang telah ia tulis. Sekitar 16 bukunya tentang kebudayaan Indonesia termasuk seni dan budaya Bali, sudah beredar di banyak negara.

Ketika ia memutuskan pergi ke Bali setelah kunjungannya di Yogakarta, beberapa orang mengingatkan agar berhati-hati di Bali karena banyak black magic, leak. "Begitu saya tiba di Bali, masyarakat menyambut kedatangan saya dengan baik. Orang Bali sangat terbuka dan bersahabat," ujarnya. Sebaliknya beberapa orang Bali juga mengingatkan dirinya agar berhati-hati ketika berada di Jawa. Ia menilai, saat-saat itu mereka belum banyak mengenal satu sama lain sehingga salah paham terhadap sesama bangsa sendiri. Setelah cukup lama bertempat tinggal di Bali, Bruce pulang ke negaranya, karena modalnya habis. Ia sempat bekerja di beberapa perusahaan di Amerika dan Eropa. Ketika modal sudah cukup, ia kembali ke Bali. Senantiasa tersimpan kerinduan pada Bali dalam dirinya.

Bruce sangat tertarik pada topeng Bali. Awal mulanya, ia mengoleksi topeng untuk sekadar menyalurkan hobi. Namun, beberapa teman dan koleganya berniat membeli koleksinya. Inilah awal mula Bruce memasarkan barang kerajinan Bali ke negara kelahirannya, AS. Tahun 1988, ia berketetapan hati untuk menetap di Bali. Bruce memilih tempat tinggal di Sanur. Waktu itu, katanya, sebagai orang asing sulit bertempat tinggal secara tetap di Indonesia. Persepsi masyarakat masih negatif terhadap orang asing. Politik anti-Eropa dan Amerika sewaktu-waktu muncul, karena dianggap negara kapitalis. "Untuk mencari visa turis saja susah; harus pergi ke Kedutaan Besar AS di Jakarta. Visa hanya berlaku 28 hari dan jika habis berlakunya harus diperpajang lagi," ujarnya.

Sejak kepemimpinan Joop Ave sebagai menteri Pariwisata RI, kata Bruce, banyak perkembangan yang dialami orang asing di Indonesia. Tamu mulai berdatangan ke Bali. Ia menilai, saat itu era baru parisiwata di Indonesia. Jumlah turis asing meningkat tajam dalam waktu yang singkat. Kemudahan dalam mencari visa membuat para turis berduyun-duyun datang ke Bali. Hotel mulai banyak dibangun, termasuk di Nusa Dua.
Ia menuturkan, menulis banyak buku tentang kebudayaan Bali sebagai refleksi kecintaannya pada Bali dan agar dunia lebih mengenal Bali seutuhnya. Bruce sangat lancar menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan, ia mengerti bahasa Bali. Ia mengungkapkan kesannya, orang Bali ingin melindungi kebudayaan Bali, tetapi tidak semua tahu bagaimana cara menjaganya. Mereka secara rutin melakukan kegiatan upacara keagamaan, tetapi belum semua tahu apa makna upacara tersebut. Seolah-olah mereka takut tidak melakukannya karena tidak ingin mendapatkan masalah dalam hidupnya.

Bruce menilai, orang AS umumnya sangat terbuka terhadap orang baru. Mereka tidak terlalu mempersoalkan harus membuat suatu kegiatan khusus dalam komunitas mereka. Ia lebih suka berbaur dengan semua orang, penduduk Bali dan semua orang asing dari berbagai belahan dunia. Jumlah warga AS di Bali terbatas. Setelah terjadi tragedi bom Bali tahun 2002, mereka diundang rapat di Kosulat AS di Denpasar. "Rapat ini hanya membahas soal keamanan. Tidak ada urusan politik," ujarnya. Dan, bagi Bruce, tragedi bom di Bali tidak menyurutkan cintanya pada Bali. Pesta kemerdekaan AS tiap tanggal 4 Juli biasanya dirayakan dengan pesta oleh warga di AS. "Saat Hari Kemerdekaan AS, kebetulan musim panas. Biasanya warga di sana piknik dan membuat pesta dengan memanggang ikan sambil menikmati kembang api. Perayaan di Bali biasa saja. Saya pernah diundang seorang teman untuk ikut merayakannya. Acaranya makan-makan dan ramah tamah," ujarnya.

Ia menyatakan senang Presiden Obama akan berkunjung ke Bali. Kunjungan itu akan memberikan nilai positif bagi perkembangan pariwisata Bali. Dalam mengisi hari-harinya di Bali, Bruce berbisnis barang seni rupa dan melayani kebutuhan interior seni untuk museum, hotel, biro perjalanan, atau pribadi. Istrinya, Carola, bergerak dalam bidang seni pahat. Hobi di bidang kesenian pula yang menumbuhkan cinta mereka yang kemudian diabadikan dalam biduk rumah tangga. Bruce dan Carola dikaruniai dua anak yang sudah menginjak dewasa. Avalon bertempat tinggal di Bali dan Allegra kini sedang kuliah di Los Angeles. Avalon membantu kegiatan bisnis orangtuanya. – ast.
Susi Johnston Piawai Baca Lontar
Voluntir Kampanyekan Obama


SUSI JOHNSTON, warga asal AS, juga sangat mencintai Bali. Ia berketetapan hati menghabiskan sisa hidupnya di Pulau Dewata. Perempuan yang bersuamikan Bruno Piazza asal Italia ini, pertama kali datang ke Bali langsung bertempat tinggal di Ubud. Susi sangat dekat dengan keluarga Puri Ubud karena pertama kali datang ia bertempat tinggal di puri itu. Tujuh tahun, Susi mempelajari kebudayaan Bali di Ubud. Tiap sore, ia suka menghabiskan waktu duduk di pinggir Jalan Monkey Forest bersama beberapa anggota puri.

Kecintaanya pada Ubud, membuat Susi tertarik menulis buku tentang sejarah Puri Peliatan. Selain menulis buku, Susi juga menulis di berbagai majalah di AS tentang budaya dan adat Bali. Untuk mengenal sejarah Bali lebih jauh, Susi tertarik belajar membaca lontar. Ia berguru pada balian Ida Bagus Putu Dalem di Tampaksiring. Setelah diupacarai secara agama Hindu sebagai orang Bali dengan sudha widani dan pewintenan di Gria Gede Klungkung, Susi mengaku lebih mudah belajar membaca lontar. Ia diberi nama baru “Kadek Susilawati”. Dengan kepiawaiannya membaca lontar, Susi mampu menerjemahkan kekawin ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Salah satunya, Aji Palayon. Hanya dalam waktu tiga bulan, ia mampu menerjemahkannya ke dalam dua bahasa itu. Master Art di University of St. Andrews, Scotland, ini menuturkan sangat suka membaca karya sastra.

Ketika larangan berkunjung diberlakukan pemerintah AS menyusul tragedi bom tahun 2002, Susi menyikapinya dengan santai. Ia mengatakan, teroris ada di mana-mana tidak hanya di Bali. Susi sudah pernah hidup di berbagai negara di Amerika dan Eropa. Keamanan menjadi harga yang mahal. Ia berpandangan, hidup di Bali begitu tenang. Ia biasa keluar malam hari setelah bertempat tinggal di Kuta. Ia mengaku tidak ada masalah. Dia mengaku salut terhadap orang Bali. Kalau ada warga yang alami kecelakaan di jalan raya, mereka pasti antusias menolong. Kalau ada yang berteriak "maling!", mereka pasti datang beramai-ramai. "Rasa kekeluargaan orang Bali sangat kental," katanya.

Ia mengungkapkan ada kemiripan antara orang AS dan orang Bali. Mereka sama-sama terbuka dan sangat bersahabat. Saat ini, warga AS lebih banyak memanfaatkan liburan mereka ke Florida dan Hawai. Masih banyak warga AS yang belum mengenal Bali. Artinya, Bali masih memunyai kesempatan untuk dikenalkan lebih jauh di negara itu. Dibukanya penerbangan langsung Bali-Singapura-Los Angeles atau New York akan memudahkan warga AS untuk datang ke Bali. Dengan waktu tempuh 15 jam di pesawat, mereka sudah tiba di Bali. Setelah tujuh tahun di Ubud, Susi pindah ke Jalan Oberoi, Seminyak, Kuta. Saat itu kawasan di sekitar Jalan Oberoi masih berupa hamparan sawah, belum banyak rumah penduduk, toko atau restoran seperti sekarang. "Sekarang sudah banyak perubahan di sini. Juga, ada banyak hotel," ujar perempuan yang pernah bergabung sebagai voluntir kampanye presiden Barack Obama ini.

Ia mengungkapkan, dulu orang Bali suka belajar bahasa Inggris pada turis asing. Sekarang sudah banyak tempat kursus. Orang Bali banyak yang pintar berbahasa Inggris. "Ketika bertemu dengan turis asing, orang Bali umumnya cepat akrab dan langsung menyapa mereka dengan bersahabat. Begitu juga orang Amerika. Mereka sudah terbiasa mempersilakan tamu untuk mengambil minuman sendiri ke kulkas," tuturnya. Ia mengatakan, sebagian besar warga AS yang bertempat tinggal di Bali memunyai latar belakang pendidikan di bidang seni dan athropologi. Jurusan itu termasuk favorit di AS.
Susi mengatakan, pernah mengikuti pesta perayaan Hari Kemerdekaan AS yang difasilitasi Konsulat AS di Denpasar. "Kami piknik dan makan-makan dalam acara ramah tamah yang bersifat kekeluargaan. Saya baru kenal beberapa warga AS yang berada di Bali ya waktu pesta itu," katanya. Menurut Susi, pesta semacam itu tidak sering digelar. Namun, pesta meriah pernah diadakan menyambut kemenangan Obama sebagai presiden pertama kulit hitam di AS. Kemenangan Obama disambut warga AS yang ada di Bali dengan sumringah.
Sebagai kepeduliannya terhadap generasi muda Bali, banyak hal sudah dilakukan Susi. Salah satunya, sebagai orangtua asuh I Putu Eka Gunayasa, mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Unud, dan Ni Made Wulan Kusumasari, siswi SMP Dalung. Putu, saat duduk di SMA pernah meraih juara I lomba menulis lontar. Sedangkan Wulan bercita-cta menjadi dokter. Susi ingin membantu Wulan meraih cita-citanya. Saat ini, Susi bekerja di bidang pemasaran di CV ICON Asian Arts, suatu perusahaan yang melayani ekspor barang antik, mebel, dan kerajinan dari Bali dan Indonesia. –ast
Koran Tokoh, Edisi 594, 30 Mei s.d. 5 Juni 2010