Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2010

Tips Memilih Kamera Digital

Pasar kamera digital sangat progresif. Kemajuan teknologi dan fasilitas kerja yang ditawarkan pabrik pembuat kamera sangat beragam dan canggih. Bagaimana memilih kamera digital sesuai kebutuhan?

- Untuk dokumentasi kegiatan pribadi atau keluarga pilih kamera yang ringkas, ringan, dan kecil. Banyak jenis kamera saku yang cocok. Kita dapat memilih kamera saku dengan resolusi sensor 7-8 megapiksel. Kamera ini sangat baik pada kondisi cahaya cerah siang hari di alam terbuka. Kamera ini juga dilengkapi lampu kilat bawaan untuk digunakan jika kondisi cahaya remang-remang atau gelap. Kekuatan cahayanya terbatas, umumnya hasil fotonya cukup baik pada jarak 1,5 – 3 meter. Lebih dari itu fotonya akan terekam makin gelap. Pilih kamera yang tahan cuaca. Tapi harus diingat, kamera ini hanya tahan cipratan air, tidak boleh kecemplung atau terendam. Lebih aman jika memilih kamera yang tahah air yang bisa di bawa berenang dan memotret di dalam air.

- Untuk membuat gambar ilustrasi laporan, artikel atau brosur kita dapat menggunakan kamera ringkas (promuser) yang berkualitas baik, dan memiliki fasilitas kendali yang dapat menunjang bekerja lebih kreatif. Kategori kemampuan kamera sedang sampai tinggi, dengan resolusi 8 megapiksel ke atas yang dilengkapi kendali pengaturan pencahayaan yang lengkap. Biasanya juga tersedia tambahan berbagai program pencahayaan khusus seperti potret, landscape, sport. Tersedia juga fasilitas foto makro yang digunakan membidik benda kecil dengan hasil memuaskan. Perlu disiapkan dudukan lampu kilat tambahan untuk membidik ruangan besar, atau foto makanan.

- Untuk kualitas tampilan gambar yang optimal seperti foto perkawinan, presentasi bisnis, atau mendapatkan foto potret yang lebih ekspresif dan lebih segar kita membutuhkan kamera yang mampu menghadapi berbagai kondisi kerja. Kita dapat memilih kamera digital refleks lensa tunggal (Digital Single Lens Reflex/DSLR kamera). Kamera ini memiki sistem lensa yang dapat dilepas tukar (interchangeable) sehingga dapat menghadapi berbagai kondisi pemotretan baik jarak maupun lebar ruang pandang. Pada kamera tersedia berbagai fasilitas mulai dari pengaturan cahaya manual, otomatis prioritas diafragma, otomastis prioritas rana, dan pengendalian program. Tambahan program pencahayaan khusus seperti potret, landscape, sport, beach, night shoot. Juga tersedia penajaman fokus yang bisa dipilih otomatis atau manual. –ast

Sumber:
Buku “Fotografi Digital Artistik”
Makarios Soekojo
Pengajar Fotografi Digital dan Fotografer Senior

Edisi 577, 31 Januari s.d 6 Februari 2010

Ungkap Peristiwa lewat Foto

Saat ini, seni fotografi sudah menjadi tren di masyarakat. Teknik fotografi berkembang pesat seiring berkembangnya teknologi digital. Kamera digital sudah dilengkapi berbagai fitur yang dapat memberikan hasil maksimal. Masyarakat mulai mencatat keseharian mereka lewat foto. Fotografi bukan lagi sekadar hobi, namun merupakan lahan pekerjaan yang menggiurkan. Foto prawedding kini sangat diminati.

Pengamat Fotografi Widnyana Sudibia mengatakan, perkembangan teknologi fotografi dimulai dari plat sampai ke digital. “Prinsipnya sama yakni menangkap sinar menjadi gambar. Hanya medianya yang berbeda. Film untuk analog, dan digital file dalam bentuk pixel. Zaman analog, medianya seluloid film dalam dua format yakni positif (slide) dan negatif (klise) yang dapat dicetak. Memang lebih mudah sekarang, dengan teknologi digital. Semua serba instan,” ujar Dosen Fotografi Arsitektur Fakultas Teknik Unud ini.

Ia mengungkapkan, ketika menggunakan kamera analog, setelah selesai memotret, kita tidak mengetahui hasilnya. Kita harus menunggu hasil cetakan dan faktor kegagalan lebih tinggi. Sedangkan dengan kamera digital, hasil langsung dapat dilihat. Kita dapat melakukan koreksi dan faktor kegagalan jarang terjadi.
Fotografer yang mengalami dua terminologi ini mengatakan, kamera digital mulai populer tahun 2000an. Sebelumnya memang sudah ada, tapi resolusinya rendah masih di bawah 1 MP (megapixel) yang disebut VGA (640 x 480 pixel). “Hasilnya tidak bagus dibandingkan hasil film yang memiliki 6 MP dengan kehalusan tinggi dalam kamera analog. Tahun 2000 mulai beredar kamera dengan resolusi 1,2 MP, 2,8 MP, 3,2 MP. Teknologi fotografi digital berkembang cukup cepat. Dalam rentang waktu 8 tahun sudah ada kamera digital dengan resolusi mencapai 20 MP,” paparnya.

Ia menyebutkan berbagai jenis kamera digital beredar di pasaran. Point and shoot (pocket/saku) sangat familiar di masyarakat. Tidak perlu fokus, tidak mengatur apapun, asal ditekan langsung jadi. Jenis yang lain, ada yang disebut kamera profesional. Diantara dua ini, ada kamera digital ringkas (prosumer) atau semi profesional. Kemampuannya sedang sampai kualitas tinggi. “Masing-masing memunyai kelas, ini hanya bahasa pasar,” kata Widnyana.
Point and shoot ada juga yang resolusinya sampai 12 MP. Prosumer dan point and shoot dapat ditambahkan bermacam-macam fitur seperti kamera profesional. Namun, lensanya tidak dapat diganti-ganti. Rentang harga tergantung dari teknologi MP dan fitur yang tersedia. Ada yang tahan cuaca, tahan air, bisa rekam video.

Kamera profesional atau dikenal dengan digital single lens reflex (DSLR) memiliki kontruksi badan yang kuat dan tahan cipratan air, karena kamera akan menghadapi berbagai medan kerja termasuk kondisi cuaca buruk. Biasanya dilengkapi dengan sederatan lensa yang dapat ditukar sesuai keperluan seperti pembidikan dekat atau menjangkau obyek jauh. Sangat berbeda dengan point in shoot atau prosumer. Point and shoot lebih simpel. Bagi pemula, dapat memilih kamera prosumer dengan harga DSLR standar, tergantung apa tujuannya. Ia menilai, kelemahan kamera point and shoot dan prosumer adalah setelah menjepret, kamera memerlukan waktu menyimpan data. “Kita tidak dapat menjepret lagi. Harus menunggu. Sedangkan DSLR mampu melakukannya dengan cepat,” jelasnya. Ia menyarankan, sebelum memotret kita harus mengetahui apa tujuan kita. Apakah untuk jurnalistik, hobi, atau profesional untuk pekerjaan. Sehingga dapat dipilih kamera yang sesuai dengan fungsinya.

Pengarsipan dengan Foto
Sebelum ada sistem windows, olah foto dilakukan di studio foto. Ada yang namanya kamar gelap. “Kalau sekarang diolah di komputer. Semua dapat melakukannya. Mau dihitamputihkan, sephia, atau lebih kontras, semua proses dapat dilakukan di komputer,” jelasnya. Dalam kamera digital profesional DSLR, sudah dilengkapi dengan prosesor yang mampu mengolah gambar lebih tajam, teliti, dan lebih detail. Jadi wajar harganya lebih tinggi.
Dengan kamera digital, seni fotografi menjadi lebih mudah. Kamera digital sudah ditambahkan fitur pencatatan. Jadi sudah ada kode di kamera kapan foto itu dibuat. Ada juga kata kunci sehingga memudahkan pengarsipan. Dengan teknologi digital, kata Wiadnyana, semua sangat membantu, termasuk pengarsipan.
Ia menyarankan, sebaiknya semua data hasil kamera analog digitalkan. “Film analog terkena jamur warnanya akan berubah menjadi kuning dan rusak. Hasil cetakan (slide foto) yang disimpan lama jika lembab juga bisa rusak. Jadi sebaiknya, foto discan dan disimpan di komputer diberi kode agar dokumentasi tertata rapi,” saran Wiadnyana.
Ia menilai, ke depan, fotografi akan terus berkembang. Dari segi teknologi komunikasi akan ada penambahan berbagai varian dalam kamera digital. “Olahan gambar tidak berbeda jauh. Sudah maksimal tapi akan ada varian baru. Digital kamera diserta video. Videonya sudah ke tingkat lebih tinggi. Tidak lagi format normal tapi high definition. Pengembangan camcoder (camera recorder) yang dibenamkan style teknologi fotografi seperti bagaimana kecepatan kameranya, kemampuan kamera menangkap gambar dan kualitas gambar. Kalau dulu hanya permainan picture untuk mengangkat harga,” ujarnya.

Tren ini sudah dilirik perusahaan kamera. Apalagi sekarang ini sudah ada telepon genggam yang dilengkapi dengan kamera 5 MP dengan flash dan zoom yang tinggi. Kamera digital pasti akan menawarkan varian lain dengan harga menarik. Harapannya, kata Wiadnyana, tren ini dapat diserap masyarakat dengan harga yang terjangkau. Tujuan akhirnya, karena sebagian besar masyarakat sudah mengabadikan kesehariannya, diharapkan budaya akan terdokumentasi dengan baik. “Sekarang ini sulit mencari dokumentasi upacara-upacara adat di Bali zaman dulu,” ujarnya. Jika kita bandingkan cara orang zaman dulu mencatat peristiwa dengan lirik lagu atau sastra. Sekarang ini foto dapat bercerita banyak, tidak sekadar tulisan saja. Foto mampu mengungkapkan berbagai peristiwa manusia.

Untuk saat ini, ia menilai, kecenderungan masyarakat menyukai dokumentasi pribadi. Kamera yang diminati point in shoot. Profesional dokumenter, hobi, atau pekerjaan/mata pencaharian memilih kamera DSLR. Ia menilai, profesi fotografer cukup menjanjikan sekarang. Ditambah lagi, banyak masyarakat yang belum mampu mengambil kamera dalam keseharian mereka. Ini membutuhkan keahlian sehingga terjadi transaksi. Foto praweedding mulai laku keras. Ini membuka lapangan kerja. Satu sisi masyarakat memcatat keseharian mereka lebih akurat dan dokumenter terorganisir dengan baik.

Hal senada diungkapkan Pemilik Sinar Foto Mulyadi. Ia mengatakan, tiga tahun terakhir ini terjadi peningkatan penjualan kamera digital. Masyarakat mulai melirik kamera profesional DSLR. “Sekarang ini tua muda, laki-laki atau perempuan, anak-anak dan orang dewasa mulai menyukai fotografi,” ujarnya. Dengan harga miring berkisar Rp 5 juta, pencinta fotografi sudah dapat memiliki DSLR. Jika ingin menambah lensa, kita mesti merogok kocek lagi Rp 2 juta. Namun, bagi yang berkantung tipis, kamera pocket berkisar 1-2 jutaan dapat menjadi pilihan. Wiadnyana mengatakan dengan Rp 5 juta, kalau kita membeli kamera prosumer sudah mendapatkan kamera yang lengkap dan baik. Sudah ada video, resolusinya sampai 12 MP, (20 x optical zoom), dan LCD sudah bagus.

Tren Prawedding
Peluang usaha tren foto prawedding dimanfaatkan dengan baik oleh Benny Aditama. Suami Sagung Mas Yulia Kartika ini, memulai usahanya ketika melihat banyak permintaan rias pengantin Bali ke salon istrinya. Dari mulut ke mulut akhirnya, pemilik Natural Klasik Photo & Video ini mulai dikenal. Berbagai kalangan telah memafaatkan jasanya. Dengan konsep one stop wedding service, Benny dan istrinya melayani mulai dari rias pengantin, foto, video, kartu undangan dan sovernir. Ia menjual harga paket prawedding. Namun, ia tidak menampik jika konsumen hanya ingin difoto. Saat ini, konsumennya lebih banyak meminta difoto dengan payas Bali. Dengan dandanan itu, ia biasanya memilih lokasi out door di Art Centre, Taman Ujung Karangasem, Museum Bali atau Bajra Sandi Renon.

Pakaian kasual ia memilih lokasi di Mangrove, Central Parkir Kuta, atau pantai Tegal Wangi Nusa Dua, Kebun Raya Bedugul, atau Kintamani. “Tergantung permintaan konsumen,” ujarnya.
Ia mengatakan, beberapa tempat mengenakan tarif untuk pemotretan prawedding. Tarif di Art Centre Rp 150.000, Manggrove Rp 50.000, Kebun Raya Bedugul Rp 500.000, dan Taman Ujung Rp 300.000. Selain calon pengantin, Benny mengajak fotografer, lighting, dan penata rias. Satu kelebihan yang ditawarkan Benny adalah ia menyediakan wedding book khusus didesain sendiri. Ia juga menyediakan bingkat foto dari kayu yang eksklusif yakni spesial frame jati natural bermotif. –ast

Eidi 577, 31 Januari ad. 6 Februari 2010

Kamis, 11 Juni 2009

Nyoman Sujana Kenyem

Instalasi dan Bhakti Pring

BAMBU jualah yang mengembalikan perupa Nyoman Sujana Kenyem ke pangkuan almamater. Hal itu terjadi beberapa waktu lalu saat musim tugas akhir ujian sarjana di ISI Denpasar. Kenyem memboyong instalasi bambu ke atas panggung Natya Mandala di kampus seni itu. Kenyem memang tidak sedang mengikuti ujian, karena dia telah lulus STSI Denpasar (sebelum menjadi ISI) pada 1998 silam. Kenyem memberi dukungan kepada temannya yang kebetulan berasal dari desanya. ”Saya mendukung kawan, I Kadek Sudiasa, kebetulan kita sama-sama terinspirasi bambu dalam berkarya,” kata Kenyem di studionya di Banjar Kutuh, Sayan, Ubud.

Sudiasa membawakan karya kerawitan berjudul Bhakti Pring yang menggambarkan betapa penting peran bambu di tengah kehidupan manusia. Pohon bambu dari akar hingga ujung dapat dimanfaatkan untuk berbagai ritus dan aktivitas serta mampu hadir dalam konteks ruang dan waktu yang memaknai berbagai sendi kehidupan.

Karena kecocokan visi dalam memandang alam, terutama bambu, sebagai sumber inspirasi, Kenyem bersedia menjadi penata instalasi. Sajian nomor garapan Sudiasa di atas panggung malam itu terasa mengalun lembut, kemudian meninggi dan beberapa saat kemudian menghentak rancak. Suasana panggung terasa hidup dengan kehadiran instalasi bambu Kenyem, dilengkapi daun-daun bambu kering yang berserak memenuhi lantai.
Selain Kenyem, ikut mendukung karya seni kerawitan ini Sanggar Tabuh Manik Sekecap, Banjar Kutuh, Sayan, Ubud, Gianyar. Kegotongroyongan warga banjar yang mendukung para seniman merupakan gambaran terjaganya iklim kesenian di desa itu. Apalagi, rumpun-rumpun bambu yang tetap dirawat ikut menjaga kelangsungan kebutuhan warga setempat. ”Penampilan ini juga untuk merayakan kesadaran warga desa yang ingin lingkungannya tetap terjaga, lestari, dan memberi energi kehidupan,” kata Kenyem.

Bambu memang menjadi bagian penting dari akivitas manusia hingga memasuki abad modern seperti sekarang. Konon bambu merupakan tanaman purba yang telah ada di bumi sejak 200.000 sebelum Masehi. Salah satu kegunaan bambu sebagai materi kerawitan tertulis dalam lontar Bharata Yuha yakni pring bumbang muni kanginan mangun luwung yang artinya bambu yang berlubang-lubang dapat berbunyi dengan indah karena ditiup angin. Sejak satu dasa warsa ini, Kenyem terus berkarya dengan eksperimen bambu yang diantara karyanya dipamerkan dalam pameran tunggal Heading for the Heart’s Way, di Gaya Fusion of Senses, Ubud (2006). Karya yang dipamerkan ketika itu berbeda dengan pameran tunggal pertama Kenyem, sepuluh tahun sebelumnya di Galeri Nakita Stockholm, Swedia (1996).

Indonesia termasuk banyak memiliki jenis bambu, yakni sekitar 39 bambu dari delapan marga. Sedangkan di dunia terdapat 1.250 jenis bambu yang berasal dari 75 marga. Untuk lebih menyelami soal bambu, dalam perjalanannya ke Malaysia, Thailand, dan terakhir China, Kenyem pun melakukan pengamatan lebih mendalam. Dari berbagai kawasan di negeri tirai bambu itu,. Kenyem melahirkan karya-karya mutakhir seperti digambarkan kritikus seni rupa Eddy Soetriyono: jutaan bambu berpusar melingkar. Mereka bergerak searah, atau berkelok menciptakan gelombang dan irama dinamis, bergesek-gesekan. Bisa Anda dengarkan: bagaimana bahana deritnya menciptakan simfoni semesta.

Seri bambu ini terus dikembangkan Kenyem. Dalam pengembaraanya ke negeri Cina, Kenyem ternyata juga menimba kearifan filosofi para seniman agung China. Maka Kenyem pun menggarap “serial lukisan empat musim” (cuen shia chiu tung) yang diberinya judul Lewati Empat Musim. Dalam karya ini, jelas Soetriyono, Kenyem melukiskan bahwa bambu sebagai bagian dari han tung san yu (tiga serangkai tumbuhan yang tetap hidup meski di musim salju: bambu, cemara, dan bunga meihoa) adalah salah satu teman manusia dalam mengarungi kehidupan dengan berbagai tantangannya.
Soetriyono pun mempertanyakan bagaimana kiranya wajah kebudayaan dunia, baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan seni (seni arsitektur, seni rupa, seni musik, bahkan seni kuliner) tanpa kehadiran bambu? Jawabnya adalah seperti renungan dalam benak kita tentang hidup dan kehidupan. -ast

sudah dimuat di Koran Tokoh, Edisi 543

Sabtu, 07 Maret 2009

Lulusan Bermutu dengan Soft Skill

DUNIA industri tidak hanya memerlukan lulusan perguruan tinggi memiliki IP tinggi. Saat ini dunia kerja memerlukan lulusan yang memiliki jiwa kepemimpinan, mampu berdiskusi dan berkomunikasi, kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim serta komitmen yang kuat atas pekerjaannya. Dunia industri memerlukan pekerja yang memiliki ketangguhan menghadapi berbagai keadaan, baik menyenangkan maupun yang sulit di tempat kerjanya.

Penelitian National Association for Able Children in Education (NACE) menyatakan “Keberhasilan seseorang dalam tugas dan pekerjaannya ditentukan oleh kecakapan soft skill sebanyak 82 % dan hanya 18% dari kecakapan hard skill.”

Ir. I Putu Astawa, Pembantu Direktur III Politeknik Negeri Bali (PNB) mengatakan sebagian besar mahasiswa yang tidak pernah mengikuti organisasi sangat lemah dalam soft skill. “Kita bisa melihat lulusan yang tidak memiliki nilai cukup tinggi justru mampu bertahan di pekerjaannya, jika soft skill-nya terasah. Mereka umumnya memiliki kemampuan lebih dalam berkomunikasi dan mampu mengelola stres,” ujar lelaki asal Sesetan ini.

Soft skill bukan hapalan melainkan dipraktikkan oleh individu yang belajar dan ingin mengembangkannya.
“Soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Soft skill ini meliputi nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap,” ujarnya.
Berdasarkan penelitian di negara-negara maju, ada 23 atribut soft skill yang dominan di lapangan kerja meliputi inisiatif, etika, berpikir kritis, kemauan belajar, komitmen, motivasi, bersemangat, dapat diandalkan, komunikasi lisan, kreatif, kemampuan analitis, manajemen diri, menyelesikan persoalan, dapat meringkas, cooperative, flexible, kerja sama dalam tim, mandiri, mendengarkan, tangguh, berargumentasi logis, manajemen waktu.

Menurutnya pengembangan soft skill di perguruan tinggi dapat dilakukan melalui kegiatan proses pembelajaran dan kegiatan ektrakulikuler mahasiswa. Dalam kegiatan ektrakulikuler mahasiswa dilatih mengembangkan semua atribut soft skill tersebut.

“Saat pemain bertanding acapkali pembimbing kegiatan senantiasa berpusat pada teknik bagaimana memenangkan pertandingan yang akan dilakukan. Mereka sering melupakan sesuatu sangat penting seperti sportifitas, keberanian untuk kalah dan memang serta semangat juang yang menbara. Seringkali terjadi, dalam teknik permainan mereka mampu, namun, ketika kekalahan terjadi bukannya intropeksi diri. Malah sering menyalahkan cara kerja wasit atau mengatakan kecurangan dilakukan lawan. Hal demikian yang akan banyak digali dalam kegiatan kemahasiswaan,” ujarnya.

Putu Astawa mengatakan pendidikan bukan sekadar kumpulan orang-orang pintar. “Pendidikan adalah proses merubah orang dari tidak bisa menjadi bisa. Untuk mendapatkan manusia yang kapabilitas merupakan perpaduan karakter dan kompetensi. Dalam bidang kegiatan kemahasiswaan mereka mendapatkan penalaran dan keilmuan, pengembangan bakat dan minat, kesejahteraan mahasiswa dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Ia menyebutkan ada 4 olahan yang dikembangkan dalam kegiatan kemahasiswaan yakni olah pikir, olah raga, olah hati, dan olah rasa. Dengan hal itu, kata Putu Astawa, dalam diri mahasiswa akan timbul rasa ikut memiliki, ikut bertanggung jawab dan ikut berpartisipasi.

Direktur PNB Ir. Putu Dana Pariawan, Salain, M.Sc.,MHIT menambahkan untuk membentuk generasi muda yang tangguh tidak cukup dibekali dengan kompetensinya saja, mahasiswa harus dibekali dengan suatu kemampuan soft skill yang sulit didapatkan di bangku perkuliahan formal. Keterampilan ini dikembangkan melalui kegiatan kemahasiswaan.

“Melalui kegiatan organisasi maupun aktif secara langsung, akan terbentuk jiwa team work, menjaga etika, disiplin, mampu mengontrol emosi, sehingga mereka tidak masuk dalam pergaulan negatif seperti narkoba. Intinya kegiatan kemahasiswaan memberikan sebuah ruang untuk mereka melakukan kompensasi positif,” ujarnya.

Untuk itu, dibuatlah aturan yang jelas. Kegiatan ekstrakurikuler dimasukkan dalam Pedoman Pendidikan PNB dalam Bab VII Pasal 29 dan 30. “Satuan kredit kegiatan mahasiswa (SKKM) adalah nilai kredit poin terhadap kegiatan mahasiswa selama menempuh pendidikan di PNB. Mahasiswa wajib memenuhi sejumlah SKKM sebagai syarat keikutsertaan wisuda sesuai dengan aturan,” ujarnya. Dalam ketentuannya setiap mahasiswa yang menamatkan pendidikan di PNB wajib memiliki minimal 16 poin untuk D-3, dan minimal 20 poin D-4. Setiap semester mahasiswa menerima raport kredit poin yang ditandatangani Pembantu Direktur III.

Ada metode dan tata cara prosedur pelaksanaan SKKM. “Pemberian raport hanya sebagai simbul saja. Dengan mengikuti kegiatan soft skill yang terasah , lulusan PNB mampu menopang kompetensi riilnya sehingga seimbang dan menjadikannya unggul di dunia kerja dan di masyarakat,” papar Dana Pariawan.
Saat ini PNB mengembangkan 16 ektrakulikuler yakni unit kegiatan mahasiswa (UKM) bola voli, UKM bola basket, UKM sepak bola, UKM tennis meja, UKM perisai diri, UKM catur, UKM bulu tangkis, UKM mapala, UKM gambelan, UKM tari, UKM kesenian nasional, UKM bahasa Jepang, UKM english club, UKM jurnalistik, UKM komputer.

Selain UKM, PNB memiliki 6 Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yakni HMJ Pariwisata, HMJ Administrasi Niaga, HMJ Akutansi, HMJ Teknik Mesin, HMJ Teknik Sipil, HMJ Teknik Elektro. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM ) dan MPM Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM). 75 kegiatan kemahasiswaan dijadwalkan untuk program tahun 2009.

Menurutnya pengembangan sistem SKKM di PNB merupakan pilot project Politeknik di Indonesia. Beberapa Politeknik telah melakukan studi banding penerapan SKKM diantaranya Politeknik Jember, Politeknik Malang, dan Politeknik Jakarta. Tahun 2009 Politeknik Jember segera mengadopsi sistem program SKKM untuk diterapkan disusul beberapa politeknik lain.

Ia menilai dengan semakin banyaknya kampus yang mengadopsi sistem ini, evaluasi menyeluruh dapat dilakukan untuk memantau keberhasilannya. Ia berharap penerapan sistem SKKM ini dapat menjadi contoh bagi universitas lain di Indonesia. Tahun 2009 PNB cukup berbangga karena pemerintah menaruh perhatian besar dengan menganggarkan dana untuk kegiatan kemahasiswaan. –ast

Sabtu, 04 Oktober 2008

Nidji at Surfer Girl Big Splash 2008


Asyik, dan keren banget acara yang digelar surfer girl Sabtu dan minggu 4-5 Oktober 2008. Selain ada kontes surfer khusus cewek, ada bintang tamu khusus yang didatangkan untuk menghibur penonton di Pantai Kuta yakni Nidji.
Sebelumnya Sabtu, Surfer girl mengundang para media untuk jumpa pers dengan Nidji di Hard Rock Cafe Bali. Pokoknya ga nyesel deh .... karena yg bakal datang surfer girl seluruh dunia .. keren kan.......pasti seru banget. Nonton dulu ah......


Sabtu, 28 Juni 2008

Aksi Mahasiswa Asing

Woi...... keren banget penampilan mahasiswa dari School of Music University Of Illionis Nevada Urbana Amerika Serikat saat pagelaran international dance and music di Bali Art Festival - Pesta Kesenian Bali XXX di Gedung Ksirarnawa Art Centre Taman Budaya Denpasar, Jumat 20 Juni 2008. Ini tari Sekar Taman yang ditarikan dua mahasiswa asing dan dua mahasiswa Indonesia. Si bule cantik banget lho.......
Nah ini dia , .......sekeha gambelannya juga para bule. Woih...... cewek ini jadi primadona. Sebelahnya mahasiswa asal Jepang.
Ini juga mahasiswa asal Jepang