Tampilkan postingan dengan label orang tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang tua. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 November 2010

Jangan pernah Katakan "Anak ‘Goblok"

Pendidikan usia dini menjadi hal utama dan penting dalam pendidikan anak. Orangtua merupakan pendidik utama yang memegang peranan penting mengantarkan kesuksesan anak. Ironisnya, tak banyak orangtua yang memberikan pendidikan usia dini yang baik kepada putra-putrinya. Bahkan, ketika mereka besar dan tidak mampu menjadi anak seperti yang mereka inginkan, celaan tak urung mereka lakukan. Ini kesalahan fatal. Demikian ditegaskan praktisi pendidikan Gidion Hidarto.

Ayah Dominic Brian seorang anak Indonesia pemecah rekor dunia ini mengungkapkan pengalaman masa kecilnya.Ia mengaku akses untuk melakukan perlawanan dan penolakan terhadap kemauan keras orangtua tidak didapatkan. Ia berasal dari keluarga keturunan Tionghoa, bertempat tinggal di desa, yang dididik keras dan disiplin, harus menuruti semua kemauan orangtuanya. Gidion mengaku, tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan ayahnya.

Ketika tamat SMA, ia tidak diterima di ITS. Ia diharuskan kuliah ke Amerika Serikat. Ia tidak punya kekuasaan untuk menolak perintah orangtuanya sampai ia menyelesaikan pendidikan S-2 di sana. Setelah dewasa, ia menikah dan memiliki anak yang bernama Dominic Brian. Ia mencoba mengembangkan konsep baru dalam mendidik putra tunggalnya itu. Ia tidak ingin mengulang kesalahan orangtuanya, yang memaksakan kehendaknya kepada dirinya.
Tak tanggung-tanggung, sejak Brian dalam kandungan, ia sudah diajarkan menjadi anak yang berkarakter. “Saya tidak mau mengulang kesalahan orangtua. Saya diajari tidak bisa mengambil keputusan. Saya tumbuh dan besar tanpa menjadi diri saya sendiri,” tuturnya.

Setelah Gidion terjun sebagai pengajar tahun 2002 dan membuka kursus, ia mulai menyelami dunia anak-anak dengan baik. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, pikirnya.
“Saya biarkan Brian bereksperimen. Saya biarkan ia mencoret tembok, bahkan mencoret mobil. Menggambar daun dengan warna merah, atau warna apa saja terserah dia. Saya bebaskan dia menjadi dirinya sendiri. Saat dia bermain bola, dan jatuh di rumput, saya biarkan. Dia akan banyak belajar dari pengalamannya itu,” kata Gidion tentang kiatnya mendidik Brian.

Saat usianya satu tahun, Brian diajari kata-kata dengan menunjukkan dan membacakannya. Tiap malam istrinya, Debora, membacakan buku sebelum ia tidur. Ketika usia tiga tahun, Gidion terkaget-kaget, karena Brian sudah mampu membaca dan menunjukkan kepiawaiannya membaca di depannya. Sejak itu, Gidion rajin mengajak Brian ke Gramedia untuk membeli apa pun buku yang ia suka. Usia 5 tahun Brian sudah mahir membaca koran.
Gidion menuturkan, buku Brian semuanya dalam bahasa Inggris. Saat usianya tiga tahun, Brian sangat lancar berbahasa Inggris. Semua itu dipelajari Brian, karena tiap malam ia selalu mendengar ibunya membacakan cerita dalam bahasa Inggris untuknya. Brian tumbuh dalam dua bahasa tanpa stres.
Ada orangtua yang protes. Anak diajari matematika atau bahasa Inggris sejak kecil bisa stres. Gidion berpandangan, yang membuat anak menjadi stres karena cara pengajarannya yang salah. Kurang pendekatan orangtua dengan anak. “Kalau orangtua dekat dengan anak potensinya mudah dikenali. Kalau waktu kecil anak suka memotong sayur, suka masak, besarnya nanti mungkin bisa menjadi koki terkenal. Dengan pendekatan seperti itu, orangtua mampu mengenali potensi anak dengan baik,” paparnya.

Fungsi orangtua diibaratkan pemantik korek api. Potensi anak tidak terbendung. Orangtua sebagai sumber ispirasi dengan melakukan hal kecil. Seperti yang ia lakukan. Hanya dengan membacakan buku tiap malam, Brian mahir membaca tanpa harus diajari huruf demi huruf. Anak akan bisa membaca tanpa disadari.
Ia menyayangkan sikap orangtua yang sering menghardik anak dengan kalimat yang kurang mengenakkan. Melihat anaknya suka musik, langsung berkata, ’jika besar nanti kamu mau jadi tukang ngamen’.
Kalau itu diucapkan orang lain, mungkin anak tidak peduli. Namun, ketika kalimat itu dilontarkan bapaknya akan membuat mental anak menjadi drop.

Ia menilai, anak merupakan titipan Tuhan. Tuhan yang mengetahui, apa yang menjadi panggilan jiwa anak itu. Kalau orangtua memberi kebebasan mengekspresikan dirinya, ia akan menjadi anak yang berkarakter.
Gidion mengatakan, ia selalu menekankan kepada Brian, sahabat terbaik adalah orangtuanya.
Dengan dekat kepada anak, para orangtua akan tahu seberapa besar keinginan anak, seberapa besar ketakutan anak, dan mengerti kebutuhan anak. Tiap hari, ia selalu mengucapkan kalimat “I love you” untuk Brian.

’Home Schooling’
Ketika Brian kelas VI, ia mengambil suatu keputusan besar. Ia tidak ingin masuk ke sekolah normal. Brian ikut home schooling alias belajar di rumah. Hanya Gidion dan istrinya, Debora, yang mengajar Brian. Tidak ada guru yang dipanggil. Tidak ada rapor. Kelas bisa di kamar, supermarket, atau di bioskop.
Bagaimana kita melihat kehidupan, ada panggilan jiwa yang diajarkan. Rumah adalah tempat yang terbaik. Guru yang terbaik adalah para orangtua. Menurut Gidion ia memberi anaknya kebebasan dari awal. Pilihan pasti ada konsekuensinya. “Saya ajarkan Brian untuk mengambil keputusan sendiri. Saya belum pernah mengatakan ’kamu goblok’, atau ’kamu tidak bisa diatur’. Kadang Brian juga lupa, dan teledor. Tetapi, saya menganggap dia orang yang harus dihargai. Bukan diberi kata-kata kasar seperti itu,” ujar Gidion.

Ketika ia memutuskan untuk home schooling, Brian sudah memikirkan matang-matang. Walaupun Brian home schooling bukan berarti ia tidak bersosialisasi dengan teman-temannya. Brian biasa menjadi pembicara dalam seminar, ia suka berenang, main musik, temannya banyak di facebook, ia ikut komunitas di gereja. Banyak hal dilakukan Brian sama seperti anak lainnya.
Prestasi Brian memang membuat decak kagum banyak orang. Brian mendapatkan penghargaan Muri tahun 2002 dalam usia 5 tahun karena mampu mengingat 100 angka dalam waktu 12 menit. Tahun 2009, Brian kembali mendapatkan rekor Muri. Tak berselang lama, Brian memecahkan rekor dunia (guinness world record) mengingat angka terbanyak. Tahun 2010, kembali prestasi spektakuler diraihnya. Rekor dunia mengingat angka terbanyak 216 dalam waktu satu menit mengalahkan pemegang rekor dunia yang lama, Nischal Narayanan dari India yang hanya mampu mengingat 132 angka.

Gidion menolak jika dirinya dikatakan mengekpoitasi anak. Tiap anak punya potensi yang terpendam. Einstein yang autis hanya menggunakan kemampuan otaknya sekitar 8%, apalagi anak normal tentu potensinya lebih besar. Selama anak diajari menjadi pribadi yang bertanggung jawab, ia akan mampu tumbuh secara optimal.
Ia berpandangan, para orangtua tidak bisa mengatakan, anak tidak boleh main internet. Orangtua cukup memberi bekal kedewasaan dan kebijaksanaan kepada anak. Godaan tidak bisa dicegah. Namun, dengan bekal yang cukup dalam usia dini, itu akan menancap di otaknya dengan baik.
Apalagi, kata dia, itu dilakukan sejak bayi dalam kandungan. Pendidikan Brian sudah disiapkan dengan baik mulai dalam kandungan. Saat ia berusia satu bulan saya bahas karakter kejujuran. Bulan berikutnya saya bahas karakter baik lainnya. Saya rasa itu sangat berpengaruh dan bermanfaat bagi Brian.

Kuliah karena Pacar
Gidion mengaku tergelitik, saat mengikuti seminar Andy Noya pemandu Kick Andy di Metro TV di kampus Unud. Ketika ditanya, apa alasan para mahasiswa kuliah di sana, sebagian menjawab karena ajakan teman, bahkan karena pacar, dan mengikuti keinginan orangtua.
Kalau kita telusuri, kata Gidion, kesalahan memilih sekolah berasal dari kesalahan sebelumnya. Kesalahan waktu SMA, SMP, SD, TK bahkan sebelumnya. Anak tidak mampu menentukan pilihannya sendiri, sesuai dengan panggilan jiwa mereka. Ia menilai, pendidikan usia dini yang harus dibenahi agar harapan orangtua untuk mendapatkan anak yang berkarakter dapat tercapai.

Ia mengaku, terinspirasi dengan dua orang penyandang cacat Aceng dan Stephani yang ditampilkan dalam acara Kick Andy. Aceng tidak punya tangan, bisa SMS-an, bisa main gitar, menikah pula. Stephani cacat mental. IQ tidak sampai 90. Namun, ia mampu mewakili Indonesia dalam kejuaraan renang di Yunani. Ironisnya, angka bunuh diri di Indonesia tinggi, padahal seorang Aceng dan Stephani mampu menjadi motivator bagi banyak orang. Sementara, bagi orang yang terlahir normal, mereka tidak mampu menghadapi persoalan dalam hidupnya.

Ia berencana membuat buku tahun depan yang menuturkan bagaimana perjalanan Brian dalam meraih kesuksesan. Buku dengan judul “Panggilan Jiwa” ini rencananya akan dihiasi kata pembuka dari Presiden SBY dan Gubernur Bali. –ast.

Tokoh, Edisi 620, 28 Nov s.d 4 Desember 2010

Minggu, 07 Februari 2010

Penuaan bisa Dihambat

Semua orang pasti menjadi tua. Namun, jangan pasrah menunggu tua. Proses penuaan dapat dicegah, bahkan dihambat. Ilmu mencegah penuaan kini dapat dipelajari di Program Studi (PS) Magister Kekhususan Anti Aging Medicine Program Pascasarjana Unud. Unud menjadi kampus yang pertama di dunia membuka PS ini.

Ketua Pusat Studi Anti Aging Medicine FK Unud Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS. mengungkapkan, banyak orang menyamakan anti aging dengan kosmetik. “Anti aging bukan kosmetik tapi kalau di dalamnya ada sisi estetika itu memang benar tapi hanya sebagian kecil saja,” ujarnya.

Ia mengatakan, banyak orang menyelewengkan arti anti aging ini. Salon mengiklankan diri seolah-olah mampu melakukan anti aging padahal anti aging bukan kosmetik. “Anti aging medicine adalah satu cabang ilmu kedokteran yang intinya menekankan pada pencegahan, pengobatan, dan pengembalian keadaan semula dari semua gangguan karena proses penuaan. Tujuannya untuk memperpanjang hidup dan tetap dalam keadaan sehat,” ujar Guru Besar Bagian Andrologi dan Seksologi FK Unud ini.

Konsep dan definisi asli Anti Aging Medicine diperkenalkan pertama kali pada tahun 1993 oleh American Academy of Anti Aging Medicine (A4M) yang diketuai Dr Robert Goldman, MD, PhD. Sejak itu banyak ilmuwan dari berbagai negara menaruh perhatian pada istilah baru ini. Walaupun istilah anti aging mengundang kontroversi, tetapi banyak data ilmiah menunjukkan bahwa proses penuaan dapat diperlambat, ditunda, bahkan dibalikkan, sehingga rentang usia dapat diperpanjang. “Kalau itu dapat dilakukan di Indonesia usia harapan hidup (UHH) orang Indonesia makin panjang. Kenyataan sekarang UHH orang Indonesia rendah yakni 66,7 tahun. Dibandingkan dengan Malaysia usia harapan hidupnya 70 tahun, Hongkong 80 tahun, Jepang, Eropa, dan Amerika 90 tahun,” paparnya lebih jauh.

Artinya, ketika anti aging medicine sudah diterapkan di Indonesia usia harapan hidup orang Indonesia meningkat. Kualitas hidupnya meningkat, berdampak pada produktivitas kerja makin baik dan bermanfaat bagi bangsa.
Kapan ini diterapkan? “Jangan menunggu sampai mengalami penuaan. Biasanya orang mengalami penuaan usia 30 tahun. Terjadi penurunan berbagai hormon di dalam tubuh. Lakukan prinsip anti aging medicine menjelang usia 30 tahun,” ujar salah seorang pendiri Asosiasi Seksologi Indonesia.

Ia mengatakan, ada beberapa pilar anti aging medicine yakni olahraga teratur, diet yang terkontrol. Makan makanan yang bergizi dan seimbang. Jangan berlebihan atau kurang. Kontrol stres, mengonsumi suplemen, dan pengobatan hormon. Dengan menerapkan prinsip dan pengobatan anti aging kondisi seseorang bisa dikembalikan pada keadaan sebelumnya yakni pada usia 30 tahun.

Orang tua memiliki banyak penyakit karena terjadinya proses penuaan. Penurunan hormon dapat mengakibatkan memori mudah lupa, sulit tidur, sering mudah tersinggung, sering capek, sering lelah, pesimis, organ seks menurun, atau ereksi terganggu. Keadaan tubuh yang menurun karena penuaan dapat dikembalikan keadaan semula. Dengan prinsip anti aging medicine, penuaan dapat dicegah. Penyakit pun dapat dicegah.

Pengobatan dapat berupa teknik stemsel yakni dengan menyuntikkan sel muda ke dalam tubuh seseorang, dan sel itu berkembang membuat sel pada bagian tubuh yang rusak dapat tumbuh lagi. Tubuh akan kelihatan lebih muda lagi. Dapat juga dengan mengonsumsi pil dan suplemen hormon seperti antioksidan.
Sebagian besar pria berusia lanjut, bentuk tubuhnya berubah. Perutnya menjadi buncit. Ini disebabkan karena penurunan hormon testoteron. “Kalau diberi pengobatan hormon testoteron tubuhnya akan berubah lagi. Perut tidak buncit lagi. Selama obat diberikan secara benar dan dilakukan ahlinya tidak akan ada efek samping,” kata Prof. Wimpie.

Ia menyatakan, kalau prinsip anti aging medicine sudah diterapkan dan berhasil, usia tidak ada artinya lagi. Orang tidak mengenal usia lagi ( agelles). “Berapa pun usianya, fungsi tubuhnya masih muda dan berfungsi dengan baik. Penampilan luar berubah. Kulit menjadi kencang, halus dan tidak keriput lagi,” kata lelaki penerima outstanding Leadership Award dari the American Academy of Anti-Aging Medicine (A4M) ini.


Perhatikan Tiga Pola Sehat

Lakukan olah raga secara sistematis dan sesuai takaran. Olah raga yang terlalu diforsir memunculkan oksidan di dalam tubuh. Oksidan berlebihan menyebabkan tubuh menjadi rusak. Manfaat olah raga untuk mencapai kebugaran fisik. Demikian diungkapkan Ketua PS Magister Ergonomi Fisiologi Kerja FK Unud. Prof. dr. Ketut Tirtayasa MS, AIF.

Ia mengatakan, olah raga yang dikatakan benar, apabila mencapai kebugaran fisik. Kebugaran fisik adalah kemampuan tubuh melakukan tugasnya sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan berarti. Tubuh masih memiliki tenaga cadangan yang bersifat darurat, misalnya tiba-tiba ada gempa masih mampu melarikan diri. Kebugaran fisik artinya tahan bekerja dan tidak rentan terhadap penyakit.

Ia mengatakan, saat berolah raga kita harus mengukur detak jantung per menit. Tujuannya, agar olah raga yang dilakukan mencapai kebugaran fisik. Detak jantung per menit diukur dengan rumus intensitas olah raga yakni 60% - 80% x 220 (denyut nasi maksimal) dikurangi umur. Denyut jantung ini yang harus dicapai saat berolah raga. Contoh usia 40 tahun. Denyut jantung yang dicapai waktu berolah raga berkisar 108-144 per menit. “Jika kurang akan berpengaruh pada kebugaran. Jika berlebihan juga kurang baik kesehatan,” ujarnya.

Olah raga yang berlebihan, kata Prof. Tirtayasa, mengakibatkan kebutuhan oksigen dalam tubuh makin banyak. Tubuh menjadi kelelahan. Oksidan muncul terlalu banyak di dalam tubuh. Oksidan yang berlebihan malah mengakibatkan tubuh menjadi rusak sehingga tubuh perlu zat antioksidan. “Tubuh memiliki zat antioksidan di dalam yakni hormon endogen yang bersifat menetralisir oksidan. Antioksidan dari luar didapat dari suplemen atau bahan makanan yang mengandung antioksidan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan,” paparnya lebih jauh.

Ia menyarankan, usia 40 tahun ke atas harus berhati-hati memilih olah raga yang sesuai dengan kondisi tubuh. Olah raga yang baik adalah jalan, dan jogging. Berbeda dengan usia di bawah 40 tahun. Tubuh masih memiliki hormon endogen yang tinggi. “Olah raga yang baik adalah teratur dan sesuai takaran. Lakukan 3-5 kali seminggu. Tidak dilakukan berturut-turut atau jangan sampai libur dari dua hari. Artinya, kebugaran fisik tidak dapat disimpan. Ketika tubuh sudah tidak fit lagi, tubuh perlu olah raga untuk mempertahankan kebugaran,” ujarnya.

Untuk mencapai hidup sehat, kata Prof. Tirtayasa, ada tiga pola yang harus dilakukan yakni pola pikir, pola gerak, dan pola makan. “Pikiran seimbang tidak stres, makan yang memenuhi gizi, jumlahnya sesuai dan tidak berlebihan. Pola gerak dengan berolah raga yang teratur dan sistematis,” ujarnya.

Sediakan Sarana Kebugaran
Ia menyarankan, perusahaan sebaiknya menyediakan sarana olah raga bagi karyawannya. Tujuannya, membuat karyawan lebih bugar. Dengan kebugaran fisik, semangat kerja lebih tinggi dan produktivitas meningkat. Namun, pihak pengusaha sering mengabaikan hal itu. Mereka menganggap hanya menambah biaya. Padahal, dengan tersedianya sarana kebugaran tubuh di tempat kerja, karyawan menjadi lebih sehat. “Tidak ada gunanya olah raga hanya hari Jumat. Olah raga yang bermanfaat jika dilakukan teratur dan sesuai takaran,” kata Prof. Tirtayasa. –ast

Koran Tokoh, Edisi 578, 7 s.d 13 Februari 2010

Sabtu, 23 Mei 2009

Risiko PAP pada Lansia Tinggi

MENUA, suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan struktur serta fungsi normal tubuh. Akibatnya, mudah menderita penyakit. Salah satu penyakitnya, Penyakit Arteri Perifer (PAP) yang merupakan petanda adanya proses aterosklerosis sistemik.
Masalah ini dikupas dalam disertasi dr. R.A. Tuty Kuswardhani, Sp.Pd. K.Ger lewat kajian terhadap risiko terjadinya penyakit arteri perifer pada penderita diabetes melitus tipe 2 lanjut usia, dalam ujian doktornya yang berlangsung terbuka di Gedung Program Pascasarjana Unud, Jumat (8/5).

Menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 dan WHO, yang disebut lansia mereka yang berusia 60 tahun ke atas. Diproyeksikan penduduk lansia di Indonesia tahun 2010 sebanyak 23.992.552 jiwa. Berdasarkan data US Bureau of Census tahun 1990 hingga 2020 jumlah penduduk lansia di Indonesia mengalami pertambahan 414%. Berdasarkan BPS 2005 ditengarai Indonesia menjadi negara keempat terbesar yang memiliki penduduk lansia setelah Cina, India, dan AS. Menua berasosiasi dengan peningkatan risiko terjadinya PAP terutama dimulai usia 40 tahun. Kejadian PAP sangat tinggi terjadi di kalangan perempuan berusia lebih dari 70 tahun.
PAP merupakan pertanda adanya proses aterosklerosis sistemik. Perkembangan aterosklerosis pada PAP sama halnya aterosklerosis koroner. Perkembangannya sangat dipengaruhi banyak faktor seperti penyakit jantung koroner klasik atau faktor tradisional seperti hiperkolesterolemia, hipertensi, riwayat diabetes melitus dan kebiasaan merokok. Beberapa peneliti menemukan proporsi PAP pada diabetes sekitar 16-30%.

Salah seorang penguji yang juga promotornya, Prof. Dr. dr. Wayan Wita, menanyakan mengapa faktor risiko baru diteliti pada usia lanjut. Mengapa bukan pada usia awal sehingga dapat dilakukan pencegahan.
Dokter Tuty mengungkapkan, melakukan penelitian ini pada lansia karena tolok ukur kesejahteraan bangsa bisa dilihat dari tingginya usia harapan hidup penduduk. Pencegahan tidak saja dilakukan pada awal tetapi saat memasuki lansia banyak faktor yang harus dihindari untuk mencegah PAP.
Prof. Dr. dr. Alex Pangkahila menanyakan langkah apa yang harus dilakukan sejak dini sehingga penyakit ini dapat dicegah. Dokter Tuty menjelaskan, pencegahan dilakukan dengan pemberian komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tepat. Tidak bisa mereduksi perpanjangan usia. “Selagi muda melakukan usaha yang sehat jasmani dan rohani, psikologis dan mental agar tidak menjadi beban setelah lansia, sehingga penuaan bisa diperlambat. Begitu banyak faktor penyebab penyakit lansia.

Dalam mengajukan bertanya, Prof. Adi Putra sempat berseloroh, apa tidak sebaiknya istilah ’lansia’ (lanjut usia) diganti dengan ’sialan’ (usia lanjut).
Dokter Tuty mengatakan umur tua tidak bisa dihindari. Mereduksi usia tidak mungkin. Yang perlu dilakukan menghindari faktor risiko sejak dini seperti menjaga keseimbangan berat badan ideal,” ujar istri Dekan FK Unud Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD. KEMD ini.
Menurutnya istilah ’lansia’ sudah dibakukan. Jadi tidak usah diganti menjadi ’sialan’. “Lansia rumah masa depan kita dan semua orang akan memasuki usai tua,” ujarnya.
Prof. Czeresna Heriawan menanyakan apa manfaat penelitian ini? Dokter Tuty yang adalah Kepala Divisi Geriatri SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unud/RS Sanglah menilai hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan memberikan KIE kepada masyarakat. “Kondisi lansia harus diantisipasi. Faktor risiko harus dihindari .Faktor risiko baru dikurangi,” paparnya.

Dalam pertanyaannya, Prof. Budi mengungkapkan lansia menderita banyak penyakit sehingga perlu diberi obat-obatan. Apa strategi yang dilakukan agar obat tidak memberi efek samping bagi lansia. Menurut dr. Tuty, keadaan fisik orang muda dengan orang tua berbeda. Respons lansia sangat lemah apalagi sampai minum obat lebih dari 5 butir. “Strategi yang dilakukan dalam pemberian obat adalah tepat indikasi, dan tepat dosis. Satu golongan obat diusahakan untuk dua jenis penyakit,” kata Juara II Nasional dalam Temu Ilmiah Nasional I dan Konferensi Kerja III di Semarang Tahun 2003 ini. Sebenarnya, katanya, pemberian obat diperlukan untuk kasus tertentu atau berat. Pada kasus nyeri dapat dilakukan akupuntur, akupresur atau hypnoterapi. Mengobati lansia bukan hanya mempertimbangkan faktor fisik tetapi juga psikologisnya.

Prof. Dewa Wijana menilai penderita PAP cukup tinggi. Apa yang bisa disarankan untuk menghindari PAP? Menurut dr. Tuty usai harapan hidup Indonesia tahun 2010 yakni 71,4 tahun untuk perempuan dan 73,6 tahun untuk laki-laki. Untuk menghindari PAP, KIE dilakukan sewaktu muda.
Prof. Sutirkayasa menanyakan apa perbedaan pemberian antiaging pada usia tua atau muda? Dokter Tuty menjelaskan, proses penuaan itu terjadi justru ketika hidup itu ada. Menurutnya seharusnya antiaging diberikan saat masih janin. Namun, hal itu bisa menimbulkan efek samping. Untuk menghambat menjadi tua sudah ada rekomendasi WHO dengan kloning dan transpalasi sumsum tulang. Namun, katanya, siapa yang mau menjadi kloning tubuh mudanya untuk para lansia?

Dr. drh. Ida Bagus Komang Ardana menanyakan
tindakan apa yang dapat dilakukan penderita diabetes agar tidak menderita PAP? Menurut dr. Tuty penyebab diabetes adalah obesitas, gaya hidup, penggunaan glokosa yang banyak dan genetika. KIE harus terus dilakukan kepada pasien. “Bagi yang sudah mengidap diabetes 10 tahun bisa saja menginduksi PAP sehingga perlu dilakukan pemeriksaan akurat. Bagi penderita diabetes golongan usia di bawah 50 tahun dan sudah menderita diabetes 10 tahun perlu waspada, termasuk pasien stroke dan jantung koroner. Penderita diabetes sebaiknya melakukan regulasi gula darah 1 minggu 2 kali. Kuratif biasanya diberikan obat-obatan. Rehabilitasi PAP tergantung derajat penyakitnya apakah ringan atau sedang.

Tim penguji memutuskan dr. Tuty lulus dalam ujian disertasi doktro ini dengan predikat cumlaude. –ast

Senin, 20 April 2009

Pahami Remaja, Jadikan Mereka Teman

Ketidaktahuan tentang dirinya sering membuat remaja terperangkap KTD. Seks adalah untuk mendapatkan keturunan. Aborsi sudah ada sejak dulu. Aborsi atau dilanjutkan banyak yang menjadi pertimbangan. Bukan saja medis, tapi juga psikologis, sosial, mental, dan budaya. Korban aborsi yang tidak aman memberikan kontribusi yang sangat tinggi pada angka kematian ibu di Indonesia.

Pemegang kebijakan hendaknya juga memberi bantuan dari hulu sampai ke hilir. Mulai dari pendidikan sampai ketika masalah muncul harus ditanggulangi dengan baik. Kalau KTD dilanjutkan mereka harus tetap bisa sekolah, terutama penerimaan masyarakat jangan sampai dilecehkan. Ada UU yang mengatur berapa dendanya jika menghamili perempuan. Para orangtua pahami remaja, jadikan mereka teman. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5, Minggu (12/4). Topiknya ”Seks bebas, KTD, dan Aborsi”. Berikut petikannya.

Pendidikan Seks Sejak Dini
Kita tidak dapat mencegah KTD. Ini suatu fakta. Siapapun tidak ingin itu terjadi. Banyak yang menyetop kehamilan dengan cara berbahaya, minum obat atau pergi ke orang-orang yang tidak memunyai kompetensi. Masyarakat harus melihat realita yang terjadi. Agama juga hendaknya melindungi semua pihak. Agama tidak hanya menghukum atau mendiskriminasikan tapi juga hendaknya mengayomi. Bisa saja KTD dipelihara, namun, sesudah itu ada sesuatu yang mengayomi hak-hak si perempuan dan si anak. Dia bisa diterima di masyarakat, dan dapat melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Dari segi medis, anatomi dan fisiologis tubuh remaja belum sempurna menampung terjadinya kehamilan, misalnya kondisi rahim dan tulang panggulnya. Secara psikologis KTD mencekam jiwanya. Apa yang terjadi dengan masa depannya? Ini merupakan aib keluarga. Bukan hanya perempuan yang menderita tapi juga keluarga. Belum lagi persepsi buruk masyarakat. Belum lagi anak yang akan dilahirkan tidak mendapat keadilan. Anak ini disebut anak bebinjat yang terus merasakan penderitaan sampai keturunannya. Kecuali, masyarakat dapat menerima dengan baik. Ajaran agama selalu menyejukkan dan mendamaikan.

Aborsi bukan barang baru dan sudah ada sejak dulu. Tukang urut perut sudah ada sejak dulu. Relief candi Borobudur memuat gambar perempuan digugurkan. Aborsi bukan produk luar negeri, dan ini sudah ada di Indonesia. Seyogianyalah persepsi masyarakat diperluas. Ini masalah ancaman bagi si ibu. Dia sangat menderita dengan hal itu. Hendaknya kita lebih bijak melihat hal itu. Contohnya, ada gambar di koran dengan ukuran 2 x 3 polisi menggebuki mahasiswa. Dalam persepsi kita, polisi arogan dan ganas karena memegang pentung. Setelah foto itu diperlebar, ternyata mahasiswa tadi membawa celurit. Sekarang persepsi jadi berubah. Begitu juga cara pandang kita melihat masalah KTD ini. Apalagi anak itu korban pemerkosaan. Semua ajaran agama melarang aborsi. Tapi hal itu tetap terjadi.

Anak baru gede (ABG) lahir seperti airmata yang bening. Ketidaktahuan tentang dirinya sering membuat mereka terperangkap. Tidak tahu cara menolak rayuan sementara dari dalam tubuhnya sendiri muncul dorongan seks. Belum lagi pengaruh teknologi seperti televisi, video, dan handphone. Jadi pengetahuan seks ini harus dimulai dari hulunya. Pendekatan sesuai dengan umurnya. Dari segi medis, dampak aborsi tergantung dari umur kehamilannya, umur si janin, siapa yang menolong, kompetensi, dan bagaimana peralatan yang digunakan. Menurut pengalaman, ada KTD yang dialami anak usia 12 tahun. Harus ada konseling dalam menanganinya. Seluruh keluarganya ditanya. Bagaimana pertimbangannya, apalagi misalnya dia korban pemerkosaan. Karena itu, harus dikirim ke dokter ahli.

Sebelum memutuskan, apakah KTD dilanjutkan atau aborsi banyak hal yang menjadi pertimbangan. Bukan saja medis, tapi juga psikologis, sosial, mental, dan budaya. Kalau KTD dapat diteruskan bagus, tapi harus didukung situasi yang bisa menerima si perempuan dan si anak dengan cara yang netral. Menerima si perempuan dan tidak memojokkannya termasuk masalah warisan nantinya bagi si anak. Banyak hal yang diubah dalam adat. Dulu pasangan yang melahirkan manak salah diisolasi di kuburan. Tapi sekarang kita harus mempertimbangkan hak asasi manusia. Kembar buncing harus diterima.

KTD dilanjutkan ataupun aborsi tidak ada yang mengatakan legal. Tapi mari kita berpikir dari sisi lain. Dengan adanya UU antiaborsi perempuan tidak mempunyai akses. Keberhasilan KB di Indonesia sudah menjadi budaya. Ketika mempunyai anak 3 atau 4 masyarakat menjadi malu. Ketika pemerintah memberikan situasi bahwa dua anak cukup, laki-laki atau perempuan sama saja. Sangat tidak adil ketika KB gagal pemerintah tidak membantu. Akhirnya perempuan menjadi korban. Mereka ingin menggugurkan tapi tidak boleh. Akhirnya diam-diam. Mencari orang-orang yang tidak berkompeten akhirnya menimbulkan infeksi bahkan sampai menimbulkan kematian.

Korban aborsi yang tidak aman memberikan kontribusi yang sangat tinggi pada angka kematian ibu di Indonesia. Kematian ibu di Indonesia menduduki urutan paling tinggi di Asean dan menempati urutan ketiga di dunia. Ini sangat memalukan karena angka kematian ibu simbul kesejahteraan suatu bangsa. Singapura dan Malaysia sangat rendah karena KB diback up dengan aborsi aman. Berbicara masalah remaja, perlu diketahui dengan baik situasi remaja itu sendiri. Remaja sedang masa pertumbuhan, kematangan seksual bukan saja dilihat dari munculnya haid dan tumbuh bulu, tapi juga dibarengi dorongan seks yang tinggi. Belum lagi situasi dari luar. Misalnya, remaja kebingungan ketika malam-malam keluar sperma. Mereka tidak mengerti apakah ciuman dapat menyebabkan hamil. Melakukan hubungan seks sekali kok bisa hamil?

Pengetahuan seks sejak dini diharapkan dapat membuat remaja menghargai badannya dan memroteksinya. Kita tidak bisa menyetop informasi dan foto-foto yang berbau porno. Disini diperlukan peran keluarga agar mempunyai pendekatan yang sangat khusus pada remaja. Acapkali remaja ingin mengekpresikan dirinya dengan cara tidak lazim karena ketidaktahuannya, misalnya foto telanjang atau buah dadanya yang kelihatan dikirim ke teman-temannya. Dia ingin ekspresi dengan caranya sendiri. Mungkin dia tidak mendapatkan penghargaan dari orangtuanya.

Beberapa kiat yang perlu diperhatikan orangtua adalah pahami remaja, terima apa adanya, jangan terlalu banyak nasihat, hargai pendapatnya, dengarkan keluhannya. Jika memutuskan sesuatu mintalah pertimbangannya, jangan hanya menyalahkan. Remaja sering berpikir sing taen beneh. Orangtua jangan sok moralis. Buatlah rumah itu surga bagi mereka. Jika remaja mempunyai masalah dapat datang langsung ke PKBI Jalan Gatot Subroto IV/6, atau konsultasi lewat telepon KISARA (0361) 430200 atau PKBI (0361) 430214. Mereka akan diterima sangat bersahabat. Kisara telah melatih banyak siswa tentang pengetahuan reproduksi dan dilakukan secara rutin. Selain itu, ada program DAKU lewat CD interaktif ditawarkan di sekolah.

Saran untuk orangtua, hendaknya memunyai kepedulian yang tinggi pada anak-anaknya terutama remaja. Remaja memunyai permasalahan yang khas. Mereka tidak memunyai pengetahuan sementara godaan sangat tinggi. Ketika remaja menemukan masalah mereka sering bersembunyi dan menjadi pendiam. Pemegang kebijakan hendaknya juga memberi bantuan yang lebih luas dari hulu sampai ke hilir. Mulai dari pendidikan sampai ketika masalah muncul harus ditanggulangi dengan baik. Kalau KTD dilanjutkan harus dibantu dengan segala embel-embelmya mereka bisa sekolah, terutama penerimaan masyarakat jangan sampai dilecehkan. Kalau aborsi, harus juga dihargai hak perempuan demi masa depannya yang lebih baik.
dr. Nyoman Mangku Karmaya
Ketua PHD PKBI Bali
dan Pendiri KISARA

Jangan Bedakan Anak laki-laki dan Perempuan
Sangat tertarik dengan masalah KTD karena masyarakat menganggap perempuanlah yang bersalah, selalu melanggar aturan, selalu tidak mengikuti kata orangtua. Selama ini para orangtua selalu membedakan dalam mendidik anak laki-laki maupun perempuan. Perempuan tidak boleh bermain sepak bola, atau tembak-tembakan. Padahal, itu kan strategi. Permainan itu hanya diajarkan pada anak laki-laki. Anak laki-laki dibiarkan berkembang dengan alamiah sampai tahu strategi kemenangan. Perempuan hanya boleh bermain boneka-bonekaan, atau masak-masakan. Semua hal domestik yang ditanamkan. Anak perempuan harus patuh, beretika, dan sopan santun. Ketika remaja, ia berkembang menjadi minder, ketakutan dan tidak bisa membela diri. Perempuan lemah tidak boleh melawan karena harus patuh. Ketika terjadi KTD perempuan dicaci-maki, tidak bisa membawa diri. Siapa sebenarnya yang salah? Perempuan sudah kehilangan keperawanan, dan harus meninggalkan sekolahnya. Laki-laki bebas menikmatinya. Hukuman hanya ditanggung perempuan.

Saya tidak setuju aborsi, kecuali karena penyakit. Pola pikir masyarakat yang harus diubah. Seandainya saya mengalami hamil diluar nikah dan si laki-laki pergi dan tidak bertanggungjawab. Janin akan tetap dipertahankan karena itu anak Tuhan. Tidak ada anak bebinjat. Tuhan tahu siapa yang bersalah. Perempuan hamil sudah berbuat dosa. Mengapa menambah dosa lagi dengan melakukan aborsi?
Ipung

Denda Jika Menghamili Perempuan
KTD tidak usah diaborsi tapi dilanjutkan saja. Memang si ibu belum siap, tapi efeknya berdampak pada si anak. UU tidak menginginkan adanya aborsi. Kalau ada laki-laki yang berbuat harus ada visum dan ada UU yang mengatur. Laki-laki harus bertanggung jawab. Ada UU yang mengatur berapa dendanya jika menghamili perempuan. Selama ini perempuan selalu menjadi korban dan selalu disalahkan. Harus ada timbal-baliknya.
Ketut Suparta

Seks untuk Mendapat keturunan
Manusia hanya memikirkan kesenangan sendiri. Aturan itu diubah oleh diri sendiri agar menjadi benar. Menurut pandangan Weda hubungan seks untuk mendapatkan keturunan. Kesenangan itu adalah bonus. Kalau tidak ada bonus mungkin manusia punah. Dalam kitab Injil disebutkan manusia pertama adalah Adam dan Hawa, laki dan perempuan. Allah berpesan kepada mereka jangan makan buah terlarang. Karena dorongan seks tidak dapat dikendalikan, akhirnya pesan Tuhan dilarang, dimakanlah buah terlarang tersebut.

Pendapat lain mengatakan seks adalah kebutuhan biologis. Tidak ada yang benar dan tidak yang ada yang salah. Manusia terlalu menuruti dorongan nafsu. Budaya di dunia tidak ada yang original. Saling mempengaruhi antara budaya barat dan timur. Orangtua hendaknya mengetahui perkembangan anak-anak. Anak usia 5 tahun ke bawah bisa diperintah. Disuruh menyapu atau pekerjaan apapun pasti menurut. Setelah menginjak remaja ada perubahan drastis. Apa yang disuruh justru tidak didengarkan bahkan dilanggar.

Sebaiknya jadikan remaja sebagai teman. Apapun yang dilakukan harus bertanggung jawab. Anjing melakukan hubungan seks hanya saat sasih Kesanga. Sementara manusia selalu melakukan hubungan seks. Bahkan sampai melakukan apapun agar bisa melakukan hubungan seks. Seks bukan untuk kesenangan, tapi hanya untuk mendapatkan keturunan.
Gede Biasa

Tuntut Sampai ke Jalur Hukum
Jika KTD dilanjutkan tidak mungkin dapat diterapkan di Bali. Ini berhubungan dengan adat di Bali. Hamil saja harus mecaru apalagi anak lahir tanpa ayah itu sudah cuntaka. Harus mecaru Panca Kelud. Dalam pernikahan ada upacara dengan Tri Saksi yang membuat perkawinan itu sah. Jika belum, anak itu belum layak diterima di masyarakat apalagi sampai masuk ke pura. Penerapan di Bali dan di luar Bali berbeda. Tidak setuju aborsi. Bagaimana seorang ayah seharusnya bertanggungjawab. Bila perlu, menuntut habis-habisan lelaki yang menghamili sampai melalui proses jalur hukum.
Santa

Larang Gambar Porno di Media
Agama tidak menyetujui seks bebas. Seks bebas identik dengan pergaulan bebas tak terbatas. Yang benar adalah pergaulan bebas terbatas. Orangtua harus lebih ketat. Semua pihak diberi pengertian. Risiko terbesar ada pada perempuan karena mereka yang mengandung. Pengawasan tidak saja dari bawah tapi dari atas. Pemerintah langsung mengadakan intervensi melalui Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melarang gambar porno di media cetak dan elektronik.
Dewa Winaya




Sabtu, 13 September 2008

Kiat Sehat Usia 80 Tahun

TETAP sehat dan fit di usia 80 tahun, jarang dimiliki banyak orang. Pada usia lanjut biasanya muncul banyak keluhan penyakit. Namun, bagi I Putu Rahman Setiabudi, lelaki kelahiran 1 Desember 1928 ini, usia lanjut tidak menjadi halangan baginya untuk tetap aktif berolah raga. Bahkan ia masih mampu dan kuat bermain tenis tiga kali seminggu, tiap hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Apa kiat lelaki berperawakan tinggi ini ?

Lelaki asal Desa Sengkidu Kecamatan Manggis Karangasem ini mengaku kebugaran tubuhnya didapat karena kedisiplinannya sejak kecil. Ia sangat setuju dengan slogan “lebih baik mencegah daripada mengobati.” Hal itu juga yang dilakoni suami alm. Ni Made Wija ini sejak kecil.

Ia terkenang nasihat gurunya akan bahaya rokok bagi paru-paru waktu ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. “Jangankan untuk merokok, mencium baunya saja saya mual,” ujar Pensiunan Bea Cukai ini.
Kiat sehat yang sudah menjadi rutinitasnya sejak kecil adalah bangun pagi.

Ia menuturkan, saat masih duduk di bangku SD untuk berangkat ke sekolah ia harus menempuh jarak 15 kilometer dari rumahnya di Ds. Sengkidu. Sementara letak sekolahnya sangat jauh di Kota Karangasem. Ia tidak boleh telat bangun tidur dan harus berangkat pukul 5 pagi. Bersama para penjual pamor yang berangkat ke pasar, Putu Rahman menempuh perjalanan 3 jam agar tiba di sekolah. Kebiasannya itu, membuat ia jarang sakit karena terbiasa bangun pagi dan jalan kaki.

Terlahir dari keluarga keturunan balian usada Bali, Putu Rahman sejak kecil sudah mengenal berbagai obat tradisional. Mulai dari kakek, kemudian ayahnya yang mengenalkan begitu banyak mamnfaat obat tradisional. “Zaman dulu belum ada dokter. Kalau sakit biasanya masyarakat pergi ke dukun,” tutur Putu Rahman.
Beberapa tanaman tradisional Bali diyakininya dapat dijadikan obat beberapa penyakit seperti untuk perut panas, bawang merah ditambah sembung dipakai boreh kemudian diusapkan pada perut. Loloh (jamu) daun sembung juga baik untuk diminum mengobati perut yang panas.

Lelaki yang sempat berkarier sebagai Managing Director Bali Kalpataru Tour and Travel ini, semasa mudanya sangat sibuk bekerja. Namun, dibalik kesibukannya itu, ia selalu menyempatkan diri berolahraga.
Menekuni olahraga tenis sejak tahun 1970, bahkan sejak tahun 1940 ia juga rutin bermain bulu tangkis. Hanya saja, olahraga yang hingga kini tetap dilakoninya yakni tenis lapangan.

Menurutnya dengan rutin bermain tenis kondisi kesehatannya terutama organ jantungnya dalam keadaan baik. Selain itu, kata Putu Rahman, peredaran darah menjadi lancar dan badan tetap segar. Hingga kini ia tetap mandi menggunakan air dingin. “Kecuali kalau udaranya dingin, saya mandi pakai iar hangat,” ujarnya. Selain olahraga, untuk menjaga kesehatannya Putu Rahman mengonsumsi obat tradisional Cina dari Singapura sejak tahun 1950. Dari salah satu tamunya ia mendengar bahwa mandi air laut baik untuk mencegah penyakit. Hal itu juga rutin dilakoninya termasuk berendam di pasir pantai.

Ia menyarankan sebaiknya para orang tua berendam di pantai bukan di sungai. “Orang yang mempunyai rematik, tidak baik berendam di sungai karena sifat air sungai yang dingin. Lebih baik mandi air laut dan berendam pasir pantai,” sarannya mengutip kata teman bule-nya itu.
Trik menjaga kesehatan juga didapat ayah enam putra dan enam putri ini dengan rajin mengikuti seminar. Dari seminar, ia mendapatkan banyak ilmu baru. Salah satunya, sudah diterapkannya kini.

Ia mengaku sangat suka makan daging, namun tidak berlebihan. Sampai sekarang kakek 35 cucu ini tidak ada pantangan makanan. Untuk menu sarapan, ia mengonsumsi kopi ginseng ditambah madu. Jika akan main tenis ditambah dengan dua butir telur ayam kampung. Untuk makan siang, menu lengkap didalamnya ada nasi, lauk pauk, sayur, dan buah. Sedangkan menu untuk malam hari ia hanya mengonsumsi sayur dan buah.
“Pertamakali melakukannya terasa berat karena sudah kebiasaan makan nasi. Tapi lama-kelamaan akhirnya terbiasa. Sayuran hanya direbus sebentar agar vitaminnya tidak hilang. Kemudian saya makan,” tutur Putu Rahman tentang kiat sehatnya yang didapatkan dari mengikuti seminar.

Menurutnya, siang hari manusia banyak melakukan aktivitas, sehingga memerlukan makanan lengkap yang mengandung semua unsur zat gizi. Sedangkan malam hari waktu hanya untuk tidur. Hal yang menjadi wajib baginya setiap bangun pagi adalah minum dua gelas air putih yang sudah dilakoni sejak tahun 1950.

Namun, ia menyarankan untuk tetap sehat, jangan pernah kurang tidur. Bagi lelaki yang mempunyai hobi membaca buku politik dan kesehatan, prioritas tidur menjadi bagian penting bagi kesehatan otaknya. Agar mudah tidur sampai di tempat tidur ia punya trik khusus dengan membaca. Dengan membaca ia mengaku cepat mengantuk. Saat hendak berangkat tidur ia tidak mau memikirkan hal yang ruwet karena dapat berpengaruh dan membuat kantuknya hilang. “Nikmati hidup ini, “ katanya sambil tertawa.

“Biasakan berpikir positif dan rajin sembahyang. Jauhkan pikiran negatif yang membuat pikiran susah. Sakit, berawal dari pikiran. Pikiran yang kacau dapat membuat tubuh menjadi sakit,” lanjutnya lagi.
Selama ini, kalaupun ia sakit, itu karena salah makan. Biasanya ia pergi ke dokter dekat rumahnya.
Sekarang ini ia mengaku jarang melakukan general check up. Dulu saat ia masih bekerja dan aktif, ia sering melakukan cek kesehatan ke laboratorium. Berdasarkan hasil laboratorium tidak tampak adanya
keluhan penyakit.

Untuk menjaga vitalitas tubuhnya agar tetap fit diusia senja, ia rutin mengonsumsi obat Cina yang didapatkannya dari bisnis multi level marketing. Kegiatan ini yang kini dilakoninya mengisi hari tuanya setelah istrinya meninggal. –ast

Sudah dimuat di Koran Tokoh, Edisi 504, 07 September 2008

Minggu, 20 Juli 2008

Imbauan KPAID Bali

MENYIKAPI maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Bali mengimbau para orangtua untuk meningkatkan komunikasi dalam keluarga, memperbanyak aktivitas fisik anak-anak seperti olah raga, musik, berkebun dan lainnya. Tanamkan kewaspadaan pada anak-anak jangan mudah menerima hadiah dari orang lain yang tidak bisa diperrcaya. Buat anak Anda senyaman mungkin sehingga betah di rumah. Dampingi anak -anak langsung menonton TV dan bercerita sebelum tidur dengan topik kebaikan dan keburukan. Waspadalah jika anak sampai menginap di rumah temannya, apalagi rumah tersebut hanya kos-kosan. Lakukan pertemuan kekeluargaan dengan tetangga dan warga banjar sekitar untuk meningkatkan suasana manyama braya dan muncul kepedulian terhadap anak-anak sekitarnya. Bagi para penegak hukum, KPAID Bali mengimbau untuk melindungi korban anak dari ekspoitasi media dan memerlakukan korban anak-anak seperti anak sendiri. Jika ada kasus anak usia di bawah 18 tahun , pelaku hendaknya dituntut dengan UU perlindungan Anak. Kepentingan perlindungan anak harus selalu diutamakan. -ast

Sabtu, 17 Mei 2008

RS Khusus Lansia

29 Mei diperingati sebagai Hari Lansia Nasional. Namun, peringatan Hari Lansia terasa mubasir jika fasilitas untuk menunjang kesejahteraan kaum lansia kurang diperhatikan.
Menurut Kepala Instalasi Geriatri RS Sanglah Dr RA Tuty Kuswardhani Suastika, SpPD, Kger, populasi lansia di dunia meningkat pesat, mulai tahun 1990 sampai 2025 diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 414%.
”Saat ini Indonesia menempati urutan ke-3 setelah China dan India memiliki penduduk lansia terbanyak di dunia. Bali menempati posisi III setelah Yogyakarta, dan Jawa Timur,” ungkap Dokter Tuti. Dengan meningkatnya usia harapan hidup (UHH) manusia, kata Dokter Tuti, tahun 1996-2010 UHH untuk wanita 74 tahun, dan laki-laki 71 tahun, Indonesia akan menjadi negara berstruktur penduduk tua.
Ada kalimat menggelitik yang dilontarkan dokter Tuti. Jika putri Indonesia memiliki 3 B, beauty, brain, behavior, para lansia malah dijuluki orang-orang, memiliki banyak B (botak, bingung, beser, bongol, bawel). Namun, dari semua predikat negatif yang disandang lansia, kata Dokter Tuti, ada satu B yang terbaik yakni bijaksana. ”Sifat bijaksana justru muncul dikala memasuki usia lansia,” kata istri istri Prof. Dr. Dr. I Ketut Suastika, Sp.KEMD ini.
Menurut WHO, yang dimaksud lansia adalah orang pada usia 60 tahun ke atas untuk negara berkembang, dan di negara maju seperti AS, Perancis, Jepang, dan Belanda lansia digolongkan usai 65 tahun ke atas.
Lansia digolongkan menjadi dua yakni lansia potensial dan tidak potensial. ”Lansia potensial adalah orang yang masih mampu melakukan aktifitas dengan baik dan melakukan kegiatan yang dapat menghasilkan baik barang maupun jasa. Lansia yang tidak potensial orang yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung kepada bantuan orang lain. seperti lansia penghuni Panti Werdha,” jelasnya.

Foto : taman kecil yang tersedia di Bangsal Geriatri RS Sanglah Denpasar.

Saat memasuki lansia, manusia mengalami beberapa kemunduran dan kelemahan seperti gangguan berjalan, penurunan intelektual/pikun, ngompol, penurunan sistem imun di dalam tubuh, mengalami suatu keadaan yang tidak nyaman karena gigi ompong dan penurunan daya penglihatan. ”Lansia mengalami penurunan kemampuan fisik seperti proses penuaan ditandai dengan tubuh yang melemah, gerakan tubuh lamban dan kurang bertenaga, keseimbangan tubuh berkurang. Contohnya jika melompat para lansia tidak secepat orang yang masih di usia 30 tahun,” ujar dokter yang sudah menimba ilmu di beberapa negara, seperti Belanda, Jepang Australia ini.

Ketua Pergemi ( Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia) Bali ini mengatakan orang lanjut usia kapasitas fisiknya menurun 25% karena penurunan kekuatan otot, kemampuan sensoris dan motoris menurun 60%, terjadi banyak perubahan respek pada sensasi orang tua, dan penurunan ketajaman penglihatan.
”Pasein geriatri sulit membedakan warna. sebaiknya hindari warna putih karena menyilaukan. Kadang pasien waktu di rumah tekanan darahnya stabil sampai di klinik melihat warna putih langsung tiba-tiba tekanan darahnya naik,” ujarnya. Dari beberapa pasien yang ditangani, penyakit yang paling banyak dialami lansia adalah hipertensi. Jadi sebaiknya ia menyarankan hindari warna putih. Untuk pintu kamar mandi, sebaiknya jangan dikunci dari dalam. Kursi pun dibuatkan kursi khusus.



Foto: kamar mandi dan tempat tidur khusus pasien Geriatri

Orang lanjut usia juga mengalami penurunan sistim saraf yakni terjadi penurunan kapasitas procesing karena lambatnya reaksi tubuh dan ketidaktepatan reaksi pada kondisi kritis. Selain itu terjadi penurunan kepekaan panca indra seperti penurunan keseimbangan tubuh, dan sering terjadi terpeleset. Penurunan sensitifitas alat perasa pada kulit, sehingga diupayakan untuk menggunakan peralatan kamar mandi yang relatif aman bagi lansia.
Lansia juga mengalami buta parsial, yakni melemahnya kecepatan focusing pada lansia, dan makin buramnya lensa yang ditandai dengan lensa mata makin berwarna putih, akan mempersulit lansia membedakan warna hijau, biru dan violet.

Ukuran tubuh lansia mengalami penyusutan ukuran tinggi badan kuranglebih 5%. Hal ini kata Dokter Tuti, disebabkan bongkok dan pembengkokan tulang belakang karena proses penuaan, perubahan tulang rawan dan persendian menjadi tulang dewasa, perubahan susunan tulang kerangka pembentuk tubuh karena proses penuaan,dan akibat penyakit lain yang diderita. Tinggi badan lansia diukur dari tinggi lutut bukan dari tinggi badan seperti biasanya. Dari salah satu pasiennya yang berusia 101 tahun, Dokter Tuti mengetahui kalau bongkok itu ternyata menyakitkan.

Menurunnya kemampuan fisik ini kata Dokter Tuti, mengakibatkan lansia rawan kejadian jatuh. Penyebab terbanyak kejadian jatuh pada lansia karena faktor lingkungan eksternal sebanyak 31%, ketidakseimbangan tubuh 17%, pusing atau vertigo 13%, drop attack 9%, confusion atau bingung 5%, hipotensi postural atau saat jongkok kemudian berdiri bisa jatuh juga sekitar 3%, gangguan penglihatan 2%, sinkop 0,3%, dan penyebab lain 20%.

Foto : tembok berwarna peach agar lansia tidak silau.

Ia menyebutkan penyebab jatuhnya lansia karena faktor eksternal seperti lampu ruangan yang kurang terang, lantai licin, basah atau tidak rata, furnitur yg terlalu tinggi/rendah, tangga yang tidak aman, kamar mandi dengan bak mandi atau kloset terlalu rendah atau tinggi dan tidak memiliki alat bantu untuk berpegangan, tali atau kabel yang berserakan di lantai.
”Penerangan sebaiknya menggunakan lampu pijar bukan lampu neon karena efeknya kurang baik. Jika menggunakan lampu tidur sebaiknya sinar dari belakang, sehingga pada saat pasien melek tidak silau dan tidak terkejut,” saran Dokter Tuti.

Penggunaan cahaya alami lebih dianjurkan untuk mengurangi fenomena silau. Rekomendasi yg dianjurkan kata Dokter Tuti, diantaranya tidak ada permukaan yg memantulkan cahaya sehingga menyebabkan silau atau bayangan, tinggi lokasi penempatan jendela ≥ 1,70 m dari permukaan lantai, penyediaan sistem tabir sinar matahari pada jendela yg menghadap ke timur maupun ke barat, menggunakan penerangan yang seragam di dalam kamar dan koridor ruangan.
Ia mengatakan untuk menghindari jatuh sebaiknya lansia diberikan terapi fisik dan penyuluhan berupa latihan cara berjalan, penguatan otot, alat bantu, sepatu atau sandal yg sesuai, dan mengubah lingkungan agar aman seperti pencahayaan yg cukup, pegangan pintu yang tepat dan lantai tidak licin.

Menurutnya ada 10 kebutuhan orang lanjut usia yakni makanan yang cukup dan sehat, pakaian dan kelengkapannya, tempat tinggal atau tempat berteduh, perawatan dan pengawasan kesehatan, bantuan teknis praktis sehari-hari atau bantuan hukum, transportasi umum bagi lansia, kunjungan dan teman bicara serta informasi, rekreasi dan hiburan sehat, rasa aman dan tenteram, bantuan alat-alat panca indera seperti kacamata, dan alat pendengaran.

Ia menyebutkan lansia di Belanda lebih suka ke mall dan lansia di Jepang lebih suka ke taman bunga. Merawat pasien lansia berbeda dengan pasien biasa. Untuk itu, petugas di Bagian Geriatri RS Sanglah yang khusus menangani pasien lansia, selalu dianjurkan mempunyai leher, perut dan kaki yang panjang. "Mendengar keluhan para lansia dibutuhkan kesabaran dan kecekatan. Makanya maskot jerapah di pasang disana,” ujarnya.
Di Bangsal Geriatri RS Sanglah sudah difasilitasi dengan sarana dan prasarana khusus lansia, seperti ruangan warna peach dengan pegangan didekat tembok, gagang pintu yang mudah dibuka, kamar mandi dengan pegangan, tempat tidur yang bisa dinaikturunkan, ruang latihan berjalan, dan taman kecil. Namun hal ini belumlah cukup. Ia sangat berharap dibangun RS Rujukan Khusus Lansia sebagai ungkapan rasa hormat pada lansia. -ast