Selasa, 30 November 2010

Jangan Remehkan Nasi Sela

BANYAK orang memandang remeh ubi jalar merah. Padahal, ubi yang satu ini mengandung beragam zat gizi yang sangat baik bagi tubuh. Masyarakat Bali memiliki makanan tradisional nasi sela. Apakah kandungan gizi nasi sela mampu memberi kontribusi optimal bagi tubuh?

”Selain untuk memenuhi unsur gizi dalam tubuh, makanan yang dikonsumsi sehari-hari hendaknya beragam agar tidak menimbulkan kebosanan. Dengan beragamnya makanan, beragam pula zat gizi yang dikonsumsi, karena tidak ada satu pun makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan manusia,” ujar Ahli gizi Poltekes Denpasar Ida Ayu Eka Padmiari, S.K.M., M.Kes.
Ia menyarankan, untuk mengonsumsi ragam bahan makanan perlu dilakukan pencampuran makanan atau biasa disebut makanan campuran, misalnya beras dengan ubi jalar atau nasi sela, beras dengan jagung, beras dengan kacang kedelai. Campuran bahan ini, kata Dayu Padmiari, akan memaksimalkan zat gizinya dan akan melengkapi zat gizi yang dibutuhkan.

Makanan campuran yang merupakan makanan tradisional Bali khususnya dan di Asia umumnya adalah campuran beras dengan ubi jalar yang sangat khas yang disebut nasi sela. Bahan pangan pokok yang selalu dimakan orang Indonesia umumnya tiap hari adalah nasi. Namun, sebenarnya masih banyak bahan makanan lain yang memiliki kandungan gizi tidak kalah daripada nasi. Jadi, makan besar tidak harus dengan nasi, masih banyak bahan makanan lainnya.

Ia mengatakan, masyarakat Indonesia sudah tergantung pada nasi dan menganggap kalau belum makan nasi berarti belum makan. Sumber karbohidrat lain seperti roti, ubi, mi, bihun, kentang, jagung, umbi, talas, singkong, termasuk makaroni, spageti, dan aneka pasta yang kini makin populer itu masih dianggap sekadar bahan pangan selingan atau pengganjal lapar sebelum makan nasi. Padahal, fungsinya tetap bisa digunakan sebagai makanan pokok. Persepsi masyarakat yang mengatakan makanan yang membuat kenyang dan cocok di lidah itu hanya nasi putih harus diluruskan. Ia mengharapkan para orangtua dapat menyosialisasikan keanegaragaman bahan pangan pokok tersebut kepada anak-anak, mengingat pembentukan selera dan kebiasaan makan dimulai sejak balita.

Mencermati fenomena global di bidang pangan, kata dia, budaya mengonsumsi jenis makanan impor perlu diperbaiki melalui berbagai kampanye dan promosi. Jepang sebagai negara besar dan maju pun sudah mulai berpikir untuk mengubah pola konsumsi pangannya, dengan tidak menggantungkan pangan impor ke arah konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Indonesia sebagai negara berkembang dengan penduduk yang banyak harus mulai melakukan diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. Banyak orang memandang remeh ubi jalar merah. Padahal, kata dia, ubi yang satu ini mengandung beragam zat gizi yang sangat dibutuhkan tubuh.

Sumber utama karbohidratnya baik untuk penderita diabetes karena kandungan gulanya sederhana. Ubi jalar merah juga sangat kaya pro vitamin A atau retinol. Dalam 100 gram ubi jalar merah terkandung 2310 mcg (setara dengan satu tablet vitamin A). Bahkan dibandingkan bayam dan kangkung, kandungan vitamin A ubi jalar merah setingkat lebih tinggi. Keistimewaan ubi ini juga terletak pada kandungan seratnya yang sangat tinggi. Ubi jalar bagus untuk mencegah kanker saluran pencernaan dan mengikat zat karsinogen penyebab kanker di dalam tubuh.

Di Jepang, harga tepung ubi jalar dihargai empat kali lipat harga tepung terigu. Penelitian mengenai ubi jalar pun makin sering, karena memunyai kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Ubi jalar bahkan dapat dijadikan sebagai bahan makanan alternatif lain bagi pasien penyakit tertentu di rumah sakit. Tepung ubi jalar lebih mahal daripada tepung gandum (terigu). Untuk mendapatkan manfaat fisik dan emosional, ia menganjurkan, ada baiknya dicoba membuat roti menggunakan tepung ubi jalar, baik sebagai bahan utama maupun bahan pewarna. “Pencampuran dua bahan makanan, beras dan ubi jalar, saling melengkapi zat gizi seperti tiamin yang tidak terdapat di ubi jalar akan dilengkapi tiamin yang terdapat dalam beras, dan sebaliknya antioksidan dan vitamin A yang tinggi di ubi jalar akan melengkapi kekurangan zat tersebut dalam beras,” paparnya.
Ia menambahkan, jika digabungkan kedua bahan tersebut, kita sudah memperoleh hampir 10 jenis mineral di antaranya kalsium, fosfor, Fe/zat besi, kalium, magnesium, dan seng. Begitu pula dengan kandungan protein terutama asam-asam amino esensial yang akan diperoleh lengkap dengan pencampuran berbagai bahan tersebut, contohnya nasi sela ditambah ikan, atau nasi sela ditambah tempe/tahu. –ast


Sosialisasikan Diversifikasi Pangan, Lewat Kelompok Wanita Tani
DIVERSIFIKASI pangan bukan diartikan sebagai tidak makan nasi, namun, bagaimana kebutuhan karbohidrat sebagai gizi keluarga juga dipenuhi dari sumber karbohidrat lain selain beras. Demikian diungkapkan Kadis Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Ir. Made Putra Suryawan.

Kabohidrat dari beberapa sumber seperti beras, jagung, umbi-umbian lokal terdapat di sekitar kita. Selain harganya relatif lebih murah umbi-umbian juga merupakan pelengkap gizi. Ia menegaskan, tujuan diversifikasi menu sejak dini, di samping meningkatkan kesehatan dan melengkapi kebutuhan gizi, juga untuk ketahanan pangan.
Di Bali saat ini, kata dia, usaha sedang digiatkan dalam upaya pengembangan ubi kayu sebagai komoditas andalan, seperti ubi jalar, talas kuning, dan sukun. Sosialisasi diversifikasi pangan telah dilakukan lewat pembinaan kelompok wanita tani melalui unit pembinaan pengembangan pengolahan hasil pertanian (UP3HP). “Para kelompok wanita tani diajari bagaimana mengolah bahan karbohidrat selain beras ini menjadi berbagai menu makanan yang enak dan bergizi. Bahkan, sebagian mereka sudah memasarkan hasil produksinya sampai ke pasar swalayan,” paparnya.

Selain itu, ada program pemberian makanan tambahan bagi anak sekolah. Siswa diajari makan nasi campur seperti nasi sela. “Kalau di rumah disuruh makan nasi sela tidak mau, tetapi kalau ibu gurunya yang menganjurkan mereka mau,” ujarnya. Kegiatan ini, kata Suryawan, sekarang sudah diambil alih Badan Pemberdayaan Masyarakat Perdesaan (BPMD).
Peningkatan optimalisasi lahan kering juga terus digencarkan. Pengembangan ubi kayu jenis song landak dilakukan di Bangli, Nusa Penida, Klungkung dan Karangasem. Pengembangan jagung hibrida di lahan sawah di Tabanan, Gianyar dan Klungkung. Pengembangan sukun 2000 pohon tahun 2010 di Buleleng Barat dan Timur. Kabid Pascapanen dan Pemasaran Hasil Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Lihadnyana menambahkan, pelatihan pengolahan pangan lokal dilakukan dengan harapan, konsumsi beras dapat berkurang. “Sumber karbohidrat tidak hanya beras. Kendalanya, masih berkembang persepsi masyarakat jika belum makan nasi belum makan. Dengan penumbuhan UP3HP di semua kabupaten Bali dan dibantu fasilitas alat pembuatan tepung, harapan diversifikasi menu mulai diminati masyarakat,” ujarnya. Ia berharap, konsumsi beras di Bali makin lama makin berkurang dengan diversifikasi pangan lokal. Seperti di Yogyakarta, yang konsumsi berasnya paling rendah di Indonesia. –ast

Koran Tokoh, Edisi 28 s.d. 5 Desember 2010

Minggu, 28 November 2010

Jangan pernah Katakan "Anak ‘Goblok"

Pendidikan usia dini menjadi hal utama dan penting dalam pendidikan anak. Orangtua merupakan pendidik utama yang memegang peranan penting mengantarkan kesuksesan anak. Ironisnya, tak banyak orangtua yang memberikan pendidikan usia dini yang baik kepada putra-putrinya. Bahkan, ketika mereka besar dan tidak mampu menjadi anak seperti yang mereka inginkan, celaan tak urung mereka lakukan. Ini kesalahan fatal. Demikian ditegaskan praktisi pendidikan Gidion Hidarto.

Ayah Dominic Brian seorang anak Indonesia pemecah rekor dunia ini mengungkapkan pengalaman masa kecilnya.Ia mengaku akses untuk melakukan perlawanan dan penolakan terhadap kemauan keras orangtua tidak didapatkan. Ia berasal dari keluarga keturunan Tionghoa, bertempat tinggal di desa, yang dididik keras dan disiplin, harus menuruti semua kemauan orangtuanya. Gidion mengaku, tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan ayahnya.

Ketika tamat SMA, ia tidak diterima di ITS. Ia diharuskan kuliah ke Amerika Serikat. Ia tidak punya kekuasaan untuk menolak perintah orangtuanya sampai ia menyelesaikan pendidikan S-2 di sana. Setelah dewasa, ia menikah dan memiliki anak yang bernama Dominic Brian. Ia mencoba mengembangkan konsep baru dalam mendidik putra tunggalnya itu. Ia tidak ingin mengulang kesalahan orangtuanya, yang memaksakan kehendaknya kepada dirinya.
Tak tanggung-tanggung, sejak Brian dalam kandungan, ia sudah diajarkan menjadi anak yang berkarakter. “Saya tidak mau mengulang kesalahan orangtua. Saya diajari tidak bisa mengambil keputusan. Saya tumbuh dan besar tanpa menjadi diri saya sendiri,” tuturnya.

Setelah Gidion terjun sebagai pengajar tahun 2002 dan membuka kursus, ia mulai menyelami dunia anak-anak dengan baik. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, pikirnya.
“Saya biarkan Brian bereksperimen. Saya biarkan ia mencoret tembok, bahkan mencoret mobil. Menggambar daun dengan warna merah, atau warna apa saja terserah dia. Saya bebaskan dia menjadi dirinya sendiri. Saat dia bermain bola, dan jatuh di rumput, saya biarkan. Dia akan banyak belajar dari pengalamannya itu,” kata Gidion tentang kiatnya mendidik Brian.

Saat usianya satu tahun, Brian diajari kata-kata dengan menunjukkan dan membacakannya. Tiap malam istrinya, Debora, membacakan buku sebelum ia tidur. Ketika usia tiga tahun, Gidion terkaget-kaget, karena Brian sudah mampu membaca dan menunjukkan kepiawaiannya membaca di depannya. Sejak itu, Gidion rajin mengajak Brian ke Gramedia untuk membeli apa pun buku yang ia suka. Usia 5 tahun Brian sudah mahir membaca koran.
Gidion menuturkan, buku Brian semuanya dalam bahasa Inggris. Saat usianya tiga tahun, Brian sangat lancar berbahasa Inggris. Semua itu dipelajari Brian, karena tiap malam ia selalu mendengar ibunya membacakan cerita dalam bahasa Inggris untuknya. Brian tumbuh dalam dua bahasa tanpa stres.
Ada orangtua yang protes. Anak diajari matematika atau bahasa Inggris sejak kecil bisa stres. Gidion berpandangan, yang membuat anak menjadi stres karena cara pengajarannya yang salah. Kurang pendekatan orangtua dengan anak. “Kalau orangtua dekat dengan anak potensinya mudah dikenali. Kalau waktu kecil anak suka memotong sayur, suka masak, besarnya nanti mungkin bisa menjadi koki terkenal. Dengan pendekatan seperti itu, orangtua mampu mengenali potensi anak dengan baik,” paparnya.

Fungsi orangtua diibaratkan pemantik korek api. Potensi anak tidak terbendung. Orangtua sebagai sumber ispirasi dengan melakukan hal kecil. Seperti yang ia lakukan. Hanya dengan membacakan buku tiap malam, Brian mahir membaca tanpa harus diajari huruf demi huruf. Anak akan bisa membaca tanpa disadari.
Ia menyayangkan sikap orangtua yang sering menghardik anak dengan kalimat yang kurang mengenakkan. Melihat anaknya suka musik, langsung berkata, ’jika besar nanti kamu mau jadi tukang ngamen’.
Kalau itu diucapkan orang lain, mungkin anak tidak peduli. Namun, ketika kalimat itu dilontarkan bapaknya akan membuat mental anak menjadi drop.

Ia menilai, anak merupakan titipan Tuhan. Tuhan yang mengetahui, apa yang menjadi panggilan jiwa anak itu. Kalau orangtua memberi kebebasan mengekspresikan dirinya, ia akan menjadi anak yang berkarakter.
Gidion mengatakan, ia selalu menekankan kepada Brian, sahabat terbaik adalah orangtuanya.
Dengan dekat kepada anak, para orangtua akan tahu seberapa besar keinginan anak, seberapa besar ketakutan anak, dan mengerti kebutuhan anak. Tiap hari, ia selalu mengucapkan kalimat “I love you” untuk Brian.

’Home Schooling’
Ketika Brian kelas VI, ia mengambil suatu keputusan besar. Ia tidak ingin masuk ke sekolah normal. Brian ikut home schooling alias belajar di rumah. Hanya Gidion dan istrinya, Debora, yang mengajar Brian. Tidak ada guru yang dipanggil. Tidak ada rapor. Kelas bisa di kamar, supermarket, atau di bioskop.
Bagaimana kita melihat kehidupan, ada panggilan jiwa yang diajarkan. Rumah adalah tempat yang terbaik. Guru yang terbaik adalah para orangtua. Menurut Gidion ia memberi anaknya kebebasan dari awal. Pilihan pasti ada konsekuensinya. “Saya ajarkan Brian untuk mengambil keputusan sendiri. Saya belum pernah mengatakan ’kamu goblok’, atau ’kamu tidak bisa diatur’. Kadang Brian juga lupa, dan teledor. Tetapi, saya menganggap dia orang yang harus dihargai. Bukan diberi kata-kata kasar seperti itu,” ujar Gidion.

Ketika ia memutuskan untuk home schooling, Brian sudah memikirkan matang-matang. Walaupun Brian home schooling bukan berarti ia tidak bersosialisasi dengan teman-temannya. Brian biasa menjadi pembicara dalam seminar, ia suka berenang, main musik, temannya banyak di facebook, ia ikut komunitas di gereja. Banyak hal dilakukan Brian sama seperti anak lainnya.
Prestasi Brian memang membuat decak kagum banyak orang. Brian mendapatkan penghargaan Muri tahun 2002 dalam usia 5 tahun karena mampu mengingat 100 angka dalam waktu 12 menit. Tahun 2009, Brian kembali mendapatkan rekor Muri. Tak berselang lama, Brian memecahkan rekor dunia (guinness world record) mengingat angka terbanyak. Tahun 2010, kembali prestasi spektakuler diraihnya. Rekor dunia mengingat angka terbanyak 216 dalam waktu satu menit mengalahkan pemegang rekor dunia yang lama, Nischal Narayanan dari India yang hanya mampu mengingat 132 angka.

Gidion menolak jika dirinya dikatakan mengekpoitasi anak. Tiap anak punya potensi yang terpendam. Einstein yang autis hanya menggunakan kemampuan otaknya sekitar 8%, apalagi anak normal tentu potensinya lebih besar. Selama anak diajari menjadi pribadi yang bertanggung jawab, ia akan mampu tumbuh secara optimal.
Ia berpandangan, para orangtua tidak bisa mengatakan, anak tidak boleh main internet. Orangtua cukup memberi bekal kedewasaan dan kebijaksanaan kepada anak. Godaan tidak bisa dicegah. Namun, dengan bekal yang cukup dalam usia dini, itu akan menancap di otaknya dengan baik.
Apalagi, kata dia, itu dilakukan sejak bayi dalam kandungan. Pendidikan Brian sudah disiapkan dengan baik mulai dalam kandungan. Saat ia berusia satu bulan saya bahas karakter kejujuran. Bulan berikutnya saya bahas karakter baik lainnya. Saya rasa itu sangat berpengaruh dan bermanfaat bagi Brian.

Kuliah karena Pacar
Gidion mengaku tergelitik, saat mengikuti seminar Andy Noya pemandu Kick Andy di Metro TV di kampus Unud. Ketika ditanya, apa alasan para mahasiswa kuliah di sana, sebagian menjawab karena ajakan teman, bahkan karena pacar, dan mengikuti keinginan orangtua.
Kalau kita telusuri, kata Gidion, kesalahan memilih sekolah berasal dari kesalahan sebelumnya. Kesalahan waktu SMA, SMP, SD, TK bahkan sebelumnya. Anak tidak mampu menentukan pilihannya sendiri, sesuai dengan panggilan jiwa mereka. Ia menilai, pendidikan usia dini yang harus dibenahi agar harapan orangtua untuk mendapatkan anak yang berkarakter dapat tercapai.

Ia mengaku, terinspirasi dengan dua orang penyandang cacat Aceng dan Stephani yang ditampilkan dalam acara Kick Andy. Aceng tidak punya tangan, bisa SMS-an, bisa main gitar, menikah pula. Stephani cacat mental. IQ tidak sampai 90. Namun, ia mampu mewakili Indonesia dalam kejuaraan renang di Yunani. Ironisnya, angka bunuh diri di Indonesia tinggi, padahal seorang Aceng dan Stephani mampu menjadi motivator bagi banyak orang. Sementara, bagi orang yang terlahir normal, mereka tidak mampu menghadapi persoalan dalam hidupnya.

Ia berencana membuat buku tahun depan yang menuturkan bagaimana perjalanan Brian dalam meraih kesuksesan. Buku dengan judul “Panggilan Jiwa” ini rencananya akan dihiasi kata pembuka dari Presiden SBY dan Gubernur Bali. –ast.

Tokoh, Edisi 620, 28 Nov s.d 4 Desember 2010

Senin, 22 November 2010

Kesiapan Denpasar Antisipasi Bencana

Badan Pemadam Kebakaran Dilebur Jadi BPBD. SARANA MCK (mandi, cuci, kakus) sering terabaikan dan karenanya dikeluhkan para pengungsi di tempat-tempat pengungsian, sebagaimana yang terjadi di tempat-tempat pengungsian korban meletusnya Gunung Merapi sekarang ini. Bagaimana kesiapan Kota Denpasar mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam?

Bencana datang tanpa diduga. Mengantisipasinya, diperlukan suatu manajemen agar saat terjadi bencana penanganannya lebih maksimal. Saat ini baru ada tiga kabupaten/kota yang memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Bali yakni Denpasar, Gianyar, dan Buleleng.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar dr. I Made Sudhana Satrigraha mengungkapkan, manajemen bencana meliputi penanganan mulai dari prabencana, saat terjadinya bencana, dan pascabencana.
Sistem yang diterapkan BPBD Kota Denpasar dalam penanganan bencana melalui instruksi lembaga dan pengaduan masyarakat melalui call centre 0361- 223333. BPBD Kota Denpasar memiliki 4 pos pengaduan yakni Pos Induk di Jalan Imam Bonjol, Pos Juanda di Renon, Pos Cokroaminoto di Terminal Ubung, dan Pos Merpati di depan Stadion Kompyang Sujana.

Mantan kepala Rumah Sakit Wangaya ini mengatakan, prabencana meliputi pencegahan dan kesiapsiagaan. Pencegahan mencakup penyuluhan kepada masyarakat umum, mulai dari pelajar, sampai ibu rumah tangga. Tahun 2010 ini BPBD Kota Denpasar memprioritaskan penyuluhan kepada masyarakat di wilayah pesisir seperti Kelurahan Serangan, Kelurahan Sanur, Desa Sanur Kauh, Desa Sanur Kaja, dan Kesiman Kertalangu. Wilayah ini dianggap rawan bencana tsunami. Penyuluhan lain, juga menyasar 9 pasar di Denpasar. BPBD memberikan bantuan alat bantu pemadam api ringan (APAR) sekaligus penggunaannya kepada pengelola pasar agar mereka dapat melakukan penanggulangan ketika terjadi kebakaran. Bagi anak-anak TK, siswa SD, SMP, SMA ada program pelatihan mematikan api yang dilakukan di Pos Induk. “Agar program ini mencapai sasaran, tahun lalu kami mengadakan lomba mengatasi bahaya kebakaran ‘bagaimana cara mematikan api’. Pesertanya masyarakat umum dan siswa. Tahun depan bertepatan dengan HUT Kota Denpasar, lomba yang sama akan kami gelar lagi. Pesertanya ibu-ibu PKK,” katanya.

Kesiapsiagaan diprioritaskan pada kompetensi para kru di lapangan dan membuat peta wilayah rawan bencana dan peta evakuasi. Saat terjadinya bencana, BPBD melakukan penanganan darurat dan penyaluran logistik. BPBD berkoordinasi dengan stakeholder lain seperti TNI, polisi, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, SAR, dan PMI.
Menurutnya, dalam penanganan darurat petugas akan bergerak dengan analisis cepat seperti saat bencana gunung meletus. Beberapa analisis dilakukan seperti berapa kawasan yang dianggap rawan bencana, ke mana arah lahar mengalir, dan wilayah mana yang paling berbahaya. Berdasarkan analisis cepat tadi, kata dia, dapat dilakukan beberapa tindakan tepat seperti bagaimana evakuasi korban, penyelamatan korban sakit atau meninggal, dan membuat tempat pengungsian.
Di bidang logistik, kebutuhan pokok pengungsi menjadi prioritas, seperti pangan berupa makanan dan air bersih, sandang pakaian, papan seperti tenda atau balai banjar untuk berteduh, pelayanan kesehatan dan pelayanan psikologi.

Mobil MCK
Saat bencana, biasanya selalu dikeluhkan minimnya fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Saat ini DKP Kota Denpasar memiliki satu mobil MCK. Mobil ini biasanya dimanfaatkan untuk kegiatan besar seperti pameran. Hal ini dibenarkan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Denpasar I Ketut Wisada, S.E. “Memang dengan satu mobil tentu kekurangan. Instansi seperti TNI dan Polri juga memiliki masing-masing satu mobil MCK yang siap membantu jika diperlukan. Selain pemanfaatan mobil MCK, akan dibuatkan tenda-tenda darurat untuk mengatasi masalah MCK,” ujar Dokter Sudhana.
Pascabencana meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi.
Rehabilitasi meliputi perbaikan fasilitas umum seperti kantor pemerintahan yang rusak terkena bencana. Sedangkan rekonstruksi dilakukan setelah masa rehabilitasi. “Kalau perlengkapan atau banyak peralatan rusak dan tidak dapat digunakan lagi, akan diganti barang baru. Kami bertugas membantu pengadaannya,” ujarnya.
BPBD didirikan dua tahun lalu sebagai pengganti Badan Pemadam Kebakaran. “Dulu petugas kami hanya mampu menangani bencana api. Kini setelah badan ini dilebur menjadi BPBD, semua regu memiliki kompetensi dalam mengenal bencana air, api, angin, alam, dan sosial,” jelasnya. BPBD diperkuat 170 personal, terdiri atas siap regu 120 orang dan sisanya 50 orang di manajemen. Petugas siap regu mendapatkan penyegaran seminggu sekali tiap hari Jumat. Mereka diberi pengetahuan agar mahir melakukan pertolongan dan menggunakan alat bantuan. -ast

Tokoh, Edisi 619, 21 - 27 November 2010

Kencing Normal 5 – 8 Kali tiap Hari

BATU ginjal, merupakan salah satu penyakit yang cukup banyak diderita. Insiden batu ginjal cukup banyak di Bali. Indonesia sebagai daerah tropis, memudahkan orang menderita penyakit tersebut. Batu ginjal merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gagal ginjal. Batu ginjal dapat menyerang semua golongan usia. Namun, paling banyak diderita laki-laki usia dewasa. Belum ada penjelasan mengapa laki-laki lebih banyak menderita penyakit ini.

Dr. G. Wirya K. Duarsa, M.Kes., Sp.U. dari Divisi Urologi Bedah Rumah Sakit Sanglah mengatakan, banyak penyebab batu ginjal, mulai dari faktor keturunan, diet, olahraga, pekerjaan, dehidrasi, penyakit imun. “Batu bukan satu-satunya yang merusak ginjal. Beberapa penyakit seperti kencing manis, hipertensi, asam urat, penyakit infeksi juga dapat merusak ginjal,” ujarnya.
Ia menyatakan, tanda atau gejalanya tidak selalu ditemukan pada penderita batu ginjal. Jika batunya masih kecil, dan tidak menyumbat permukaan saluran kencing tidak akan timbul gejala apa pun.

Ia menjelaskan, gejalanya tergantung letak batunya, besar kecilnya batu, dan kronis atau akutnya penyakit. Jika batu letaknya di kantung kencing mengakibatkan tidak bisa kencing. Jika batu menyangkut di kandung kemih, dapat timbul nyeri saat buang air kecil, buang air kecil tidak tuntas (anyang-anyangan).
Jika batu letaknya di saluran ureter muncul keluhan kolik sakit di pinggang. Jika batu sudah masuk ke ginjal penderita akan mengalami keluhan sakit pinggang. Biasanya jika sudah terjadi keluhan, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang. Untuk mendiagnosanya, dokter menyarankan pemeriksaan laboratorium untuk darah dan air seni, USG, atau rontgen khusus.

Penanganannya dari dua sudut, dari bagian penyakit dalam dan dari bedah. Kalau batu sudah terbentuk, harus segera ditangani dari sudut medis. Ada jenis batu hanya dengan obat dapat dilarutkan, sehingga dapat keluar bersama air kencing. “Selama ginjal berfungsi normal, batu kecil ukuran 4 mm dapat didorong. Kalau batu itu sudah besar harus ditangani dengan pembedahan,” ujarnya.
Saat ini, RS Sanglah sudah mampu menangani semua keluhan batu ginjal. Semua teknik penanganan dapat dilakukan di rumah sakit ini, sama dengan penanganan di rumah sakit di luar Bali dan luar negeri.
Penanganan endoskopi merupakan teknik tanpa melukai samasekali. Suatu alat dimasukkan ke dalam saluran kencing untuk mengahancurkan batu. Ada juga penghacuran batu dengan mesin SWL. Teknik penanganan lain dengan pembedahan terbuka.

Membuang batu bukanlah akhir pengobatan, tetapi merupakan awal pencegahan. Kalau batu berhasil dibuang atau ditembak tidak sertamerta batu tidak akan tumbuh lagi. “Bisa saja batu akan tumbuh kembali tergantung pola hidup pasiennya, dan faktor genetik juga memegang peranan. Pola hidup sehat harus dilakukan dengan menjaga berat badan seimbang, banyak berolahraga, minum air putih yang cukup,” sarannya.
Ia menambahkan, jika fungsi ginjal normal produksi kencing harus dua liter per hari. Minum 2-3 liter air. Normalnya orang kencing 5-8 kali per hari. “Kalau ada kelainan fungsi ginjal, makan dan minumnya akan diatur dokter,” paparnya. Selain pola hidup sehat, perlu dilakukan general check up, dengan melakukan foto rontgen perut dan USG. Jika pasien datang dalam kondisi derajat penyakit yang belum kronis, dan mendapat penanganan dengan baik, umumnya fungsi ginjal normal.

Infeksi Saluran Kencing
Infeksi ini penyebabnya bakteri, dan 80% karena bakteri ecoli. Keluhan muncul sering anyang-anyangan atau nyeri saat kencing. Infeksi saluran kencing yang biasa, dapat sembuh dengan minum air putih dan pengasaman urine. Namun, ada juga yang membutuhkan obat antibiotika. Penanganan serius diperlukan jika terjadi komplikasi. Kelainan anatomi ginjal juga dapat memicu infeksi saluran kencing. Penanganannya lebih sulit, selain koreksi anatomi, juga memerlukan antibiotika cukup kuat untuk menghancurkan bakteri. “Kalau infeksi tidak tertangani dengan baik akan mengakibatkan infeksi ginjal yang kronis dan gagal ginjal,” ujarnya. –ast

Tokoh, Edisi 619, 21 - 27 November 2010