Senin, 31 Agustus 2009

Lakukan Komunikasi Dua Arah

Komunikasi terlihat sepele dan gampang. Namun, kesalahan berkomunikasi dapat mengakibatkan kehancuran. Satu contoh kasus kesalahan komunikasi yang mengakibatkan pembunuhan tragis suami istri pedagang mobil di Bali. Hanya gara-gara pembantu minta gaji kepada majikan dengan cara komunikasi yang salah dan tidak berkenan, ia menghabisi nyawa majikannya. “Kesalahan komunikasi dapat mendatangkan masalah. Dalam menyampaikan pesan, komunikan harus melihat situasi. Kadang-kadang tanpa disadari kesalahan berkomunikasi memberikan dampak negatif,” ujar Dra Ida Ayu Ratna Wesnawati, M.M. dalam diskusi Kerjasama Koran Tokoh dengan WHDI, Selasa (25/8).

Contoh lain kesalahan komunikasi dilukiskan Dekan Fikom Universitas Dwijendra ini. Seorang anak kecil menonton tayangan kriminal di televisi. Karena tidak mengerti, dia bertanya kepada kakaknya. Si adik menanyakan bagaimana cara bunuh diri seperti tayangan di televisi. Si kakak menjelaskan dan langsung mempraktikkan agar si adik mengerti. “Tolong ambilkan kakak kursi. Ikatkan tali di leher kakak dan gantungkan tali itu di tiang. Kemudian tariklah kursinya. Akhirnya matilah si kakak,” tutur Dayu Ratna. Ia mengatakan komunikasi menjadi suatu kebutuhan untuk mengatasi problematik antar manusia. Sekitar 70% waktu dibangun dengan komunikasi. Ada dampak yang terjadi jika kita tidak berhati-hati dalam berkomunikasi,” ujarnya.

Ia mengatakan tujuan berkomunikasi untuk terciptanya perubahan sikap, pendapat, perilaku dan socsial. Hambatan komunikasi yang sering terjadi karena kurangnya kecakapan, sikap komunikator yang kurang tepat, kurangnya pengetahuan, kurangnya memahami sstem social, dan prasangka yang tidak mendasar. “Jangan selalu negatif thinking dengan orang lain,” tegasnya.
Ia berpandangan dalam berkomunikasi dengan anak, orangtua harus memperhatikan banyak faktor. Orangtua hendaknya menjadi pendengar yang baik. “Jangan mentang-mentang menjadi orangtua tidak mau mendengar keluhan anak. Orangtua harus memahami saat anak berusia dibawah 5 tahun, anak dianggap menjadi raja. Usia diatas 5 tahun menjadi pelayan. Anak usia 16 tahun dianggap teman,” paparnya. Ia mengatakan saat anak mengeluh, hentikan kegiatan orangtua dan dengarkan pembicaraan anak. Hindari memotong pembicaraan. Lakukan komunikasi dua arah dan tidak mendikte,” jelasnya. Orangtua hendaknya tenang dan jujur. Hindari mengucapkan kata-kata yang tidak pantas sebagai ungkapan rasa marah dan frustasi.

Satu contoh diungkapkan Dayu Ratna, begitu ia biasa disapa. Seorang ibu karena pendidikannya kurang dan kondisi keluarganya tidak harmonis sering melontarkan kata-kata kasar kepada anaknya. Bahkan ibu tadi tak segan-segan memukul anaknya. Akhirnya anaknya salah pergaulan, kecanduan narkoba, mengidap HIV/AIDS dan meninggal. “Bagaimana anak itu bisa sensitif kalau mulai bangun tidur sampai malam hari selalu mendengar kata-kata yang kasar?” ujarnya dengan nada tanya. Ia menyarankan sebaiknya orangtua memberi anak dukungan bila anak datang menceritakan masalahnya Dengarkan dengan penuh perhatian. Lepaskan atribut diri sebagai orangtua saat mendengar curhat anak dan cobalah tempatkan diri dalam posisi anak. “Jangan sampai anak curhat ke tetangga atau orang lain. Bagaimana mau curhat dengan orangtua, belum apa-apa bapak dan ibunya sudah membentak duluan?” ujar Dayu Ratna.

Ia menilai, kebanyakan para ibu sudah jarang mengatakan kepada anaknya “Ibu masak apa hari ini untuk kalian?”. Dengan kesibukan para orangtua banyak hal penting yang jarang menjadi perhatian.
“Para orangtua hendaknya menemani anaknya saat menonton tayangan televisi. Ada kode dalam setiap tayangan yang harus diperhatikan orangtua. Tayangan dengan kode BO artinya perlu bimbingan orangtua. Dampingi anak saat menonton. Kode SU artinya untuk semua umur dan dapat ditonton semua kalangan,” jelasnya. Menurut Dayu Ratna, kualitas orangtua yang ada di rumahnya 24 jam belum tentu hasilnya sama dengan orangtua yang sibuk. Yang lebih penting, kata dia, kualitas pertemuan bukan kuantitas. Jangan lupa, bila orangtua salah biasakan meminta maaf kepada anak.
Dayu Ratna menilai manusia Bali zaman dulu selektif dan fleksibel dalam bersentuhan dengan budaya luar. Bersifat religius dan toleransi tinggi terhadap sesama, lugu, sabar, ramah, jujur dan rohaninya tangguh. “Dampak modernisasi mulai merubah pola hidup sosial mereka. Kecenderungan menjadi individual, materialistik dan konsumtif. Bagi yang sudah menikah hidup mandiri dan membentuk keluarga kecil yang baru. Hubungan kekeluargaan yang dulunya erat sekarang mulai renggang. Apalagi diikuti kesibukan masing-masing. Keadaan ini juga membuat komunikasi makin berkurang,” ungkapnya.

Menurut kajian Hindu, kata dia, orangtua harus mengomunikasikan kepada anak beberapa sikap seperti tanamkan keyakinan yang kokoh tentang nilai-nilai dasar kehidupan terhadap makna kasih sayang melalui sastra agama. Berbicara yang sopan dan halus kepada siapapun tanpa memandang status sosial khususnya kepada yang lebih tua. Selain itu, orangtua harus mengajarkan ke anak untuk memelihara hubungan baik dengan sesamanya, dan saling menyayangi dan menghargai (paras paros salunglung sabayantaka). Peduli dan toleransi seperti ajaran tat twam asi (aku adalah engkau, engkau adalah aku). Ia menegaskan komunikasi dapat membuat bahagia sejahtera dan komunikasi yang salah dapat menyebabkan kehancuran. –ast

Naskah sudah dimuat di Koran Tokoh Edisi 555, 30 Agustus 2009
Foto : koleksi pribadi

Senin, 24 Agustus 2009

Pekerja percetakan Wajib Pakai Masker

Penggunaan masker di tempat kerja yang menghasilkan debu dalam proses kerjanya sangat perlu agar terhindar dari penykit terutama paru. Penyakit timbul akibat pemaparan debu yang terus menerus pada pekerja. Salah satnya gejala batuk-batuk.
Prof. Ketut Tirtayasa , M.S. AIF, Ketua Program Studi Magister Ergonomi-Fisiologi Kerja FK Unud lebih jauh mengatakan, pekerja d tempat kerja seperti saha penggergajian, pengamplasan, pabrik semen, garmen, dan percetakan wajib menggunakan masker. Penggunaan masker agar udara yang dihirup tetap bersih tidak tercemar bahan-bahan yang tidak baik untuk pernapasan. “Tempat kerja seperti percetakan banyak mengandung polusi debu, zat kimia, atau partikel lain yang dapat memengaruhi fungsi pernapasan,” jelas Pengajar Pascasarajana Fisiologi Kerja PS Ilmu Faal FK Unud ini.
Ia menyarankan tempat kerja yang banyak menghasilkan polusi seperti garmen dan percetakan sebaiknya membuat ventilasi di bawah sehingga debu tidak naik ke atas dan dihirup para pekerja. Namun, kata Prof. Tirta, banyak perusahaan tidak membuat tempat kerja yang nyaman bagi pekerjanya. Belum lagi ditambah kurangnya kesadaran pekerja menggunakan masker sebagai pelindung. Menurutnya berdasarkan aturan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) seharusnya perusahaan menyediakan masker bagi pekerjanya. Masker medis dapat digunakan. Cara penggunaanya warna putih di dalam dan warna hijau di luar. Bagian atas ditandai dengan kawat yang menempel pada hidung. Kawat tersebut bisa dibentuk sesuai bentuk hidung agar benar-benar melekat dan tidak longgar.
Ia menilai masker medis yang dijual di apotek sesuai standar kesehatan. Layaknya masker ini dibuat untuk sekali pakai. Namun, memungkinkan untuk dicuci. Namun, pencucian yang terlalu sering dapat mengurangi kualitas masker. Intensitas debu yang diserap lebih sedikit karena pori-pori sudah longgar. “Sebaiknya jangan terlalu sering dicuci. Kalau sudah kotor atau tidak nyaman, dan longgar lebih baik diganti yang baru. Jangan meminjam masker orang lain. Rawan penularan virus,” ujar salah satu dosen yang mengikuti Kongres Ergonomi 9-14 Agustus di Beijing Cina ini. Perusahaan bahan kimia berbahaya atau pabrik besi biasanya menyediakan masker khusus. Masker ini dibuat dari bahan khusus yang sudah dirancang sesuai keperluan dan dapat dicuci.
Ia menegaskan sosialisasi masker perlu dilakukan kepada pekerja. Ini menyangkut hubungan antar manusia dengan pekerjaannya dalam hal peralatan, lingkungan kerja, dan organisasi kerja. Tujuannya agar pekerja tetap sehat, aman, nyaman, dan produktif. –ast

Sabtu, 22 Agustus 2009

Masker Medis Pelindung Efektif Virus Flu Babi

Merebaknya virus flu babi membuat masyarakat resah. Mereka memborong masker untuk melindungi diri. Penjualan masker pun meningkat. Itu terlihat dari beberapa apotik di Denpasar. Ibu Desak karyawan Apotek Ganesa menuturkan sebelum ada kasus flu babi, masker hanya diminati para sales. “Mereka membeli masker untuk melindungi diri dari debu karena sering di jalan. Paling laku 1-2 buah. Itu pun tidak setiap hari,” ujarnya. Saat ini, kata Ibu Desak, penjualan masker meningkat. Tiap harinya, ada saja yang membeli. Malah sampai 10 orang. Beberapa masyarakat membeli satuan dan ada juga yang membeli satu dus. Satu masker harganya Rp 1.500. Menurut Ibu Desak, masker tidak dicuci. Setelah penggunaan paling lama 4 hari, masker dibuang. Masyarakat yang membeli masker terdiri dari berbagai lapisan. Selain pegawai rumah sakit, ada juga siswa sekolah, ibu rumah tangga dan karyawan. “Pembeli kadang bertanya bagaimana cara penggunaan masker yang benar,” tuturnya.
Meningkatnya pembelian masker juga dituturkan Ibu Agung, karyawan Apotek Ariadi. Menurutnya sebelum kasus flu babi merebak, masker hanya dibeli karyawan rumah sakit. Tapi sekarang, kata Ibu Agung, banyak yang membeli masker. “Tiap hari pasti ada saja yang membeli dua atau tiga orang,” katanya.
Menurut Kepala Bagian SMF Mikrobiologi Klinik FK Unud dr. I Dewa Made Sukrama, M.Si., Sp.M.K., penggunaan masker medis terbukti efektif melindungi masyarakat menghadapi wabah flu burung dan flu babi. Hal ini diperkuat hasil tim peneliti dari Universitas New South Wales Australia terhadap lebih dari 280 orang dewasa selama musim dingin 2006 dan 2007. Penelitian ini membuktikan masker medis merupakan cara paling murah melindungi masyarakat menghadapi epidemi flu babi.
Ia mengatakan masker adalah alat pelindung diri untuk pencegahan penularan dari orang ke orang. Masker yang digunakan adalah masker medis dengan standar WHO. Masker medis yang baik memenuhi standar bacterial filtration efficacy . Masker ini sudah dirancang khusus melindungi diri dari mikroorganisme bakteri dan virus. “Masker ini memiliki pori-pori yang memberikan ruang untuk hidung bernapas. Menggunakan masker tidak membuat sesak napas,” jelasnya. Sosialisasi penggunaaan masker sebaiknya dilakukan. Tujuannya agar masyarakat dapat memproteksi diri dengan benar tanpa harus berlebihan. Masker medis biasanya dibuat untuk sekali pakai. Ia menyarankan agar masyarakat menggunakan masker pada tempatnya seperti di bandara, ruamh sakit, atau tempat umum yang dicurigai ada penularan virus. Bagi penderita influenza sebaiknya menggunakan masker jika akan bepergian. Namun, langkah yang tepat sebaiknya beristirahat di rumah. Virus menular melalui bersin penderita yang dibawa lewat perantara udara. -ast

Koran Tokoh, Edisi Minggu 5
54, 23 Agustus 2009

Jumat, 14 Agustus 2009

Buku Sejarah Model Komik, Bangkitkan Minat Anak Belajar

BAGI para pencinta komik, siapa yang tidak kenal Jan Mintaraga. Komikus legendaris Indonesia ini memang sudah tiada. Namun, karya-karyanya yang memunyai ciri khas dan sarat nilai historis sangat mendapatkan tempat di hati penggemarnya. Kepiawaiannya dalam melukiskan sosok perempuan cantik dalam goresan penanya, membuat karyanya yang diawali tema roman ini menjadi idola tahun 1960an. Penggemar komik di Bali mendapat kesempatan bertemu dengan Linda Tilaar, istri Jan Mintaraga dalam acara “Ngobrol Bareng Pencinta Komik”, Sabtu (1/8) di Denpasar.

Menurut Linda mengawali kariernya, Jan memang menekuni komik roman. Karyanya yang memunyai ciri khas melukiskan sosok perempuan cantik membuat para pembacanya mengidolakannya. Banyak penggemar memberanikan diri mengirim surat ke Jan. Dari sekian banyak penggemarnya, Linda mengaku salah satunya. “Beruntunglah saya mendapatkan hati bapak,” ujar perempuan asal Manado ini sembari tertawa. Perempuan yang masih enerjik diusianya yang ke-59 ini berhasil memikat hati sang komikus dan menjadi pendamping hidupnya. Linda Mintaraga, bahkan mengilhami Jan dalam beberapa cover komiknya seperti Sebuah Noda Hitam.

Karya lukis Jan sangat dikagumi karena ia menggunakan cat air. Menurut Linda, tingkat kesulitan menggambar dengan cat air sangat tinggi dibandingkan cat minyak. “Lukisan dengan cat minyak bisa ditimpah, sedangkan cat air harus sekali jadi. Karena itu, dibutuhkan ketelitian dan kesabaran,” ujarnya.
Namun, jika diserang deadline, tak jarang Linda harus ikut serta membuat panel dan sedikit arsiran. Pertamakali membuat komik, Jan menggunakan rapido, kemudian beralih ke kuas.
Linda menuturkan jika Jan sedang mengarang dia tidak bisa diganggu. Tapi ketika membuat gambar, Jan membutuhkan Linda untuk membantunya memotong kertas dan membuat panel. Jan pun meminta Linda untuk selalu menemaninya menggambar. Linda ikut begadang menemani Jan menggambar. Jan sering kesal jika Linda tiba-tiba tertidur karena mengantuk. Rokok kretek selalu menemani Jan. Kebiasaan Jan merokok bak kereta api ini, memicu penyakit kanker paru-paru yang akhirnya merengut nyawanya tahun 1999.
Selain roman, Jan juga membuat komik silat seperti Teror Macan Putih, Alap-alap Gunung Gantungan, Karang Kambang, Rajawali dari Utara, Turangga Bayu, Kelelawar Bersayap Tunggal.

Linda mengatakan kesukaan Jan membaca buku sejarah Nagarakertagama, mengilhaminya membuat komik wayang seperti Ramayana dan komik sejarah Imperium Majapahit. Menurut Linda, Jan memunyai referensi kuat dalam membuat karya-karyanya. Bahkan, Jan sering datang ke museum untuk mengetahui lebih detil tentang komik sejarah yang akan dibuatnya. Linda menuturkan Jan sangat menyukai sejarah. Jan pernah berujar pada Linda, ingin sekali buku pelajaran sejarah dibuat seperti model komik agar anak-anak tertarik. “Bapak sering mengatakan generasi muda harus faham sejarah bangsanya. Untuk itu harus dilestarikan. Sejarah memberikan pemahaman kepada kita tentang arti kepahlawanan dan cinta tanah air,” tutur Linda mengutip ucapan mendiang suaminya itu. Namun, ide Jan belum kesampaian. Karya Imperium Majapahit adalah karya Jan menjelang detik-detik terakhirnya.

Jan Mintaraga dijuluki komikus berwawasan oleh kritikus Perancis Marcel Bonef karena kecintaannya akan ilmu pengetahuan dan selalu ingin belajar. Menurut Jan, membuat komik tidak boleh sembarangan, karena harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Apalagi komik sejarah. “Walaupun komik bersifat hiburan, komik juga dapat memberikan inspirasi kepada pembacanya,” kata Jan selalu kepada para komikus muda yang belajar kepadanya. Menurut Linda, banyak harapan Jan yang dititipkan padanya. Linda mengaku sedih melihat komik Indonesia ditinggalkan pembacanya dan beralih ke komik luar. “Sekarang ini komik Indonesia tidak laku dan kalah bersaing. Mereka lebih suka komik Jepang,” kata Linda. Harapan Jan seperti penuturannya pada Linda, ingin komik Indonesia kembali berjaya seperti dulu. Bahkan menjadi industri seperti musik atau film. “Perlu dukungan semua pihak, baik pemerintah, penerbit, maupun media,” tandasnya.

Menurut Trias, salah satu penggemar komik, setiap gambar yang dilukis Jan sarat akan arti. Ia mengatakan karya Jan sangat dinamis dan romantis. Sangat terlihat dari semua karya roman Jan seperti Sebuah Noda Hitam, Affair di Lembah Tali Putri, Fajar Menyingsing Juga, Cinta Yang Salah, Aku Bukan Untukmu. Sementara bagi David, Tommy dan Dewa dari Balicomics, setiap tokoh perempuan dalam karya Jan selalu terlihat cantik dan memikat. “Tokohnya sangat hidup. Jan Mintaraga memang seorang komikus kreatif dengan karya yang bermutu,” ujar Tommy penggagas Balicomics ini.


Satu Angkatan dengan GM Sudarta
Jan Mintaraga lahir di Jogjakarta 8 November 1942. Ia sempat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta dan Seni rupa Intitut Teknologi Bandung. Jan satu angkatan dengan GM Sudarta kartunis Om Pasikom di Kompas. Jan pernah bergabung dalam grup band Koes Plus dan mendapat bagian memegang alat musik drum. Jan memiliki empat putri Patsy Mintaraga, Lorraine Mintaraga, Nana Mintaraga, dan Bernadette Mintaraga. Dari keempat putrinya, hanya putri pertamanya yang menurunkan bakatnya jago dalam menggambar. –ast

Sudah dimuat di Koran Tokoh, Edisi 522, 9 Agustus 2009

Kamis, 06 Agustus 2009

Yang dicari Komik Wayang, Yang ditemukan Komik Jepang


KOMIK wayang langka di pasaran. Meskipun toko buku Gramedia dan Gunung Agung masih menjualnya, serinya tidak lengkap. Komik wayang juga sulit ditemui di kios penyewaan komik. Padahal legenda klasik seperti Mahabharata banyak memuat filosofi kehidupan yang mengajarkan manusia untuk selalu berbuat kebenaran.

Menurut Prof. L.K. Suryani, orangtua zaman dahulu tidak pernah mengajarkan karma pala, tetapi mereka menceritakan kisah-kisah kehidupan. Komik wayang banyak menceritakan drama kehidupan tentang pemahaman baik dan buruk. “Komik wayang baik dibaca anak-anak,” kata Suryani.

Bowo, penjaga salah satu kios penyewaan komik di Panjer, Denpasar, mengatakan sejak 2001 komik Mahabharata telah raib. Kabarnya komik diburu kolektor dari Jakarta. Tiap hari kios yang menyediakan ribuan komik dan novel ini didatangi sekitar 20 pengunjung. “Sebagian besar anak SMA dan kuliahan. Mereka menyukai komik Jepang,” tuturnya.

Beberapa kali kios tempatnya bekerja didatangi siswa sekolah yang mencari komik wayang. “Mereka mencari komik Mahabharata untuk tugas sekolah. Jarang yang mencarinya khusus untuk dibaca,” ujar Bowo. Lesunya komik wayang juga dipengaruhi selera pasar. Tren yang digandrungi saat ini komik Jepang. “Komik wayang masih diburu karena nostalgianya bukan ceritanya. Komik Mahabharata identik dengan R.A. Kosasih. Walaupun ada pengarang lain, kolektor tetap memburu karya Kosasih. Waktu kecil saya juga suka R.A. Kosasih. Gambarnya memunyai ciri khas,” lanjutnya.

Komik Wayang Pahami Hidup
“Saya memunyai koleksi hampir ratusan komik. Saya masih ingat, Mahabharata ada 16 seri,” ujar Rosa sapaan akrab Rosalina Norita. Ia mengaku hanya dijatah membeli satu buku tiap bulannya. Terpaksa harus puas hanya membaca di toko buku. “Jika ada yang bagus, waktunya tepat, saya beli,” tutur Executive Asisstant Director Grup Rudana Putra (GRP) ini sembari tertawa.

Sejak usia lima tahun, Rosa telah mulai tertarik mengenal buku cerita bergambar, termasuk komik Mahabharata, tertarik melihat gambar wayangnya. Walaupun ia belum paham, kerap dilihat-lihatnya buku komik tersebut. Setelah duduk di bangku SD, mulai dibacanya kisah dua bersaudara Pandawa dan Kurawa. Dalam pandangannya komik wayang dapat dijadikan landasan untuk memahami hidup. Banyak contoh nyata perbuatan baik dan buruk yang dapat dipahami dengan mudah.

Anak-anak jika ditanya setelah besar ingin menjadi apa? Tak jarang spontan terdengar jawaban, ”Dokter”. Memasuki SMP pandangan terhadap hidup ini acap berubah. Usia dewasa mengalami beragam benturan dengan kehidupan yang lebih kompleks. Kala pertanyaan masa kecil diulang kembali, ”Setelah besar ingin menjadi apa?” Meluncur jawaban tanpa beban, ”Terserah nanti,” tuturnya.

Menurut Rosa, dalam proses pertumbuhan kita mengalami suatu perubahan dalam diri. Untuk memahami kehidupan, komik wayang dapat digunakan sebagai salah satu acuan.

Wajah Krisna yang tampan, sikap bijaksana, tutur kata yang halus, membuat perempuan berusia 40 tahun ini mengidolakan tokoh pewayangan ini. Juga terkesima pada Bima. Bima mewakili sosok kuat yang senantiasa membela adik-adiknya. Memberi contoh teladan ada cinta keluarga di dalamnya.

Komik Wayang Membuat Peka
Komik Mahabharata mengajarkan nilai-nilai luhur dalam keluarga dan sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Saat ini ada perubahan besar di sekolah. “Dulu kesusastraan diajarkan di sekolah. Sekarang anak-anak lebih suka belajar teknologi. Kesusastraan membuat anak-anak lebih sensitif. Komik Mahabharata banyak mengandung nilai positif yang dapat membuat lebih peka,” kata Rosa.

Di tengah gempuran globalisasi, cerita pewayangan masih layak dijadikan pedoman hidup. “Para orangtua seharusnya menyadari banyak hal dapat dipetik dari komik wayang. Banyak pesan moral kebenaran dan kebajikan. Komik wayang mesti dibangkitkan kembali,” tandasnya. Ini menjadi peluang bagi generasi muda. Jika ingin mengikuti perkembangan zaman, dapat dibuatkan tapebook seperti di AS. Buku dibuat dalam bentuk CD, sehingga dapat didengarkan. Materinya dapat berupa cerita pewayangan seperti Mahabharata dan Ramayana.

Dokter Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp. KJ., menuturkan pertama kali mengenal komik wayang saat berkunjung ke rumah kakeknya. Melihat buku komik tersebut, enam bersaudara ini berebut untuk membacanya. Tak seorang pun rela mengalah. Maka, dibuatlah aturan. Kakak tertua diputuskan mendapat giliran membaca yang pertama. Satu buku satu minggu. Mereka pun harus rela berbagi dengan saudara sepupu. Dijatah satu buku untuk satu keluarga. Mereka sepakat menabung uang saku untuk membeli komik.
Enam bersaudara ini seluruhnya laki-laki. Berjarak satu tahun dengan saudara berikut. Cok Jaya Lesmana mengaku kerap terjadi pertengkaran antarsaudara. Akhirnya cerita Mahabharata menyadarkan mereka. Tidak mau berperilaku seperti Kurawa.
”Dengan mengibaratakan diri sebagai Panca Pandawa ditambah Karna membuat kami merasa sebagai satu keluarga untuk saling menghormati satu sama lain,” tuturnya. Hal senada dilontarkan pebasket nasional Cokorda Raka Satrya Wibawa, adik Cokorda Jaya Lesmana. Setelah dewasa dan menikah, nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam legenda klasik tersebut masih membekas. Cerita Mahabharata secara tidak langsung telah membentuk kepribadiannya.
Tahun 2004 saat bertandang ke rumah pamannya, tanpa sengaja ia melihat komik Mahabharata. Design telah berubah. Ada hardcover dan gambarnya berwarna. Ia tertarik kembali untuk membacanya. Walaupun ceritanya sama, tak ada rasa jenuh di dalamnya. Justru rasa kangen untuk kembali membacanya. Sungguh disayangkan komik wayang mulai menipis di toko buku. Serinya sulit dicari. Anjuran pria jangkung ini, agar seri dikemas dalam satu bendel hingga ending.

Kenalkan Komik Usia 9 Tahun
Dalam mendidik keenam putranya itu, Prof Suryani menekankan pesan moral yang terkandung dalam komik. “Setelah anak-anak membaca komik, saya beri mereka pemahaman agar mengerti.

Tidak dilepas begitu saja,” ujarnya. Tanpa sadar, akhirnya akan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Cara mendidik ini diperoleh dari orangtuanya.
“Sejak kecil saya biasa mendengarkan cerita Bapak. Berdasarkan pengalaman itulah patokan saya buat. Tidak perlu mendidik anak dengan memarahinya. Cukup dengan bercerita,” kata Ahli Kejiwaan FK Unud ini.
Anak-anak menyukai komik karena lebih banyak gambarnya. Komik menciptakan dunia khayal.

“Sebaiknya dikenalkan pada usia 9 tahun, ketika anak-anak telah mampu membaca. Pada usia ini logika sudah jalan. Jika belum bisa membaca, orangtualah yang bercerita,” jelas Suryani.

Sangat penting mengembangkan imajinasi pada anak. Efek membaca komik berbeda dengan menonton TV. Saat membaca komik, anak-anak membayangkan bagaimana cerita itu. Sangat baik untuk perkembangan kecerdasannya. Menjadi kreatif. Juga merangsang minat baca. Harus dilanjutkan dengan memberi buku-buku pengetahuan sehingga gemar membaca menjadi budaya. -ast

sudah dimuat di Koran Tokoh, Edisi 551