Kamis, 30 Desember 2010

Catatan dari Dialog LSM Perempuan

Jangan Pandang Janda Sebelah Mata.

Data Direktorat Reskrim Polda Bali menyebutkan, jumlah kejahatan terhadap anak di Bali tahun 2008 120 kasus, tahun 2009 122 kasus, dan tahun 2010 125 kasus. Bahkan, kejahatan yang dilakukan terhadap anak perempuan lebih banyak. Data kekerasan terhadap perempuan sampai bulan Desember 2010 mencapai 70 kasus yang diadukan ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP) Prov. Bali. Kenyataan ini membuat Forum Komunikasi Perempuan Mitra Kasih Bali bekerja sama dengan para LSM perempuan di Bali berdialog dengan pihak eksekutif dan legislatif, Rabu (15/12) di Wantilan DPRD Provinsi Bali.
Sebagai pembuka anak-anak dari Sanggar Ari Yayasan Ketut Alon Mas, Ubud binaan KPAID Bali, melakukan pementasan barong dan kera. Hiburan ini menyampaikan pesan, masih banyak orang berperilaku seperti kera melakukan kekerasan terhadap anak-anak.

Ketua DPRD Provinsi Bali A. A. Oka Ratmadi dalam pengantarnya mengatakan, perempuan berkedudukan sama dalam undang-undang. Mengapa perempuan takut untuk berkiprah dalam berbagai lini kehidupan. Laki-laki harus sadar diri kekuatan perempuan luar biasa. Namun, dalam kehidupan sehari-hari banyak ketidakadilan yang menimpa perempuan. “Perempuan bisa kerja apa saja, asalkan dia menguasai iptek. Perempuan sudah diberi kesempatan, harus diambil,” ujarnya.
Ia mengaku miris, masih ada yang memandang sebelah mata kepada para janda. Padahal, status janda bukan karena mereka menginginkannya, tetapi banyak penyebabnya, suami meninggal atau terjadi KDRT sehingga mereka memilih bercerai. “Semoga ini bisa menjadi bahan renungan,” ujarnya.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Bali Ni Made Sumiati, S.H. mengatakan, pekerjaan perempuan dari bangun tidur sampai mata suami terpejam. Perempuan dalam sloka agama disanjung, namun, dalam pelaksanaannya masih banyak terjadi kekerasan terhadap dirinya. Wakil; rakyat asal Karangasem ini mengatakan sudah melakukan banyak hal untuk menyuarakan suara perempuan. “Di Bali sudah ada dua perda yang dihasilkan, Perda Trafiking serta HIV/AIDS, dan Perda Inisiatif untuk Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak,” kata Sumiati.

Menurut Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali Tuti Kusumawardani jika perempuan memunyai kemauan dan mampu berperan aktif, pasti mampu. Ia sudah membuktikan. Ibu tiga anak ini melangkah dari awal, mulai bekerja ikut orang, lalu bergerak menjadi pengusaha, namun, tidak melupakan tugas sebagai ibu dan istri. Perjuangan perempuan di DPRD sangat berat karena di di tingkat provinsi hanya 4 orang. Namun, ia mengaku tidak akan surut memperjuangkan nasib perempuan.
Ketua Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Bali Luh Putu Haryani mengatakan pihaknya sedang gencar-gencarnya menyosialisasikan konsep gender agar masyarakat tahu apa itu gender. Isu gender ada di berbagai lini kehidupan. Perempuan harus pintar. Indeks prestasi perempuan di Bali sangat rendah, padahal ibu pendidik utama bagi anak. Isu bidang ekonomi, laki-laki mendapatkan gaji lebih besar daripada perempuan, padahal beban pekerjaan sama. Saat menstruasi perempuan harus tetap bekerja. Rendahnya perempuan dalam memperoleh akses kredit sehingga menghambat kemajuan ekonomi perempuan. Isu gender bidang politik perempuan sedikit memegang jabatan. Pejabat eselon II hanya 5 orang laki-laki 29 orang, eselon III 58 orang laki-laki 192 orang, eselon IV 209 orang laki-laki 453 orang. Jumlah PNS laki-laki 4543 dan perempuan 2310. Hasil Pemilu 2009, 390 anggota DPRD terdiri atas 28 perempuan dan laki-laki 362 orang. Isu kesehatan, angka kematian ibu dan anak meningkat, walau di Bali masih berada di bawah angka nasional. Transportasi masih bias gender, tangga sangat tinggi sehingga kalau naik tangga menggunakan rok akan terlihat dari bawah. Ia mengatakan, sudah melakukan banyak hal, mewujudkan perencanaan dan pengelolaan anggaran daerah yang responsif gender, di samping mengembangkan jaringan kerja sama dengan LSM perempuan.
Menurut Wayan P Windia dari Majelis Utama Desa Pakraman Bali, perempuan Bali tak perlu merasa terpinggirkan, sudah ada aturan yang mengakomodir kepentingan perempuan dan anak. Paruman MUDP sudah mengakomodir hak perempuan. Kedudukan laki dan perempuan sejajar, anak perempuan berhak mendapatkan warisan orangtuanya, jika terjadi perceraian harta guna kaya dibagi dua, dan anak bisa diasuh ibunya sampai batas yang disepakati bersama, dan si ayah wajib memberikan nafkah. Paruman Agung MUDP juga memutuskan arti meninggal kedaton, meninggalkan rumah tapi tidak lagi memeluk agama Hindu maka mereka tidak berhak atas harta warisan. Ia mengajak pemuka adat, membuat produk hukum yang memihak perempuan.
Windia menegaskan, kalau ingin tahu tentang hukum adat Bali, ada tiga hal yang harus dikuasai yakni agama Hindu, tahu sistem sosial di Bali (desa pakraman, subak), dan kekerabatan.
Sri Wigunawati mengaku prihatin banyaknya tukang suun anak-anak, anak korban traficking/seksual, kornban bencana, anak lahir tanpa mendapat hak sipil, korban narkoba, gepeng, harus ada perda bagi mereka. Berapa anggaran yang disiapkan untuk itu, siapa yg bertanggung jawab?
Ardiaska dari Aliansi We Can mengatakan, sudah lebih dahulu menyosialisasikan kampanye antikekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Tabanan. Sasarannya, sekolah, masyarakat, dan desa pakraman.
Ketua Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH A{IK) Nengah Budawati mengajak semua peserta dialog untuk membubuhkan tanda tangan di kain putih yang bertuliskan change maker we can sebagai kepedulian untuk menghentikan KDRT. Stop kekerasan terhadap perempuan divisualisasikan dalam bentuk tarian dan lagu.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bali Komang Suarsana mengatakan, KPI sudah membuat acuan program penyiaran khususnya televisi, tetapi faktanya masih banyak televisi yang tayangannya merendahkan perempuan. Sajian televisi lokal sudah diingatkan agar dikembalikan roh dan spiritnya ke pakemnya. Luh Haryani mengakui anggaran belum maksimal tapi usaha akan terus dilakukan.
Menurut Sumiati, isu pendidikan sudah ada kejar paket, masalahnya data anak yang belum mendapatkan pendidikan belum jelas. Masalah perdagangan perempuan sudah ada perda tinggal diawasi saja serta penanganan dan pendampingan konselor. Korban bencana ada tupoksi perkasus di kabupaten/kota. Penanganan gepeng hanya mengimbau, harus ada kejelasan apakah ada sanksi bagi pemberi uang kepada gepeng.
Dr. dr. Dyah Paramita Duarsa, M.Si. dari Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Prov. Bali mengatakan, estimasi orang dekat dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bali meningkat terus. Total sampai Oktober 2010, 7319. Denpasar menduduki peringkat teratas disusul Badung. Malah isu teranyar, istri mengidap HIV jumlahnya mencapai 200 orang yang kebanyakan didapat dari suami. Mungkin masih banyak lagi yang belum terdata. Berapa bayi tanpa dosa yang akan lahir dengan banyaknya ibu yang menderita HIV. Walaupun sudah ada perda, sepertinya tidak cukup, harus ada komitmen anggaran dana untuk bisa menanggulanginya.
Sofie salah seorang perwakilan Gaya Dewata mengaku, banyak stigma terutama pelanggaran HAM, diusir dari suatu tempat, yang mereka alami. Padahal, kata Sofie, dari segi pendidikan, mereka sangat mumpuni. Ia berharap, mereka diberi kesempatan berkreativitas sesuai dengan kemampuan mereka. –ast

KOran Tokoh, Edisi 623

Curhat Penghuni LP, Perceraian 70%

Hari itu naas bagiku. Aku mau saja disuruh mengganti kartu ATM nasabah, walau aku tahu kartu itu bukan miliknya. Aku merasa seperti terkena hipnotis, aku mau melakukannya. Aku baru bekerja setahun. Namun, aku tidak menyangka ini akan terjadi padaku. Pemilik kartu ATM akhirnya melapor, uangnya raib. Aku akhirnya mengaku karena kelalaianku nasabah dirugikan. Karena salahku, aku harus bayar ganti rugi Rp 12 juta. Kini aku sedang proses persidangan. Aku sudah menghuni Lapas selama tiga bulan. Aku tidak tahu sampai kapan harus di sini. Aku hanya khawatir, bagaimana hidupku nanti setelah keluar. Apakah masih ada orang yang menerimaku bekerja. Terkadang aku menangis sendiri merenungi nasibku. Walau keluargaku selalu menjengukku dan memberiku semangat untuk tetap sabar, pikiran negatif terus berkecamuk di kepalaku. Begitulah penuturan Cantik, seorang penghuni Lapas Denpasar, kepada wartawati Koran Tokoh, saat kunjungan ke Lapas Denpasar bersama Forum perempuan, Selasa ( 14/12).

Usia cantik masih muda, 20 tahun. Ia salah satu penghuni dari 99 orang di blok perempuan.
Pelaksana harian Lapas Denpasar I Wayan Landriana S.H. mengatakan, saat ini penghuni Lapas Denpasar berjumlah 954 orang. Padahal daya tampung hanya 350 orang. Warga binaan perempuan berjumlah 99 orang, dan anak berjumlah 12 orang. Sisanya laki-laki. Sebanyak 36% kasus narkoba, lainnya kasus penipuan dan pembunuhan.
F. Romana salah seorang sipir perempuan mengatakan, kasus narkoba terbanyak di blok perempuan. Selebihnya penipuan, pencurian, dan penggelapan. Belum ada kasus pembunuhan.
Prof. dr. Luh Ketut Suryani mengaku terkejut ada anak yang dihukum dan ditempatkan di Lapas Denpasar. Padahal, LP anak sudah ada di Karangasem. Ia mengaku khawatir, bisa jadi anak tersebut dulunya tidak memakai narkoba malah belajar menjadi pemakai narkoba di Lapas.
Landriana mengatakan, untuk 6 anak hanya dititipkan karena masih proses peradilan. Beberapa anak menjadi penghuni lapas karena putusannya pendek tiga atau empat bulan sehingga tidak dipindahkan ke LP anak.
Prof Suryani hanya mengingatkan kepada staf lapas, sebulan waktu yang sangat lama, apalagi lebih dari sebulan. Anak bisa belajar apa saja di Lapas, termasuk belajar menjadi pemakai narkoba.
Namun, Landriana berkilah, blok anak terpisah. Namun, kata Suryani, tetap saja itu tidak menjamin. “Apakah tidak bisa dipindahkan ke Lapas khusus anak,” saran Suryani. Landriana berjanji akan mempertimbangkannya.

Nasi Keras
Bela, penghuni lainnya, mencoba berbagi kisah. “Nasi yang diberikan keras tidak seperti nasi yang biasa di makan di luar Lapas. Untungnya masih ada sayur, telur, dan daging,” ujarnya. Lain lagi penuturan Beverly warga Filipina ini. Dengan mengunakan bahasa Inggris ia mengaku kulitnya gatal karena air yang digunakan mandi kotor. Mendengar keluhan warga binaannya, Landriana, menjawab, begitulah beras yang dikirim ke Lapas. “Nasi keras bukan karena salah dalam proses memasak, tapi memang kualitas berasnya seperti itu.
Ia mengatakan, jatah bagi satu warga binaan Rp 8500 sudah termasuk nasi, lauk-pauk, sayur untuk tiga kali makan dalam sehari,” paparnya.

Tahun 1997 ia mengakui Lapas Denpasar memang kekurangan air, sampai mendatangkan mobil tangki. Tapi sejak sudah ada sumur bor dan di blok perempuan ada tower, kekurangan air sudah ditangani. Sampai sekarang, kata dia, belum ada laporan dari warga binaan, masalah air kotor. “Mungkin saja pengaturan air kurang merata. Keadaan di lapas sudah over load. Satu kamar dihuni sampai 10 orang. Pengaduan itu akan kami sikapi,” ujarnya.
Suryani meminta, karena nasi keras alangkah baiknya jika tetap panas, sehingga masih layak untuk dimakan. Ia berpesan kepada penghuni lapas, tujuan dihukum agar sadar dan tidak mengulangi kesalahan. Yang terjadi biarkan lewat, setelah keluar dari lapas hendaknya menjadi manusia baru. Ret, korban kasus narkoba mengaku banyak mengalami perubahan sejak di Lapas. Ia lebih sabar dan tabah. Ia sudah berhenti tiga tahun lalu sebagai pemakai. Namun, saat main ke café dijebak oleh teman sendiri. Ia menyesal. Ia harus merelakan dirinya di penjara sampai masa hukumannya berakhir tahun 2012.

Prof. Suryani mengajak semua korban narkoba mencari tahu, apa latar belakangnya sampai menjadi pemakai. “Kalau Anda bisa menemukan apa penyebabnya, batin Anda bisa bebas. Keluar dari Lapas tidak menjamin Anda bebas, kecuali Anda berani menolak dan berhenti bergaul dengan teman-teman pemakai, baru Anda bisa bebas. Korban narkoba lainnya An mengatakan hukuman yang diterima tidak setimpal dengan kesalahan yang mereka perbuat. Ia merasakan hukuman terlalu berat karena mereka korban.
Mendengar curhat para penghuni Lapas, Prof. Suryani mengaku prihatin. Seharusnya mereka diobati bukan dihukum. Kasihan bagi si pemakai, mereka harus bergaul dengan pelaku kejahatan lain. Padahal, mereka perlu direhabilitasi.
He korban lainnya, menginginkan ada sosialisasi tentang hukum. Apa hak mereka. Mungkin perlakukan para pembina sudah sangat maksimal, tapi ketika ada perubahan dalam hukum, mereka juga perlu tahu karena sering terjadi pelaksanaan di lapangan berbeda. He mengaku prihatin, karena sebagian besar penghuni Lapas Denpasar perempuan produktif. Kami butuh dukungan LSM. Tingkat perceraian di Lapas mencapai 70 persen. Ketika perempuan menjadi penghuni lapas, para suami meninggalkan mereka begitu saja. Setelah keluar mereka juga diisolasi oleh masyarakat.
Anggota DPRD Kota Denpasar Wayan Sari Galung yang turut hadir saat kunjungan ke Lapas mengaku setuju jika pemakai narkoba sebaiknya dibina.

Suami Pergi
Kisah lain dituturkan Wi, ibu satu anak. Dulu, ia pernah bekerja sebagai TKW di Taiwan. Karena suaminya ia pindah ke Bali dan direkrut pembantu oleh salah satu yayasan. Kemudian ia dipekerjakan di salah satu keluarga. Namun, baru tiga hari ia bekerja, ia mengaku tidak betah. Kerjanya banyak dan ia dijanjikan gaji Rp 500.000. Ia nekad mencuri laptop dan menjualnya untuk ongkos pulang ke Jawa. Naas baginya, ia tertangkap langsung. Lima bulan sudah ia jalani hidup di penjara. Suaminya pergi meninggalkannya. Ia pasrah. Anaknya yang baru berusia tiga tahun dititipkan di rumah orangtuanya di Jawa. Ia menyesal, tapi apa dikata. Sisa hukumannya lagi 5 bulan. Setelah keluar Lapas ia berencana kembali bekerja menjadi TKW.

20 Sipir Perempuan
Dewa Ketut Jaya salah satu staf Lapas Denpasar mengatakan, penghuni baru biasanya dimasukkan terlebih dahulu ke ruang isolasi. Ruangan ini fungsinya untuk pengenalan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan. Setelah seminggu atau paling lama sebulan penghuni dipindahkan ke blok. “Kalau mereka melakukan pelanggaran, kami masukkan mereka ke sel agar mereka jera,” ujar lelaki yang pernah bertugas di Papua ini. Penghuni biasanya suka ribut malam hari, bahkan sampai melakukan kontak fisik. Penghuni lain akan berteriak. Ada saja masalahnya, kehilangan barang atau ketersinggungan. “Kalau sudah begini, kami masukkan ke sel, agar mereka jera,” kata Dewa.
Namun, ia mengakui, penghuni Lapas sudah di luar kapasitas. Dengan jumlah petugas termasuk staf 125 orang, mereka kewalahan. Saat piket mereka bergantian sekitar 10 orang. Tentu tak semuanya bisa diawasi dengan baik. Piket petugas bergantian, mulai pukul 7 pagi sampai 1 siang, diganti lagi petugas piket lainnya sampai pukul 19.00. Ganti lagi petugas lain sampai pukul 1 pagi. Terus begitu seterusnya.
Hal itu dibenarkan Sipir perempuan F. Romana. Ia juga tidak membantah sering terjadi gesekan antara penghuni. Masalah sepele bisa jadi ribut. Air mandi kurang, ada yang duluan nyerobot. “Saya tidak menyalahkan mereka, mungkin pikirannya ruwet. Memikirkan anak atau suami. Kami hanya berprinsip, melayani mereka dengan baik,” lanjutnya.
Selama bekerja 25 tahun di lapas ada cerita lucu, manis, kadang juga membuat Romana terharu. “Kadang saya tertawa mereka bisa lepas bercanda. Saya senang mereka mau curhat dengan jujur. Tapi kadang, aturan dan kebijakan sering berbenturan. Kami menghadapi manusia bukan kertas. Mereka punya perasaan. Ini menguatkan kami, membuka pikiran kami untuk bersyukur, masih bisa bebas menghirup udara segar, dan tetap memberi pelayanan,” tutur ibu dua anak remaja ini. Saat ia memutuskan bekerja menjadi sipir penjara, ia mengaku sudah siap risikonya. Ia mengaku bekerja di Lapas sebagai pekerjaan mulia, bisa melayani orang. Suami dan dua anaknya sangat mendukungnya.
Sabtu Minggu, harusnya libur. Namun, ia mengaku lebih suka bekerja karena waktu besuk biasanya ramai. Jumlah sipir perempuan terbatas hanya 20 orang sehingga libur harus gantian. Untuk kasus narkoba, penghuni juga mendapatkan penanganan dokter. Ada dua dokter umum yang siap melayani mereka. Pembinaan umat Kristiani tiap hari Minggu, Senin, dan Rabu. Untuk Muslim hari Senin, Kemis, dan Jumat. Untuk Hindu hari Senin, Rabu, dan Purnama Tilem. Selain itu, ada juga penyuluhan dari Kementerian Agama tentang kerohanian.

Curi HP
Salah satu penghuni Lapas Denpasar tampak seorang anak perempuan yang lagaknya seperti laki-laki. Usianya masih muda 14 tahun. Baru kelas I SMP. Tak tanggung-tanggung, kejahatan yang ia lakukan membobol toko HP bersama temannya. Ia belum tahu berapa lama hukuman yang akan ia terima karena masih proses persidangan.
Saat ketahuan mencuri, sang ibu sempat melontarkan pertanyaan kepadanya, mengapa kamu mencuri, apakah kebutuhan kamu kurang di rumah.
Gadis itu hanya tersenyum mengingat pertanyaan ibunya itu. “Saya hanya ikut teman,” akunya polos.
Made, teman gadis tadi. Dialah yang mengajaknya membobol toko HP. Sebanyak 38 HP dan 200 voucher isi ulang dicurinya.
Made, baru kelas 6 SD. Ibunya bekerja sebagai pedagang dan bapaknya tidak bekerja. Ia sudah mengenal rokok. Uang jajannya Rp 5000. Tapi ia mengaku tidak cukup untuknya. Ia memang suka mencuri, tapi belum pernah tertangkap.

Ketua Forum Mitra Kasih Bali Luh Anggreni, S.H. mengatakan, kegiatan kunjungan ke Lapas Denpasar dalam rangka memperingati Hari Internasional Anti-kekerasan terhadap Perempuan (25/11), Hari Hak Asasi Manusia ( 10/12) dan Hari Ibu ( 22/12). “Kami bekerja sama dengan segenap LSM perempuan di Bali. Selain berbagi keceriaan, penghuni kami ajak bermeditasi bersama Prof. Suryani. Forum Perempuan juga meninjau blok perempuan,” kata Anggreni. –ast

Koran Tokoh, Edisi 623

Kamis, 09 Desember 2010

PESONA SERANGAN

Murid 15 Sekolah Jadi Nasabah Bank Sampah
Bakar Sate Gunakan Briket Sampah

SELAMA ini bank dikenal sebagai tempat menabung uang. Namun, bank satu ini sangat berbeda. Namanya Bank Sampah. Murid dari 15 sekolah di Denpasar menjadi nasabahnya. Siswa datang bukan untuk menabung uang, tetapi mereka menjual sampah dan dibayar dengan buku tabungan. Siswa bisa menarik uang tabungannya kapan saja mereka mau. Ide kreatif beberapa orang pemerhati lingkungan ini ikut memeriahkan Pesona Serangan yang berkangsung di depan areal Pura Sakenan, Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan, 26 – 28 November.
Ketut Suarnaya, salah seorang staf Bank Sampah mengungkapkan, idenya terbentuk sebagai rasa keprihatinan beberapa orang yang sangat peduli terhadap lingkungan. ”Kami ingin sedari dini anak-anak diajari mencintai lingkungan dan menjaga kebersihan, selain bisa menghargai uang,” ujarnya. Atas dasar kepedulian untuk menjadikan Denpasar bersih dari sampah, mereka sepakat 26 September 2010 membentuk Bank Sampah Cahaya Partha Jaya. Ia menuturkan, nasabahnya sudah berjumlah ratusan, dari anak TK sampai remaja. Sampah-sampah yang dibeli, kemudian diolah menjadi produk kerajinan yang sangat kreatif dan inovatif. Tak tampak sedikit pun barang kerajinan itu berasal dari sampah yang kotor. Dengan cat warna warni, berbagai vas bunga bisa dihasilkan dari botol mineral dan soft drink. Ia berharap, makin banyak anak-anak yang peduli terhadap sampah dan menjadikan sampah barang berharga.
Beberapa sekolah yang berbasis lingkungan seperti SMAN 5 Denpasar, SMAN 6 Denpasar, SMKN 2 Denpasar, dan SMPN 4 Denpasar, ikut berpartisipasi dalam Pesona Serangan. Mereka memajang hasil olahan sampah menjadi barang yang berharga dan menghasilkan uang, mulai dari kompos, aksesori, tas, buku, alat tulis, vas bunga. Beberapa siswa memadati stan Bank Sampah. Mereka ingin berbagi pengalaman untuk dapat lebih menghasilkan karya terbaik dari olahan sampah.


Briket dari Sampah

Ide kreatif juga datang dari salah seorang warga asli Serangan. Giri Parwata, pengelola Depo Restu Bumi di Serangan, yang berprofesi sebagai pengusaha dan pemerhati lngkungan sedang menggagas pembuatan briket dari sampah organik.
Alit Darmayuda kini meneruskan usaha itu karena kakaknya, Giri, sedang sakit. Menurut Alit, sangat sulit mengajak warga Serangan untuk tertarik mengelola sampah menjadi barang berharga, apalagi menghasilkan uang. ”Untuk mengajak mereka rapat saja sulit. Bahkan, dengan uang pancingan Rp 25.000 untuk datang rapat, mereka tidak tertarik. Tujuan kami hanya satu, ingin membebaskan Serangan dari sampah,” ujar lelaki yang berprofesi sebagai pengusaha ini.
Ia menuturkan, dari modal sendiri, Giri mengajak tiga pemulung untuk ikut membantunya membuat briket. Dengan berbagai pengujian bahkan sampai lima kali, akhirnya usahanya tidak sia-sia. Setelah mampu mengolah sampah organik menjadi briket ia berikan kepada masyarakat secara cuma-cuma. Hal ini dilakukannya untuk mengetuk hati warga Serangan agar mereka tertarik untuk bergabung.
Namun, usaha Giri dan adiknya memerlukan perjuangan berat. Sampai sekarang, setelah usaha ini berjalan setahun, belum ada perhatian apa pun dari masyarakat Serangan. Namun, Alit mengaku tidak patah semangat.
Alit mengatakan, pembuatan briket sangat mudah. Namun, hambatan selama ini karena ia menggunakan alat manual. Semua dilakukan dengan tangan bukan mesin. ”Kami kekurangan modal untuk membeli mesin. Tetapi, kami tetap berjalan pelan-pelan sesuai kemampuan,” kata Alit.

Selain pembuatan briket, sampah organik juga dibuat pupuk cair. Daun-daunan dan sampah canang dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam drum. Lubangi drum bagian bawah untuk tempat kran. Isi serutan kayu paling atas. Tambahkan air dan biarkan seminggu. Setelah tercium bau fermentasi, lewat lubang kecil di bawah drum, pupuk sudah bisa dihasilkan. Pupuk cair ini dapat diolah menjadi briket. Caranya, ampas pupuk cair dijemur sampai kering. Kemudian dibakar setengah matang. Kemudian dengan mesin penggilingan, ampas diayak. Hasil ayakan dicampur lem, kemudian dicetak. Proses terakhir penjemuran. Briket siap digunakan. Menurut Alit, nyala briket ini sangat bagus untuk pembakaran. Memang ia mengakui api berwarna merah tidak seperti nyala briket batubara yang berwarna biru. Namun, kata dia, briket ini asapnya sedikit. ”Kami sudah mencoba briket ini untuk membakar ikan atau sate dengan panggangan karena kompor khusus briket kami tidak punya. Tetapi, rencana ke depan, kami juga akan mengusahakan pembuatan kompornya,” ujar Alit. –ast


Koran Tokoh, Edisi 621, 5-11 Desember 2010

Selasa, 30 November 2010

Jangan Remehkan Nasi Sela

BANYAK orang memandang remeh ubi jalar merah. Padahal, ubi yang satu ini mengandung beragam zat gizi yang sangat baik bagi tubuh. Masyarakat Bali memiliki makanan tradisional nasi sela. Apakah kandungan gizi nasi sela mampu memberi kontribusi optimal bagi tubuh?

”Selain untuk memenuhi unsur gizi dalam tubuh, makanan yang dikonsumsi sehari-hari hendaknya beragam agar tidak menimbulkan kebosanan. Dengan beragamnya makanan, beragam pula zat gizi yang dikonsumsi, karena tidak ada satu pun makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan manusia,” ujar Ahli gizi Poltekes Denpasar Ida Ayu Eka Padmiari, S.K.M., M.Kes.
Ia menyarankan, untuk mengonsumsi ragam bahan makanan perlu dilakukan pencampuran makanan atau biasa disebut makanan campuran, misalnya beras dengan ubi jalar atau nasi sela, beras dengan jagung, beras dengan kacang kedelai. Campuran bahan ini, kata Dayu Padmiari, akan memaksimalkan zat gizinya dan akan melengkapi zat gizi yang dibutuhkan.

Makanan campuran yang merupakan makanan tradisional Bali khususnya dan di Asia umumnya adalah campuran beras dengan ubi jalar yang sangat khas yang disebut nasi sela. Bahan pangan pokok yang selalu dimakan orang Indonesia umumnya tiap hari adalah nasi. Namun, sebenarnya masih banyak bahan makanan lain yang memiliki kandungan gizi tidak kalah daripada nasi. Jadi, makan besar tidak harus dengan nasi, masih banyak bahan makanan lainnya.

Ia mengatakan, masyarakat Indonesia sudah tergantung pada nasi dan menganggap kalau belum makan nasi berarti belum makan. Sumber karbohidrat lain seperti roti, ubi, mi, bihun, kentang, jagung, umbi, talas, singkong, termasuk makaroni, spageti, dan aneka pasta yang kini makin populer itu masih dianggap sekadar bahan pangan selingan atau pengganjal lapar sebelum makan nasi. Padahal, fungsinya tetap bisa digunakan sebagai makanan pokok. Persepsi masyarakat yang mengatakan makanan yang membuat kenyang dan cocok di lidah itu hanya nasi putih harus diluruskan. Ia mengharapkan para orangtua dapat menyosialisasikan keanegaragaman bahan pangan pokok tersebut kepada anak-anak, mengingat pembentukan selera dan kebiasaan makan dimulai sejak balita.

Mencermati fenomena global di bidang pangan, kata dia, budaya mengonsumsi jenis makanan impor perlu diperbaiki melalui berbagai kampanye dan promosi. Jepang sebagai negara besar dan maju pun sudah mulai berpikir untuk mengubah pola konsumsi pangannya, dengan tidak menggantungkan pangan impor ke arah konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Indonesia sebagai negara berkembang dengan penduduk yang banyak harus mulai melakukan diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. Banyak orang memandang remeh ubi jalar merah. Padahal, kata dia, ubi yang satu ini mengandung beragam zat gizi yang sangat dibutuhkan tubuh.

Sumber utama karbohidratnya baik untuk penderita diabetes karena kandungan gulanya sederhana. Ubi jalar merah juga sangat kaya pro vitamin A atau retinol. Dalam 100 gram ubi jalar merah terkandung 2310 mcg (setara dengan satu tablet vitamin A). Bahkan dibandingkan bayam dan kangkung, kandungan vitamin A ubi jalar merah setingkat lebih tinggi. Keistimewaan ubi ini juga terletak pada kandungan seratnya yang sangat tinggi. Ubi jalar bagus untuk mencegah kanker saluran pencernaan dan mengikat zat karsinogen penyebab kanker di dalam tubuh.

Di Jepang, harga tepung ubi jalar dihargai empat kali lipat harga tepung terigu. Penelitian mengenai ubi jalar pun makin sering, karena memunyai kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Ubi jalar bahkan dapat dijadikan sebagai bahan makanan alternatif lain bagi pasien penyakit tertentu di rumah sakit. Tepung ubi jalar lebih mahal daripada tepung gandum (terigu). Untuk mendapatkan manfaat fisik dan emosional, ia menganjurkan, ada baiknya dicoba membuat roti menggunakan tepung ubi jalar, baik sebagai bahan utama maupun bahan pewarna. “Pencampuran dua bahan makanan, beras dan ubi jalar, saling melengkapi zat gizi seperti tiamin yang tidak terdapat di ubi jalar akan dilengkapi tiamin yang terdapat dalam beras, dan sebaliknya antioksidan dan vitamin A yang tinggi di ubi jalar akan melengkapi kekurangan zat tersebut dalam beras,” paparnya.
Ia menambahkan, jika digabungkan kedua bahan tersebut, kita sudah memperoleh hampir 10 jenis mineral di antaranya kalsium, fosfor, Fe/zat besi, kalium, magnesium, dan seng. Begitu pula dengan kandungan protein terutama asam-asam amino esensial yang akan diperoleh lengkap dengan pencampuran berbagai bahan tersebut, contohnya nasi sela ditambah ikan, atau nasi sela ditambah tempe/tahu. –ast


Sosialisasikan Diversifikasi Pangan, Lewat Kelompok Wanita Tani
DIVERSIFIKASI pangan bukan diartikan sebagai tidak makan nasi, namun, bagaimana kebutuhan karbohidrat sebagai gizi keluarga juga dipenuhi dari sumber karbohidrat lain selain beras. Demikian diungkapkan Kadis Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Ir. Made Putra Suryawan.

Kabohidrat dari beberapa sumber seperti beras, jagung, umbi-umbian lokal terdapat di sekitar kita. Selain harganya relatif lebih murah umbi-umbian juga merupakan pelengkap gizi. Ia menegaskan, tujuan diversifikasi menu sejak dini, di samping meningkatkan kesehatan dan melengkapi kebutuhan gizi, juga untuk ketahanan pangan.
Di Bali saat ini, kata dia, usaha sedang digiatkan dalam upaya pengembangan ubi kayu sebagai komoditas andalan, seperti ubi jalar, talas kuning, dan sukun. Sosialisasi diversifikasi pangan telah dilakukan lewat pembinaan kelompok wanita tani melalui unit pembinaan pengembangan pengolahan hasil pertanian (UP3HP). “Para kelompok wanita tani diajari bagaimana mengolah bahan karbohidrat selain beras ini menjadi berbagai menu makanan yang enak dan bergizi. Bahkan, sebagian mereka sudah memasarkan hasil produksinya sampai ke pasar swalayan,” paparnya.

Selain itu, ada program pemberian makanan tambahan bagi anak sekolah. Siswa diajari makan nasi campur seperti nasi sela. “Kalau di rumah disuruh makan nasi sela tidak mau, tetapi kalau ibu gurunya yang menganjurkan mereka mau,” ujarnya. Kegiatan ini, kata Suryawan, sekarang sudah diambil alih Badan Pemberdayaan Masyarakat Perdesaan (BPMD).
Peningkatan optimalisasi lahan kering juga terus digencarkan. Pengembangan ubi kayu jenis song landak dilakukan di Bangli, Nusa Penida, Klungkung dan Karangasem. Pengembangan jagung hibrida di lahan sawah di Tabanan, Gianyar dan Klungkung. Pengembangan sukun 2000 pohon tahun 2010 di Buleleng Barat dan Timur. Kabid Pascapanen dan Pemasaran Hasil Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Lihadnyana menambahkan, pelatihan pengolahan pangan lokal dilakukan dengan harapan, konsumsi beras dapat berkurang. “Sumber karbohidrat tidak hanya beras. Kendalanya, masih berkembang persepsi masyarakat jika belum makan nasi belum makan. Dengan penumbuhan UP3HP di semua kabupaten Bali dan dibantu fasilitas alat pembuatan tepung, harapan diversifikasi menu mulai diminati masyarakat,” ujarnya. Ia berharap, konsumsi beras di Bali makin lama makin berkurang dengan diversifikasi pangan lokal. Seperti di Yogyakarta, yang konsumsi berasnya paling rendah di Indonesia. –ast

Koran Tokoh, Edisi 28 s.d. 5 Desember 2010

Minggu, 28 November 2010

Jangan pernah Katakan "Anak ‘Goblok"

Pendidikan usia dini menjadi hal utama dan penting dalam pendidikan anak. Orangtua merupakan pendidik utama yang memegang peranan penting mengantarkan kesuksesan anak. Ironisnya, tak banyak orangtua yang memberikan pendidikan usia dini yang baik kepada putra-putrinya. Bahkan, ketika mereka besar dan tidak mampu menjadi anak seperti yang mereka inginkan, celaan tak urung mereka lakukan. Ini kesalahan fatal. Demikian ditegaskan praktisi pendidikan Gidion Hidarto.

Ayah Dominic Brian seorang anak Indonesia pemecah rekor dunia ini mengungkapkan pengalaman masa kecilnya.Ia mengaku akses untuk melakukan perlawanan dan penolakan terhadap kemauan keras orangtua tidak didapatkan. Ia berasal dari keluarga keturunan Tionghoa, bertempat tinggal di desa, yang dididik keras dan disiplin, harus menuruti semua kemauan orangtuanya. Gidion mengaku, tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan ayahnya.

Ketika tamat SMA, ia tidak diterima di ITS. Ia diharuskan kuliah ke Amerika Serikat. Ia tidak punya kekuasaan untuk menolak perintah orangtuanya sampai ia menyelesaikan pendidikan S-2 di sana. Setelah dewasa, ia menikah dan memiliki anak yang bernama Dominic Brian. Ia mencoba mengembangkan konsep baru dalam mendidik putra tunggalnya itu. Ia tidak ingin mengulang kesalahan orangtuanya, yang memaksakan kehendaknya kepada dirinya.
Tak tanggung-tanggung, sejak Brian dalam kandungan, ia sudah diajarkan menjadi anak yang berkarakter. “Saya tidak mau mengulang kesalahan orangtua. Saya diajari tidak bisa mengambil keputusan. Saya tumbuh dan besar tanpa menjadi diri saya sendiri,” tuturnya.

Setelah Gidion terjun sebagai pengajar tahun 2002 dan membuka kursus, ia mulai menyelami dunia anak-anak dengan baik. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, pikirnya.
“Saya biarkan Brian bereksperimen. Saya biarkan ia mencoret tembok, bahkan mencoret mobil. Menggambar daun dengan warna merah, atau warna apa saja terserah dia. Saya bebaskan dia menjadi dirinya sendiri. Saat dia bermain bola, dan jatuh di rumput, saya biarkan. Dia akan banyak belajar dari pengalamannya itu,” kata Gidion tentang kiatnya mendidik Brian.

Saat usianya satu tahun, Brian diajari kata-kata dengan menunjukkan dan membacakannya. Tiap malam istrinya, Debora, membacakan buku sebelum ia tidur. Ketika usia tiga tahun, Gidion terkaget-kaget, karena Brian sudah mampu membaca dan menunjukkan kepiawaiannya membaca di depannya. Sejak itu, Gidion rajin mengajak Brian ke Gramedia untuk membeli apa pun buku yang ia suka. Usia 5 tahun Brian sudah mahir membaca koran.
Gidion menuturkan, buku Brian semuanya dalam bahasa Inggris. Saat usianya tiga tahun, Brian sangat lancar berbahasa Inggris. Semua itu dipelajari Brian, karena tiap malam ia selalu mendengar ibunya membacakan cerita dalam bahasa Inggris untuknya. Brian tumbuh dalam dua bahasa tanpa stres.
Ada orangtua yang protes. Anak diajari matematika atau bahasa Inggris sejak kecil bisa stres. Gidion berpandangan, yang membuat anak menjadi stres karena cara pengajarannya yang salah. Kurang pendekatan orangtua dengan anak. “Kalau orangtua dekat dengan anak potensinya mudah dikenali. Kalau waktu kecil anak suka memotong sayur, suka masak, besarnya nanti mungkin bisa menjadi koki terkenal. Dengan pendekatan seperti itu, orangtua mampu mengenali potensi anak dengan baik,” paparnya.

Fungsi orangtua diibaratkan pemantik korek api. Potensi anak tidak terbendung. Orangtua sebagai sumber ispirasi dengan melakukan hal kecil. Seperti yang ia lakukan. Hanya dengan membacakan buku tiap malam, Brian mahir membaca tanpa harus diajari huruf demi huruf. Anak akan bisa membaca tanpa disadari.
Ia menyayangkan sikap orangtua yang sering menghardik anak dengan kalimat yang kurang mengenakkan. Melihat anaknya suka musik, langsung berkata, ’jika besar nanti kamu mau jadi tukang ngamen’.
Kalau itu diucapkan orang lain, mungkin anak tidak peduli. Namun, ketika kalimat itu dilontarkan bapaknya akan membuat mental anak menjadi drop.

Ia menilai, anak merupakan titipan Tuhan. Tuhan yang mengetahui, apa yang menjadi panggilan jiwa anak itu. Kalau orangtua memberi kebebasan mengekspresikan dirinya, ia akan menjadi anak yang berkarakter.
Gidion mengatakan, ia selalu menekankan kepada Brian, sahabat terbaik adalah orangtuanya.
Dengan dekat kepada anak, para orangtua akan tahu seberapa besar keinginan anak, seberapa besar ketakutan anak, dan mengerti kebutuhan anak. Tiap hari, ia selalu mengucapkan kalimat “I love you” untuk Brian.

’Home Schooling’
Ketika Brian kelas VI, ia mengambil suatu keputusan besar. Ia tidak ingin masuk ke sekolah normal. Brian ikut home schooling alias belajar di rumah. Hanya Gidion dan istrinya, Debora, yang mengajar Brian. Tidak ada guru yang dipanggil. Tidak ada rapor. Kelas bisa di kamar, supermarket, atau di bioskop.
Bagaimana kita melihat kehidupan, ada panggilan jiwa yang diajarkan. Rumah adalah tempat yang terbaik. Guru yang terbaik adalah para orangtua. Menurut Gidion ia memberi anaknya kebebasan dari awal. Pilihan pasti ada konsekuensinya. “Saya ajarkan Brian untuk mengambil keputusan sendiri. Saya belum pernah mengatakan ’kamu goblok’, atau ’kamu tidak bisa diatur’. Kadang Brian juga lupa, dan teledor. Tetapi, saya menganggap dia orang yang harus dihargai. Bukan diberi kata-kata kasar seperti itu,” ujar Gidion.

Ketika ia memutuskan untuk home schooling, Brian sudah memikirkan matang-matang. Walaupun Brian home schooling bukan berarti ia tidak bersosialisasi dengan teman-temannya. Brian biasa menjadi pembicara dalam seminar, ia suka berenang, main musik, temannya banyak di facebook, ia ikut komunitas di gereja. Banyak hal dilakukan Brian sama seperti anak lainnya.
Prestasi Brian memang membuat decak kagum banyak orang. Brian mendapatkan penghargaan Muri tahun 2002 dalam usia 5 tahun karena mampu mengingat 100 angka dalam waktu 12 menit. Tahun 2009, Brian kembali mendapatkan rekor Muri. Tak berselang lama, Brian memecahkan rekor dunia (guinness world record) mengingat angka terbanyak. Tahun 2010, kembali prestasi spektakuler diraihnya. Rekor dunia mengingat angka terbanyak 216 dalam waktu satu menit mengalahkan pemegang rekor dunia yang lama, Nischal Narayanan dari India yang hanya mampu mengingat 132 angka.

Gidion menolak jika dirinya dikatakan mengekpoitasi anak. Tiap anak punya potensi yang terpendam. Einstein yang autis hanya menggunakan kemampuan otaknya sekitar 8%, apalagi anak normal tentu potensinya lebih besar. Selama anak diajari menjadi pribadi yang bertanggung jawab, ia akan mampu tumbuh secara optimal.
Ia berpandangan, para orangtua tidak bisa mengatakan, anak tidak boleh main internet. Orangtua cukup memberi bekal kedewasaan dan kebijaksanaan kepada anak. Godaan tidak bisa dicegah. Namun, dengan bekal yang cukup dalam usia dini, itu akan menancap di otaknya dengan baik.
Apalagi, kata dia, itu dilakukan sejak bayi dalam kandungan. Pendidikan Brian sudah disiapkan dengan baik mulai dalam kandungan. Saat ia berusia satu bulan saya bahas karakter kejujuran. Bulan berikutnya saya bahas karakter baik lainnya. Saya rasa itu sangat berpengaruh dan bermanfaat bagi Brian.

Kuliah karena Pacar
Gidion mengaku tergelitik, saat mengikuti seminar Andy Noya pemandu Kick Andy di Metro TV di kampus Unud. Ketika ditanya, apa alasan para mahasiswa kuliah di sana, sebagian menjawab karena ajakan teman, bahkan karena pacar, dan mengikuti keinginan orangtua.
Kalau kita telusuri, kata Gidion, kesalahan memilih sekolah berasal dari kesalahan sebelumnya. Kesalahan waktu SMA, SMP, SD, TK bahkan sebelumnya. Anak tidak mampu menentukan pilihannya sendiri, sesuai dengan panggilan jiwa mereka. Ia menilai, pendidikan usia dini yang harus dibenahi agar harapan orangtua untuk mendapatkan anak yang berkarakter dapat tercapai.

Ia mengaku, terinspirasi dengan dua orang penyandang cacat Aceng dan Stephani yang ditampilkan dalam acara Kick Andy. Aceng tidak punya tangan, bisa SMS-an, bisa main gitar, menikah pula. Stephani cacat mental. IQ tidak sampai 90. Namun, ia mampu mewakili Indonesia dalam kejuaraan renang di Yunani. Ironisnya, angka bunuh diri di Indonesia tinggi, padahal seorang Aceng dan Stephani mampu menjadi motivator bagi banyak orang. Sementara, bagi orang yang terlahir normal, mereka tidak mampu menghadapi persoalan dalam hidupnya.

Ia berencana membuat buku tahun depan yang menuturkan bagaimana perjalanan Brian dalam meraih kesuksesan. Buku dengan judul “Panggilan Jiwa” ini rencananya akan dihiasi kata pembuka dari Presiden SBY dan Gubernur Bali. –ast.

Tokoh, Edisi 620, 28 Nov s.d 4 Desember 2010

Senin, 22 November 2010

Kesiapan Denpasar Antisipasi Bencana

Badan Pemadam Kebakaran Dilebur Jadi BPBD. SARANA MCK (mandi, cuci, kakus) sering terabaikan dan karenanya dikeluhkan para pengungsi di tempat-tempat pengungsian, sebagaimana yang terjadi di tempat-tempat pengungsian korban meletusnya Gunung Merapi sekarang ini. Bagaimana kesiapan Kota Denpasar mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam?

Bencana datang tanpa diduga. Mengantisipasinya, diperlukan suatu manajemen agar saat terjadi bencana penanganannya lebih maksimal. Saat ini baru ada tiga kabupaten/kota yang memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Bali yakni Denpasar, Gianyar, dan Buleleng.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar dr. I Made Sudhana Satrigraha mengungkapkan, manajemen bencana meliputi penanganan mulai dari prabencana, saat terjadinya bencana, dan pascabencana.
Sistem yang diterapkan BPBD Kota Denpasar dalam penanganan bencana melalui instruksi lembaga dan pengaduan masyarakat melalui call centre 0361- 223333. BPBD Kota Denpasar memiliki 4 pos pengaduan yakni Pos Induk di Jalan Imam Bonjol, Pos Juanda di Renon, Pos Cokroaminoto di Terminal Ubung, dan Pos Merpati di depan Stadion Kompyang Sujana.

Mantan kepala Rumah Sakit Wangaya ini mengatakan, prabencana meliputi pencegahan dan kesiapsiagaan. Pencegahan mencakup penyuluhan kepada masyarakat umum, mulai dari pelajar, sampai ibu rumah tangga. Tahun 2010 ini BPBD Kota Denpasar memprioritaskan penyuluhan kepada masyarakat di wilayah pesisir seperti Kelurahan Serangan, Kelurahan Sanur, Desa Sanur Kauh, Desa Sanur Kaja, dan Kesiman Kertalangu. Wilayah ini dianggap rawan bencana tsunami. Penyuluhan lain, juga menyasar 9 pasar di Denpasar. BPBD memberikan bantuan alat bantu pemadam api ringan (APAR) sekaligus penggunaannya kepada pengelola pasar agar mereka dapat melakukan penanggulangan ketika terjadi kebakaran. Bagi anak-anak TK, siswa SD, SMP, SMA ada program pelatihan mematikan api yang dilakukan di Pos Induk. “Agar program ini mencapai sasaran, tahun lalu kami mengadakan lomba mengatasi bahaya kebakaran ‘bagaimana cara mematikan api’. Pesertanya masyarakat umum dan siswa. Tahun depan bertepatan dengan HUT Kota Denpasar, lomba yang sama akan kami gelar lagi. Pesertanya ibu-ibu PKK,” katanya.

Kesiapsiagaan diprioritaskan pada kompetensi para kru di lapangan dan membuat peta wilayah rawan bencana dan peta evakuasi. Saat terjadinya bencana, BPBD melakukan penanganan darurat dan penyaluran logistik. BPBD berkoordinasi dengan stakeholder lain seperti TNI, polisi, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, SAR, dan PMI.
Menurutnya, dalam penanganan darurat petugas akan bergerak dengan analisis cepat seperti saat bencana gunung meletus. Beberapa analisis dilakukan seperti berapa kawasan yang dianggap rawan bencana, ke mana arah lahar mengalir, dan wilayah mana yang paling berbahaya. Berdasarkan analisis cepat tadi, kata dia, dapat dilakukan beberapa tindakan tepat seperti bagaimana evakuasi korban, penyelamatan korban sakit atau meninggal, dan membuat tempat pengungsian.
Di bidang logistik, kebutuhan pokok pengungsi menjadi prioritas, seperti pangan berupa makanan dan air bersih, sandang pakaian, papan seperti tenda atau balai banjar untuk berteduh, pelayanan kesehatan dan pelayanan psikologi.

Mobil MCK
Saat bencana, biasanya selalu dikeluhkan minimnya fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Saat ini DKP Kota Denpasar memiliki satu mobil MCK. Mobil ini biasanya dimanfaatkan untuk kegiatan besar seperti pameran. Hal ini dibenarkan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Denpasar I Ketut Wisada, S.E. “Memang dengan satu mobil tentu kekurangan. Instansi seperti TNI dan Polri juga memiliki masing-masing satu mobil MCK yang siap membantu jika diperlukan. Selain pemanfaatan mobil MCK, akan dibuatkan tenda-tenda darurat untuk mengatasi masalah MCK,” ujar Dokter Sudhana.
Pascabencana meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi.
Rehabilitasi meliputi perbaikan fasilitas umum seperti kantor pemerintahan yang rusak terkena bencana. Sedangkan rekonstruksi dilakukan setelah masa rehabilitasi. “Kalau perlengkapan atau banyak peralatan rusak dan tidak dapat digunakan lagi, akan diganti barang baru. Kami bertugas membantu pengadaannya,” ujarnya.
BPBD didirikan dua tahun lalu sebagai pengganti Badan Pemadam Kebakaran. “Dulu petugas kami hanya mampu menangani bencana api. Kini setelah badan ini dilebur menjadi BPBD, semua regu memiliki kompetensi dalam mengenal bencana air, api, angin, alam, dan sosial,” jelasnya. BPBD diperkuat 170 personal, terdiri atas siap regu 120 orang dan sisanya 50 orang di manajemen. Petugas siap regu mendapatkan penyegaran seminggu sekali tiap hari Jumat. Mereka diberi pengetahuan agar mahir melakukan pertolongan dan menggunakan alat bantuan. -ast

Tokoh, Edisi 619, 21 - 27 November 2010

Kencing Normal 5 – 8 Kali tiap Hari

BATU ginjal, merupakan salah satu penyakit yang cukup banyak diderita. Insiden batu ginjal cukup banyak di Bali. Indonesia sebagai daerah tropis, memudahkan orang menderita penyakit tersebut. Batu ginjal merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gagal ginjal. Batu ginjal dapat menyerang semua golongan usia. Namun, paling banyak diderita laki-laki usia dewasa. Belum ada penjelasan mengapa laki-laki lebih banyak menderita penyakit ini.

Dr. G. Wirya K. Duarsa, M.Kes., Sp.U. dari Divisi Urologi Bedah Rumah Sakit Sanglah mengatakan, banyak penyebab batu ginjal, mulai dari faktor keturunan, diet, olahraga, pekerjaan, dehidrasi, penyakit imun. “Batu bukan satu-satunya yang merusak ginjal. Beberapa penyakit seperti kencing manis, hipertensi, asam urat, penyakit infeksi juga dapat merusak ginjal,” ujarnya.
Ia menyatakan, tanda atau gejalanya tidak selalu ditemukan pada penderita batu ginjal. Jika batunya masih kecil, dan tidak menyumbat permukaan saluran kencing tidak akan timbul gejala apa pun.

Ia menjelaskan, gejalanya tergantung letak batunya, besar kecilnya batu, dan kronis atau akutnya penyakit. Jika batu letaknya di kantung kencing mengakibatkan tidak bisa kencing. Jika batu menyangkut di kandung kemih, dapat timbul nyeri saat buang air kecil, buang air kecil tidak tuntas (anyang-anyangan).
Jika batu letaknya di saluran ureter muncul keluhan kolik sakit di pinggang. Jika batu sudah masuk ke ginjal penderita akan mengalami keluhan sakit pinggang. Biasanya jika sudah terjadi keluhan, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang. Untuk mendiagnosanya, dokter menyarankan pemeriksaan laboratorium untuk darah dan air seni, USG, atau rontgen khusus.

Penanganannya dari dua sudut, dari bagian penyakit dalam dan dari bedah. Kalau batu sudah terbentuk, harus segera ditangani dari sudut medis. Ada jenis batu hanya dengan obat dapat dilarutkan, sehingga dapat keluar bersama air kencing. “Selama ginjal berfungsi normal, batu kecil ukuran 4 mm dapat didorong. Kalau batu itu sudah besar harus ditangani dengan pembedahan,” ujarnya.
Saat ini, RS Sanglah sudah mampu menangani semua keluhan batu ginjal. Semua teknik penanganan dapat dilakukan di rumah sakit ini, sama dengan penanganan di rumah sakit di luar Bali dan luar negeri.
Penanganan endoskopi merupakan teknik tanpa melukai samasekali. Suatu alat dimasukkan ke dalam saluran kencing untuk mengahancurkan batu. Ada juga penghacuran batu dengan mesin SWL. Teknik penanganan lain dengan pembedahan terbuka.

Membuang batu bukanlah akhir pengobatan, tetapi merupakan awal pencegahan. Kalau batu berhasil dibuang atau ditembak tidak sertamerta batu tidak akan tumbuh lagi. “Bisa saja batu akan tumbuh kembali tergantung pola hidup pasiennya, dan faktor genetik juga memegang peranan. Pola hidup sehat harus dilakukan dengan menjaga berat badan seimbang, banyak berolahraga, minum air putih yang cukup,” sarannya.
Ia menambahkan, jika fungsi ginjal normal produksi kencing harus dua liter per hari. Minum 2-3 liter air. Normalnya orang kencing 5-8 kali per hari. “Kalau ada kelainan fungsi ginjal, makan dan minumnya akan diatur dokter,” paparnya. Selain pola hidup sehat, perlu dilakukan general check up, dengan melakukan foto rontgen perut dan USG. Jika pasien datang dalam kondisi derajat penyakit yang belum kronis, dan mendapat penanganan dengan baik, umumnya fungsi ginjal normal.

Infeksi Saluran Kencing
Infeksi ini penyebabnya bakteri, dan 80% karena bakteri ecoli. Keluhan muncul sering anyang-anyangan atau nyeri saat kencing. Infeksi saluran kencing yang biasa, dapat sembuh dengan minum air putih dan pengasaman urine. Namun, ada juga yang membutuhkan obat antibiotika. Penanganan serius diperlukan jika terjadi komplikasi. Kelainan anatomi ginjal juga dapat memicu infeksi saluran kencing. Penanganannya lebih sulit, selain koreksi anatomi, juga memerlukan antibiotika cukup kuat untuk menghancurkan bakteri. “Kalau infeksi tidak tertangani dengan baik akan mengakibatkan infeksi ginjal yang kronis dan gagal ginjal,” ujarnya. –ast

Tokoh, Edisi 619, 21 - 27 November 2010

Rabu, 10 November 2010

Paola dan Gobind Ungkapkan Pengalaman Spritualnya

SALAH seorang praktisi yoga asal Italia yang bekerja di India Paola Clodoveo menyatakan, suatu kebanggaan dapat menimba ilmu dari pakar yoga di Bali. Perempuan usia 52 tahun ini kebetulan berada di Ubud selama sebulan.
Ia menuturkan, awal mula ia tertarik yoga ketika berusia 20 tahun. Ia berkonsentrasi pada karma yoga. Waktu itu Paola belajar selama dua minggu di Lama Tzong Khapa Institute di Pomma Pisa, Italia. Kemudian ia menjalani vipassanna (silent meditation) seminggu di Ladak India.
Ia mengatakan, banyak manfaat diperoleh dengan bermeditasi. “Saya merasa lebih tenang, mampu lebih berkonsentrasi, dan lebih bersemangat,” tuturnya.
Kini ia rutin melakukan yoga tiap hari. Ia mengaku, yoga telah memberikan banyak energi dan spirit dalam menjalani rutinitasnya sebagai pekerja kemanusiaan untuk perempuan dan anak di India.

Masalah Kita Ego
Praktisi Yoga Gobind menuturkan, ada suatu pengalaman spiritual yang mengantarkannya akhirnya menekuni meditasi. Gobind pernah merasakan dirinya meninggal. Setelah itu, ia banyak membaca buku spiritual dan mulai bergerilya mencari guru spiritual. Akhirnya ia menemukan jawabannya. Daripada susah mengubah pikiran lebih baik mengubah gerakan. Kemudian ia mulai fokus bermeditasi.
Ia menyadari, dalam kehidupan, kita sebenarnya tidak memunyai masalah dengan dunia luar. Masalah kita adalah ego kita sendiri. “Manfaat yoga adalah menimbulkan kesadaran pada diri kita bahwa saya, kamu dan kalian adalah sama yakni satu badan. Apa pun masalah itu, ada dalam diri kita,” ujarnya. –ast

Bali dan Peru Miliki Sinar Spiritual Tinggi


PENEKUN meditasi usadha Merta Ada mengatakan, orang Bali sepatutnya bersyukur bertempat tinggal di Bali. Energi magma bumi bersilangan di bawah pulau Bali. Ini merupakan pertemuan luar biasa antara energi positif dan negatif. “Kalau kita ingin menjadi tenang dan mencapai moksa, Bali tempatnya. Beberapa ahli spiritual dunia menemukan dua tempat yang diyakini memiliki sinar spiritual tinggi yakni Bali dan satu tempat di sebuah danau di Peru,” ujarnya.
Ia menyatakan, ada empat unsur alam yakni air yang bersifat mengurai dan melekat, tanah bisa dirasakan berat atau ringan, kasar atau halus, keras atau lembut, api dirasakan bagai panas atau dingin, dan angin terasa kembang kempis. Keempat unsur ini membentuk komponen tubuh kita. Ia memberi contoh, buah purna jiwa. Sifatnya panas yang mampu menguatkan pikiran. Orang yang memakan buah purna jiwa diyakini menjadi sangat berwibawa. Orang yang mencapai semadi, mampu melihat aura.

Dengan mata terpejam ia dapat melihatnya. Dengan belajar spiritual, kita bisa melihat dari yang halus. Materi terbentuk dari atma dan jiwa kita. Ilmu modern hanya melihat jiwa kasar. Padahal, untuk mencapai spiritual yang tinggi perlu keseimbangan lahir dan batin. Saat bersembahyang pikiran kita bersih. Namun, setelah itu kembali kotor karena karma dan jnana yoga belum dipraktikkan. Apalagi kita mampu menyempurnakan dengan raja yoga, maka moksa akan dapat dicapai.

Yoga Mudah Dipelajari
Pelajaran kanda pat kini tidak sulit lagi dipelajari. Dr. Gede Kamajaya yang membawakan materi tantra yoga mengupasnya dengan gamblang. Yoga ini mudah dipelajari bahkan oleh orang sibuk sekalipun. Ia mendapatkan ilmu ini dengan belajar dari para tetua di Nusa Penida tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Ia ramu menjadi pelatihan yang praktis dan mudah diikuti.
Pada prinsipnya, tantra yoga merupakan pencapaian semua yoga, untuk kesehatan dan kedamaian batin. Tantra menunjukkan usaha keras dalam mentransformasikan kehidupan dari bentuk yang kasar menuju persatuan dengan Tuhan dengan kesadaran tanpa batas yakni suatu keadaan melampaui ikatan-ikatan relativitas. Tantra pada dasarnya merupakan cara meditasi praktis dengan prinsip yang positif.

Meditasi Angka
Prabu Darmayasa mengungkapkan, tiap orang memiliki cinta kasih spiritual terhadap sesama. Tetapi, jika tidak awas maka perbedaan-perbedaan lahiriah seperti suku, warna kulit, tinggi-rendah atau kaya-miskin di masyarakat, akan menghancurkan cinta kasih spiritual tersebut.
Lewat pelatihan yoga dan meditasi akan tercapai kesehatan, ketenangan, kesadaran diri, konsentrasi lebih baik, kemantapan batiniah, pemikiran positif, dan kebangkitan spiritual.
Materi meditasi angka yang diberikan bertujuan untuk membangkitkan tenaga kundalini demi terwujudnya cinta kasih spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia. –ast

Selasa, 09 November 2010

Konsep Yoga Saling Mencintai

SEHARI-HARI kita sudah praktikkan yoga. Saling mencintai merupakan konsep yoga. Kita bisa belajar dari konsep jari tangan. Tetapi, mengapa sebagian orang Bali takut belajar yoga karena dianggap dapat membuat gila? Ada yang mencuri pratima, ada yang saling membunuh.

Di depan peserta Bali Yoga Festival 2010 di Ubud, Jumat (5/11), Ida Pedanda Made Gunung mengungkapkan, orang Bali sebenarnya sejak dulu sudah menerapkan konsep yoga dalam kehidupan sehari-hari. Istilah yoga kurang dikenal, padahal sudah dilakoni turun-temurun, mulai dari makan, berpakaian, tidur, termasuk terefleksikan dalam arsitektur rumah.
Ia mengungkapkan beberapa contoh. Saat makan dilarang menghadap ke selatan. Saat makan tidak boleh bicara. Sebelum makan harus berdoa dulu.
Arsitektur tradisional Bali juga menggunakan konsep yoga. Saat menghaturkan banten ke merajan, umat Hindu naik turun pelinggih. Ini sudah termasuk asana. Kemudian napas tersengal-sengal angkian ngansur itu termasuk pranayama.
Kita sering mengeluh, mengapa letak pura sulit dicari. Saat menapaki pura yang letaknya di atas gunung, napas kita tersengal-sengal. Ini implementasi terjadinya hubungan manusia dan lingkungan. Kita berterima kasih kepada tumbuh-tumbuhan di sepanjang perjalanan. Paru-paru menjadi dingin dan sejuk. Sesampai di pura, kita merasa `plong dan melupakan yang lain, hanya memikirkan Tuhan. Setelah menenangkan diri, sampai di pelantaran pura terdengar suara binatang dan suara genta yang indah dari pemangku. Kemudian umat bersembahyang dan nunas tirta, dan terakhir menikmati lungsuran.
Kita mengatakan tidak tahu yoga, padahal sudah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semua lini kehidupan kita dipenuhi konsep yoga. Artinya, orang Bali semuanya bersaudara. Namun, ia menyayangkan konsep yoga sudah tidak terpakai lagi ketika terjadi degradasi moral. Sudah ada orang Bali mencuri pratima, dan saling membunuh.
Ia menuturkan, bhakti pada Tuhan, cinta sesama, dan kasih pada semua makhluk hidup merupakan konsep yoga. Namun, sebagian orang Bali sudah kehilangan rasa cinta, kasih, dan rasa sayang sehingga semuanya dianggap musuh.
”Sebagian orang Bali takut belajar yoga karena dianggap dapat membuat gila. Padahal, di dunia ini banyak kegilaan: gila perempuan, gila judi, juga gila materi. Dengan belajar yoga kita memang menjadi gila. Namun, gila untuk mencintai Tuhan dan kebenaran,” ujarnya.
Ia menegaskan, yoga bukan hanya terbatas pada gerakan. Seperti tukang sapu sudah melakukan gerakan yoga dan meditasi. Dengan kesabarannya ia membersihkan sampah yang terus-menerus jatuh dan melaksanakan kewajibannya. “Lagu de ngaden awak bisa menjadi cermin konsep yoga untuk mensyukuri segala sesuatu yang kita dapatkan. Menurunnya rasa cinta pada Tuhan, karena kita tidak paham Tuhan itu berada di mana. Tuhan itu apa yang engkau lihat dan apa yang engkau rasakan. Tuhan ada di mana-mana, memenuhi alam semesta, menciptakan semuanya dan ada dalam ciptaan-Nya,” paparnya.
Ia menegaskan, saling mencintai merupakan konsep yoga. Kita dapat belajar dari konsep jari tangan. Mulai dari ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis hingga telunjuk memunyai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kalau salah satunya tidak ada, kita tidak akan mampu melakukan sesuatu secara sempurna. Yoga merupakan gabungan olah badan dan olah pikiran menyatu menjadi satu keindahan.
Menurut Ida Pedanda Gunung, ada tingkatan belajar yoga di Bali. Awalnya senang belajar yoga. Kemudian akan melewati tahap-tahap mulai dari ego, samara, dan sunia.
Awalnya, kenal yoga dan tahu sedikit, egonya mulai muncul. Kemudian merasakan samara, ada murid perempuan mulai ada perhatian. Misalnya mengucapkan, “Kamu cantik pakai baju itu”, meskipun dalam hati. Kita memang akan melewati fase ini. Terakhir melewati sunia artinya semuanya indah.
Ketika dipukul orang lain sampai kepala kita benjol, kita tidak melakukan apa-apa. Ada yang mengatakan itu tindakan bodoh. Namun, itulah seorang spiritualis. Apakah Anda bisa bersikap seperti itu? Jika bisa, tingkatan sunia sudah Anda capai. Artinya, yoga menimbulkan kesadaran, kesehatan jasmani dan rohani, dan kebahagiaan serta kedamaian bagi umat manusia. –ast

Gaungkan Kedamaian ke Seluruh Dunia

Jadikan 5 November Hari Yoga Nasional. BALI Yoga Festival 2010 berlangsung di Museum Rudana, Ubud. Ide ini muncul dari sekelompok orang yang menamakan diri seka demen Bali yang sangat mencintai Bali. Tema “Energy from Nature” diangkat atas saran Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Peserta Bali Yoga Festival 2010 dari berbagai kalangan, mulai dari praktisi yoga, masyarakat umum, mahasiswa, hingga pelajar, tanpa dipungut biaya. Ketua Panitia Made Suardewi berharap, Bali Yoga Festival 2010 dapat memberi kedamaian lahir dan batin bagi masyarakat Bali, Indonesia, dan dunia.
Bali Yoga Festival 2010 diisi kegiatan pencerahan dan edukasi yang disampaikan para yogi yang sudah dikenal dan dikagumi masyarakat Bali, di tingkat nasional, dan internasional seperti Ida Pedanda Made Gunung, Merta Ada, dr. Gede Kamajaya, Kadek Suambara, Prabu Dharmayasa, dan Ida Pandita Nabe Ratu Bagus. Festival juga diisi kegiatan mencetak telapak tangan para yogi di batu, dan penanaman pohon Budhhis bersama Gubernur Bali Mangku Pastika.
Pemilik Museum Rudana Nyoman Rudana berharap, momentum ini dapat menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan dunia, dan akan dikenang serta dilaksanakan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Ia berharap, gagasan Presiden Direktur Museum Rudana Putu Supadma Rudana menjadikan tanggal 5 November sebagai hari yoga nasional dapat dijadikan cikal bakal para yogi mendoakan bumi agar selamat. “Melalui yoga kita mohonkan agar beban para korban bencana nasional menjadi lebih berkurang, dan tidak ada bencana menerpa bumi,” ujarnya. Ia menegaskan, peringatan hari yoga bukan untuk berfoya-foya tetapi sebagai pengingat agar kita lebih mendoakan bumi. Para yogi diyakini memiliki kekuatan yang lebih dari manusia biasa.

Gubernur Bali menyambut baik kegiatan Bali Yoga Festival 2010. Hal itu selaras dengan pernyataannya dalam simakrama (30/10) di Wantilan DPRD Bali, ketika seorang penanya Made Sudana meminta Gubernur memberi bantuan Rp 1 juta untuk tokoh yang suka yoga semadi untuk memperdalam yoga.
Gubernur Bali menanggapinya dengan mengatakan, banyak orang asing datang belajar yoga. Bahkan, 70% buku yoga ditulis orang asing. Ia ingin ada yoga yang khusus dikembangkan di Bali yang memiliki ciri khas Bali.
Gubernur mengharapkan, ke depan pariwisata Bali dikenal sebagai pariwisata budaya yang salah satu motivasinya turis datang ingin belajar yoga. Apalagi banyak pakar yoga di Bali. Dengan ditunjang lingkungan bersih, makanan sehat dan organik akan terwujud green province.
Ia mengharapkan Bali Yoga Festival 2010 dapat membangun sumber daya manusia yang sehat dan kompetitif sekaligus bersemangat, dan dapat menyelaraskan kearifan lokal. “Kita hendaknya mampu memaknai berbagai bentuk yoga dalam konsep holistik, untuk membangun integritas diri mewujudkan keharmonisan tatanan masyarakat Bali,” tandas Gubernur Bali.
Ia mengatakan, ada tiga kekuatan yang sering dilupakan, yakni mental, moral, dan nilai kebersamaan. Ketiga kekuatan ini merupakan landasan universal. Ia mengajak para pencinta yoga mampu mengembangkan nilai universal dan menyinergikan kearifan lokal dengan nilai modern. -ast

Rabu, 03 November 2010

Penyebab Cikungunya Mirip DB

Mira mendadak demam tinggi. Ototnya nyeri, kakinya tidak dapat digerakkan. Ia ketakutan karena dari informasi yang didengar apa yang dialami itu gejala orang menderita cikungunya. Bertambah gundah hatinya karena ia pun pernah mendengar, penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan.
“Penyebab penyakit chikungunya hampir mirip demam berdarah. Sama-sama disebarkan nyamuk aedes aegypti. Namun, jarang menimbulkan kematian. Anggapan penyakit ini menimbulkan kelumpuhan tidak benar,” ujar dr. I Ketut Agus Somia , Sp. P.D., KPTI.

Dokter Rumah Sakit Sanglah yang membidangi penyakit tropik dan infeksi ini mengatakan, penyakit ini disebabkan sejenis virus yang disebut virus chikungunya, yang disebarkan nyamuk aedes aegypti.
Virus menyerang semua usia, anak-anak maupun dewasa. Gejalanya hampir mirip infeksi virus demam berdarah. “Virus ini masuk ke dalam tubuh dan meresponsnya menjadi demam, dan seluruh tubuh terasa nyeri. Cikungunya berawal dari gejala yang sangat biasa, demam tinggi, kemudian seluruh tubuh terasa nyeri. Tidak sedikit penderita cikungunya sulit untuk sekadar menggerak-gerakkan tubuh,” jelasnya.
Virus mencari target sel, sel otot, sel saraf, atau jaringan ikat. Gejala paling dominan, misalnya jika menyerang otot yang mengatur gerak, pasien menjadi lumpuh. Namun, lumpuh yang diderita bukan disebabkan ototnya layu, tetapi pasien tidak bisa bergerak karena nyerinya teramat hebat sampai takut bergerak.

Muncul rasa mual, bahkan muntah dan bercak merah di kulitnya. Bercak merah yang timbul bukan karena terjadi pendarahan. Dalam cikungunya disebut ras. Bedanya dengan demam berdarah, pada chikungunya tidak ada perdarahan hebat, maupun kematian. Dengan istirahat cukup, obat demam, minum yang cukup, biasanya sembuh. Namun, khusus bagi penderita penyakit tertentu sebelumnya, seperti gagal jantung atau ginjal, perlu diwaspadai. “Penyakit infeksi disebabkan karena masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh. Penyembuhan tergantung daya tahan tubuh orang yang bersangkutan. Walaupun ada gejala cikungunya, kalau ada tahan tubuhnya bagus, gejalanya tidak menjadi kronis. Virus ini juga sudah diprogram, ketika masa inkubasi sudah selesai, otomatis mati,” papar Dokter Agus.
Untuk mengetahui virus ini, perlu pemeriksaan darah PCR. Biasanya setelah dicek dokter dan diduga cikungunya, biasanya pasien disarankan melakukan tes darah.

Pengobatannya, tidak memberikan antivirus. Namun, hanya diberikan obat penghilang gejala, dengan memberikan obat antinyeri, dan penurun panas. Kalau ada penyakit lain yang menyertainya seperti gagal jantung atau ginjal, diberikan obat juga yang khusus untuk penyakitnya itu. “Tidak ada obat spesifik untuk membunuh virus ini. Virus biasanya berada di dalam darah sekitar 7 hari. Pengobatannya hanya memberikan cairan,” ujarnya.
Penyakit cikungunya, kata dia, hanya menyerang orang dengan sistem imun yang lemah. Bagi penderita sangat dianjurkan makan makanan yang bergizi, dan minum secukupnya. Perbanyak mengonsumsi buah-buahan segar. Demam akan berangsur-angsur reda, rasa ngilu maupun nyeri di persendian dan otot berkurang, dan penderitanya akan sembuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup dapat membuat rasa ngilu di persendian cepat hilang. Minum air putih bagus menghilangkan demam. Prinsipnya, diberikan cairan yang sehat, air putih, atau jus buah. ”Kadang warga masyarakat juga mengonsumsi air kelapa (klungah) untuk menurunkan demam. Boleh-boleh saja, tetapi hindari kopi,” katanya.
Ia menyarankan, penderita tidak harus dirawat di rumah sakit. Penderita cukup istirahat di rumah dan makan yang sehat serta minum yang cukup sesuai kebutuhan. Namun, jika kondisi pasien lemah dan tidak mampu menelan cairan, harus dirawat di rumah sakit untuk diberi cairan infus. Kebutuhan cairan normal 3-4 liter. Namun, kata Dokter Agus, tidak semua orang penderita membutuhkan cairan yang sama. ”Tergantung jumlah cairan yang hilang dari tubuhnya, dan kebutuhan minimal yang harus dipenuhi untuk beraktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, orang yang gagal ginjal atau gagal jantung kebutuhan cairannya berbeda. Jangan minum terlalu banyak. Agar beban jantung dan ginjalnya tidak berat. Akibatnya fatal, bisa komplikasi dan mengakibatkan kematian. Kuncinya, kata Dokter Agus, jaga kebersihan lingkungan agar nyamuk aedes aegypti tidak berkembang biak. Lakukan 3M, menguras bak mandi, membuang benda yang sudah tidak diperlukan, dan menutup tempat air. Jaga kebersihan diri, dan lakukan pola hidup sehat. –ast

Tokoh, Edisi 616, 31 Okt s.d 4 nop 2010

IRI Peduli Pengembangan Pemuda dalam Demokrasi






Penampilan Kelompok perempuan Bali dalam malam budaya





JIKA kita amati kehidupan demokrasi di banyak negara, keterlibatan pemuda dan perempuan masih minim. Hal ini yang menggerakkan International Republican Institute (IRI) memberikan pelatihan Advokasi dan Leadership bagi perempuan dan pemuda di 4 provinsi di Indonesia (Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Maluku).

Demikian disampaikan Resident Country Director Indonesia Program John Cavanaugh, dalam pembukaan Konferensi Nasional “Generation Next: Women and Youth Leadership Development”, yang diikuti 56 perempuan dan pemuda dari 4 provinsi.

IRI lembaga nonpartisan yang khusus membidangi pengembangan demokrasi dunia yang berpusat di Washington DC, AS. IRI berada di 70 negara, dan
bekerja dalam berbagai aspek kehidupan dan khususnya pengembangan pemuda di negara yang sedang berkembang. Dengan berbagai profesi peserta pelatihan yakni pewakilan parpol, LSM, dan media, ia berharap, dapat membantu misi IRI dalam pengembangan kaum muda dalam demokrasi. Ia menyatakan, perempuan dan pemuda perlu diberi dorongan agar mereka mampu ikut berperan lebih aktif dalam demokrasi. Setelah mengadakan pelatihan di 4 provinsi, konferensi nasional ini menjadikan satu wadah untuk saling bertukar pengalaman dan hasil advokasi di masing-masing wilayah. Ia berharap, hasil advokasi yang sudah dirumuskan dapat menjadi masukan dan pembelajaran bagi perempuan dan pemuda dalam pembangunan demokrasi ke depan.

Dalam Konferensi Nasional “Generation Next: Women and Youth Leadership Development” delegasi Bali diwakili 8 perempuan dan 9 pemuda. Kelompok perempuan menyampaikan rumusan advokasi kekerasan dalam rumah tangga dan pemuda menyampaikan advokasi persampahan di Bali. Delegasi Yogyakarta diwakili 8 perempuan dan 9 pemuda. Kelompok perempuan menyampaikan advokasi pernikahan yang tidak dicatatkan, dan kelompok pemudanya menyampaikan advokasi buruh. Delegasi Jawa Timur diwakili 7 perempuan dan 3 pemuda. Kelompok perempuannya menyampaikan advokasi kekerasan seksual terhadap anak. Delegasi Maluku diwakili 5 perempuan dan 7 pemuda. Kelompok perempuannya menyampaikan advokasi KDRT dan pemudanya advokasi hak–hak pengungsi. -ast

Koran tokoh, edisi 616, 31 okt - 6 nop 2010

Kiat Sukses Elnino Berpolitik, Punya Modal Sosial

BERPOLITIK tidak harus selalu memiliki banyak uang. Itu sudah dibuktikan Elnino M. Husein Mohi, S.T., M.Si. anggota DPD 2009-2014 dari Provinsi Gorontalo. Ia salah seorang senator yang berusia muda di lembaga tinggi tersebut. Saat ini, ia menjabat koordinator parliamentary’s group on MDGs DPD-RI.
Sebelum menjadi anggota DPD, Elnino seorang wartawan dan aktivis yang sering menyampaikan ide perubahan untuk membuat Provinsi Gorontalo menjadi lebih baik. Ia masih aktif menulis di media massa dan telah menerbitkan beberapa buku tentang keadaan sosial dan politik Gorontalo.

Elnino menilai, banyak orang partai salah persepsi, masuk politik harus banyak uang. “Menjadi politisi tidak selamanya dengan uang. Dalam pencalonan bukan urusan menang kalah, namun cara berpolitiknya yang harus bisa diteladani,” ujarnya.
Di depan peserta Konferensi Nasional “Generation Next: Women and Youth Leadership Development” ia mengungkapkan kesannya, di Gorontalo orang tidak percaya parpol. Siapa yang memberi uang, itu yang dipilih. Ada anggapan, politik bukan untuk orang miskin. Justru orang miskin hanya jadi korban politik. Orang dermawan lebih terhormat daripada orang pintar.
Opini masyarakat yang berkembang, politik itu tidak beres dan tidak bisa dipercaya. Di televisi sering ditayangkan rapat DPR kacau, ribut, ada unjuk rasa. “Inilah yang harus diubah. Yang harus ditunjukkan, mengubah opini orang di sekitar kita. Tidak semua politisi kotor,” ujarnya.
Melawan keadaan itu, Elnino punya strategi. Ia memunyai modal sosial sejak menjadi wartawan mulai tahun 1999. “Saya sering mendatangi desa-desa dan membuat profilnya. Setelah dimuat di koran, ditempel di kantor desa. Waktu saya mencalonkan diri, saya tinggal datang ke desa-desa tersebut. Menjadi calon itu pengabdian, bukan masalah menang kalah. Dengan itu, saya mampu mengubah opini 50.000 orang,” paparnya.

Waktu pencalonan, ia mengaku melakukan pengkajian peradaban. Bagaimana jatuh bangunnya peradaban Mesir, menjadi acuannya. Ia mencoba membangkitkan kesadaran masyarakat Gorontalo. Hal yang harus diperbaiki tingkat pengetahuan dan kelakuannya. Ia menggali dan bercerita tentang sejarah Gorontalo, Dengan cerita-cerita kisah nenek moyang, masyarakat akan tersentuh.
Tidak perlu banyak, kata dia, hanya 12 orang tokoh yang dilibatkan seperti kepala desa dan sekretaris desa. Ia ngobrol di rumah mereka dalam suasana santai, namun ada kajian. “Saya tidak pernah mengatakan pilih saya menjadi anggota DPD. Namun, saya katakan sudahlah lupakan Elnino calon DPD No. 9. Ini hanya masalah teknis,” ujarnya membagi kiat suksesnya.
Ia menyarankan, dalam berkampaye ke desa-desa, jangan bicara tentang politik. Tanyakan apa yang dibutuhkan keluarga itu.
Secara individu Elnino kenal 3200 orang yang saling mengenal, kemudian membentuk jaringan sosial untuk memilihnya. Ia menilai, masyarakat saat ini justru tidak terikat simbol parpol. Dari 64 pilkada yang ada, menunjukkan kekuatan individu lebih menang daripada kekuatan organisasi.
Jangan bicara politiknya, tetapi bicara orangnya. Artinya tidak ada artinya bicara tentang politik, tetapi lebih baik membicarakan kepentingan orang yang akan diperjuangkan. Triknya ini menuai sukses. Pendukungnya datang dari banyak kalangan, perempuan maupun laki-laki.

Para calon legislator umumnya lebih peduli pada bagaimana ia bisa terpilih, sedangkan yang sudah menjadi anggota DPR dan DPD memikirkan bagaimana ia terpilih lagi. Selama ini pendidikan politik seperti disembunyikan di bawah meja. Banyak caleg yang tidak siap, justru dipilih secara instan.
Masa kepemimpinannya di HMI, menjadi ajang pembelajaran Elnino dalam politik. Secara individu, ia sudah siap ketika masuk dalam politik. Ia memunyai pemetaan konsep dan ilmu berpolitik.

Jangan hanya Mengkritik
Ketua Bidang Komunikasi & Politik DPP PAN Bimo Arya Sugiarto berpandangan, pemimpin sejati seharusnya memberi inspirasi ke depan. Ada beberapa karakter yang harus dipenuhi seorang pemimpin, tidak mudah menyerah, jangan hanya bisa mengkritik tetapi mampu memberikan solusinya. Berani tampil dan memimpin, jangan hanya jadi pengikut. Memiliki kemampuan dan keahlian, serta transformatif yakni pemimpin mencari nilai untuk suatu perubahan.

Tentang fenomena yang ada di kalangan anggota parpol yang dia amati, kapasitas manajerial mereka lemah, visi lemah, dan tidak memiliki kemampuan membuat keputusan. Datangi rapat tidak tepat waktu. Tiap rapat energi habis karena konflik. Kalau begini, bagaimana bisa menarik simpati pemuda? Anak muda/kaum muda parpol cukup dominan. Saatnya kaum muda memimpin. Mereka ingin merebut, tetapi tanpa kapasitas untuk merebut, tentu tidak bisa. Sekarang ini, ia menilai, kekuasaan dan posisi itu diminta. bukan diambil. Padahal, seharusnya dengan banyaknya parpol, kekuasaan itu harus diambil bukan diminta. “Yang dibutuhkan sekarang paham membangkitkan semangat dan membangun nilai trasnformasi. Menurutnya, merebut suara anak muda perlu dengan pendekatan sosial kultural. Cari ikon anak muda dan mampu masuk ke dalam dunia anak muda. –ast

Tokoh, edisi 616, 31 okt - 6 nop 2010

70% Anggota DPR Baru dari Kekuatan Uang dan Dinasti

Lena Maryana Mukti, mantan anggota DPR RI dan anggota MPP PPP menilai, saat ini terjadi gerakan Indonesia baru. Setelah ada reformasi di bidang politik, terjadi perubahan di Indonesia. Harapannya, agar Indonesia memiliki sistem ketatanegaraan dan pilar demokrasi yang kuat.
Di depan peserta Konferensi Nasional “Generation Next: Women and Youth Leadership Development” ia mengungkapkan pandangannya, etika berpolitik masih menjadi masalah sekarang ini. Sebagian LSM mengibaratkan “seperti sedang berjalan di lorong gelap.” Ia menilai, baru sebagian anggota lembaga legislatif yang paham hak publik dan mekanisme kerja di parlemen. Hal ini bisa dianalisis dalam rekrutmen di partai politik. “70% anggota parlemen baru dan dari kekuatan uang dan dinasti, popularitasnya sedikit dan tidak berjuang dari bawah. Perekrutan tidak transparan dan tidak demokratis. Akibatnya, bangsa menderita. Rekrutmen tidak berdasarkan prinsip pemilu yakni UU Nomor 10 tahun 2008,” papar Lena.

Perempuan Diberdayakan
Hetifah Siswanda anggota DPR RI dari Golkar mengungkapkan sulitnya perempuan mengambil peran yang signifikan (bermakna). Pengetahuan sering diabaikan sehingga perempuan tidak bisa eksis. Agar perempuan mampu memengaruhi orang lain, perlu diberdayakan. Tingkat kelulusan perempuan lebih banyak, namun, tak banyak yang punya nyali untuk menyuarakan aspirasinya. “Oleh karena itu perlu kesiapan dan keberanian perempuan untuk tampil,” tandasnya. –ast

Koran Tokoh, Edisi 615, 31 Okt - 6 Nop 2010

Tanpa Partisipasi Perempuan dan Pemuda, Peluang Politisi Busuk Berkuasa


PERIHAL kiat merebut kekuasaan dalam kehidupan politik dan demokrasi, perempuan Indonesia dapat belajar dari pengalaman salah seorang perempuan India, Vani Tripathi, yang kini menjabat sekretaris nasional Partai Bharatiya Janata, partai oposisi utama di India. Sebelum terjun ke dunia politik, Vani, begitu ia akrab disapa, merupakan artis Bollywood yang sudah banyak membintangi film dan drama di India.

Didasari keinginan untuk membuat perubahan bagi masyarakat India, Vani akhirnya memutuskan terjun langsung dalam bidang sosial dan politik. Kegiatan sosial yang dilaksanakan banyak berhubungan dengan masalah kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak. Ia melakukan advokasi untuk menyosialisasikan kegiatan imunisasi dan kesehatan perempuan di berbagai tempat di India.
Salah satu caranya, menyosialisasikan pesan lewat media teater dan film. Pesan-pesannya bisa dinikmati berbagai kalangan tanpa merasa bosan atau sedang mendengarkan ceramah. Selain menguasai kemampuan akademis di bidang politik, Vani juga menekuni ilmu jurnalistik dan broadcasting.
Vani membagi pengalamannya berpolitik itu di depan peserta Konferensi Nasional “Generation Next: Women and Youth Leadership Development”, 20-21 Oktober 2010 di Hotel Ambhara, Jakarta.
Menurut Vani, ada beberapa poin yang harus dikuasai seorang pemimpin yakni komunikasi, membuat perubahan, menjadi teladan, kemampuan memberi informasi, dan yang paling penting, kekuatan mengubah opini publik.
Ia menuturkan selama ini berkembang kesan, politisi identik dengan koruptor dan banyak kebijakannya yang tidak mengakomodir aspirasi perempuan dan pemuda. Namun, kata Vani, apakah karena alasan itu masyarakat patah arang. “Kita akan memberi kesempatan praktik korup itu terus berkuasa, apabila perempuan dan pemuda tidak melakukan perubahan. Kekuatan melakukan perubahan terletak di tangan pemuda dan perempuan,” tandasnya.
Ia berpandangan, pemuda dan perempuan merupakan katalis perubahan. Ia mengutip dari satu pepatah Hindu “Membela satu laki-laki sama dengan kita membela satu orang. Namun, membela perempuan sama dengan kita membela semua komponen.”
Ia mengungkapkan, tahun 2009 Partai Bharatiya Janata menjadi partai oposisi di India dan tidak berhasil memenangkan pemilu. Berdasarkan pengalamannya, kekalahan itu disebabkan, pemuda dan perempuan di India tidak banyak berpartisipasi dalam pemilu. Mereka tidak suka politik dan tidak mau mengawasi proses pemilu.
Ia menilai, dengan tidak berpartisipasinya pemuda dan perempuan dalam politik, memberikan peluang politisi busuk berkuasa. Menurutnya, jika mau terjadi perubahan, kita tidak hanya bisa mengatakan politisi orang yang busuk dan korup, dan selanjutnya tidak peduli. Harus ada perubahan, dan perubahan itu harus dimulai dari diri kita masing-masing. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Mahatma Gandhi, “perubahan harus datang dari orang yang bersangkutan.”
Menurutnya, kekuatan melakukan perubahan harus dilakukan dengan komunikasi efektif. Politik harus membuat senang. Bicara tentang pembangunan politik dan demokrasi harus membuat orang senang dan berbahagia.

Melawan Tradisi
Vani mengungkapkan, perempuan melawan tradisi merupakan konflik tradisional yang pernah terjadi di India. Perempuan sangat dipuja, namun tidak dibuatkan sekolah. Saat budaya berlawanan dengan hukum modern, perempuan harus berani melawan.
Ada budaya sati di India yang sangat merugikan kaum perempuan. Saat laki-laki meninggal dan dikremasikan, si istri harus meloncat ke api ikut membakar diri. Sepuluh tahun lalu, tradisi ini dihapuskan dan tidak boleh diteruskan. Keputusan ini menimbulkan banyak protes. Di Rajastan, salah satu negara bagian di India, budaya ini masih diterapkan. Namun, hukum segera ditegakkan demi kepentingan kaum perempuan. “Kalau istri ikut bunuh diri, bagaimana dengan anak-anak mereka?” kata Vani.
Partai Bharatiya Janata yang didirikan tahun 1998 itu telah banyak melakukan perubahan radikal. Selama 50 tahun, India memiliki satu parpol yang berkuasa.
Dalam pemilu terakhir, banyak orang yang cemerlang. Sekarang ini, kata Vani, yang dilihat bukan lagi partainya. Simbol partai memang perlu. Namun, penampilan individu yang lebih penting. –ast

Tokoh, 616, 31 okt - 6 nop 2010

Minggu, 24 Oktober 2010

Terobosan Majelis Utama Desa Pakraman Bali

Mengakomodasikan Kepentingan Perempuan

BERBAGAI terobosan telah ditempuh Majelis Utama Desa Pakraman (MDP) Bali dalam Pasamuhan Agung III yang digelar Jumat (15/10) di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali. Beberapa keputusan yang dihasilkan telah mengakomodasikan kepentingan perempuan.
Keputusan tersebut di antaranya, diberinya hak waris bagi perempuan yang ninggal kedaton dan dimungkinkannya berlangsung perkawinan pada gelahang. Mengenai perceraian Pasamuhan memutuskan, tiap rencana perceraian wajib disampaikan kepada prajuru banjar dan desa pakraman. Perceraian harus diselesaikan dengan proses adat kemudian dilanjutkan di pengadilan negeri. Setelah perceraian, anak dapat diasuh ibunya.Kalangan aktivis perempuan di Bali menyatakan, keputusan Pasumahan tersebut perlu dijadikan acuan desa prakraram di kabupatan/kota di seluruh Bali.

Sejak tahun 2006, MDP Bali telah menempatkan 7 orang perempuan duduk dalam kepengurusannya. Tujuannya, kepentingan kaum perempuan lebih diperjuangkan. Tujuh perempuan tersebut, Nyoman Nilawati, A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, Dra. Ida Ayu Tari Puspa, M.Ag, M.Pd., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, Dr. Ni Made Wiratini, Luh Putu Anggreni, S.H. dan Dra. Ketut Sri Kusumawardani, M.Pd. Sistem kekeluargaan patrinial di Bali dikenal dengan kapurusan yang menyebabkan hanya keturunan yang berstatus kapurusa yang dianggap dapat mengurus dan meneruskan swadharma (tanggung jawab) keluarga, baik hubungan parahyangan (keyakinan Hindu), pawongan (umat Hindu) maupun palemahan (pelestarian lingkungan alam sesuai dengan keyakinan Hindu).Konsekuensinya, hanya keturunan yang berstatus kapurusa (laki-laki) yang berhak mendapat harta warisan sementara keturunan yang berstatus pradana (perempuan) tidak berhak. Perempuan dianggap tidak dapat meneruskan swadharma sehingga disamakan dengan orang yang meninggalkan tanggung jawab keluarga atau ninggal kedaton.
Namun, kenyataannya di masyarakat, ada orang yang ninggal kadaton terbatas masih dimungkinkan melaksanakan tanggung jawab sebagai umat Hindu dalam batas tertentu. Kepala Badan Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (BP3A) Provinsi Bali Luh Putu Haryani, S.E., M.M. meminta MDP Bali menjabarkan lebih mendetail ninggal kedaton. “Kami berharap tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Dengan adanya keputusan hitam di atas putih yang menegaskan anak perempuan juga memunyai hak, para orangtua akan merasa tenang, dan nyaman,” ujarnya. MDP Bali memutuskan, yang dikategorikan ninggal kadaton penuh apabila tidak lagi memeluk agama Hindu. Mereka, tidak berhak mendapat harta warisan. Mereka yang ninggal kadaton terbatas masih dimungkinkan mendapat harta warisan didasarkan asas ategen asuwun (dua berbanding satu). Artinya, orang yang berstatus purusa berhak atas satu bagian dari harta warisan, sedangkan yang berstatus pradana/ninggal kadaton terbatas berhak atas setengahnya. Disebutkan, mereka yang tergolong ninggal kedaton terbatas, perempuan yang melangsungkan perkawinan biasa, laki-laki yang melangsungkan perkawinan nyentana/nyeburin, telah diangkat anak/peras sentana sesuai agama Hindu, dan menyerahkan diri atas kemauan sendiri.

Harta WarisanKedudukan suami istri serta anak terhadap harta pusaka dan harta gunakaya:1. Suami dan istrinya serta saudara laki-laki suami dan istrinya memunyai kedudukan sama dalam usaha menjamin bahwa harta pusaka dapat diteruskan kepada anak dan cucunya untuk memelihara atau melestarikan warisan in materiil. 2. Suami dan istrinya memunyai kedudukan sama terhadap harta gunakaya atau harta yang diperoleh selama masa status perkawinan.3. Atas kesepakatan suami dan istrinya, harta gunakaya dapat dibagikan kepada anak-anaknya sesudah dikurangi sepertiga sebagai harta bersama dan bukan dimiliki anak pertama atau terakhir yang melanjutkan tanggung jawab orangtuanya.
Anak kandung laki-laki dan perempuan yang belum kawin serta anak angkat laki-laki dan perempuan yang belum kawin, memunyai kedudukan sama atas harta gunakaya orangtuanya. Anak yang ninggal kadaton penuh, tidak berhak atas harta warisan, tetapi dapat diberi bekal oleh orangtuanya dari harta gunakaya tanpa merugikan ahli waris.

Kawin Pada Gelahang Hukum adat Bali mengenal dua bentuk perkawinan yakni perkawinan biasa (wanita menjadi keluarga suami) dan perkawinan nyentana (suami berstatus pradana dan menjadi bagian keluarga istri). Namun, masalah muncul ketika masing-masing keluarga memiliki anak tunggal. Mereka ngotot tidak mau memilih melakukan perkawinan biasa atau nyentana. Dekan Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Putu Dyatmikawati, S.H. M.Hum. mengatakan, perkawinan pada gelahang sudah dilakukan sejak tahun 1945. Ada yang menyebut magelar warang atau metegen dadua.Mereka yang memilih model perkawinan seperti ini ada yang menggunakan pola upacara perkawinan biasa atau nyentana. Ada juga yang menggabungkan keduanya. Kita tidak boleh menutup mata, di Bali ada upacara seperti ini. Dalam akta perkawinan tercatat sesuai dengan pola perkawinan biasa. Jika direkomendasikan, ke depan perlu ada pedoman pelaksanaan perkawinan pada gelahang.Intinya, kata Dyatmikawati, perkawinan pada gelahang merupakan solusi bagi orangtua yang memunyai anak tunggal dan juga memberi penghargaan kepada wanita.
Dosen Fakultas Hukum Unud yang juga Ketua Litbang MDP Bali Prof. Dr. Wayan P. Windia menegaskan, tidak semua orang nasibnya sama. Ada orangtua yang hanya dikaruniai satu anak. Kebetulan juga calon pasangannya anak tunggal. Perkawinan pada gelahang merupakan solusinya. Ini bukan masalah setuju atau tidak. Namun, perlu pemahaman. Dari kasus yang sudah diteliti, setelah mereka memunyai anak, istri biasanya memutuskan tetap di rumah suaminya. “Pengadilan pun mengakui di Bali ada perkawinan pada gelahang,” ujarnya. Gede Dastra salah seorang peserta diskusi dari Karangasem menanyakan, paham apa yang dianut; bukankah Bali menganut patrinial. Ketut Sudantra dari MDP Bali menegaskan, ini hanya menawarkan solusi. Hukum adat Bali tetap menganut paham patrinial. “Ini sifatnya sangat darurat dan untuk mencegah terjadinya masalah. Jangan sampai karena tidak mau nyentana batal kawin,” ujarnya.
Mas Rucitawati menambahkan, ini masalah cinta, yang berhubungan dengan hati. Tidak bisa dipaksa harus kawin satu soroh. “Kalau sudah ada kesepakatan, itu yang penting,” kata sastrawati Bali ini. Dyatmikawati menambahkan, karena ini baru, perlu dimengerti umat. Perkawinan ini sudah ada sejak dulu. Kalau sudah disetujui dimasukkan dalam keputusan ini jangan ditambah lagi dengan aturan/awig-awig di masing-masing desa pakraman. “Lebih baik selesaikan masalah dengan cara sederhana. Yang penting kesepakatan. Kalau sudah sepakat, yang lain mengikuti saja,’ ujarnya. Budawati dari LBH APIK Bali berharap, solusi perkawinan pada gelahang hendaknya disikapi dengan bijaksana, karena di lapangan sudah banyak warga yang melakukan hal ini. “Jangan sampai menghalangi proses cinta,” kata Budawati. Setelah melewati perdebatan yang alot, MDP Bali memutuskan, bagi calon pengantin yang karena keadaan tidak memungkinkan melangsungkan perkawinan biasa atau nyeburin (nyentana) dimungkinkan melangsungkan perkawinan pada gelahang atas dasar kesepakatan pihak-pihak yang berkepentingan.

Anak Diasuh IbunyaSebelum berlaku UU Perkawinan UU No 1 Tahun 1974 perkawinan dan perceraian bagi umat Hindu di Bali dapat dikatakan sah apabila dilaksanakan menurut hukum adat Bali disaksikan pajuru banjar atau desa pakraman dan agama Hindu.Sesudah berlaku UU Perkawinan, umat Hindu di Bali yang melangsungkan perkawinan dapat dikatakan sah, apabila dilaksanakan menurut hukum adat Bali agama Hindu dan UU Perkawinan. Sementara, perceraian baru dapat dkatakan sah apabila dilaksanakan di pengadilan negeri sesuai ketentuan UU Perkawinan. Hal ini, tidak memberikan penghargaan yang seimbang kepada hukum adat Bali dan agama Hindu. Terbukti, perceraian dikatakan sah setelah ada putusan pengadilan. Tanpa menyebut peran hukum adat Bali (prajuru desa pakraman) dan ajaran agama Hindu, akibatnya, ada warga yang telah bercerai secara sah berdasarkan putusan pengadilan tetapi tidak diketahui sebagian besar warga desa adatnya.Kenyatan ini, membawa konsekuensi kurang baik terhadap keberadaan hukum adat Bali dan menyulitkan prajuru desa dalam menentukan swadharma krama desa bersangkutan.Agar proses perceraian sejalan dengan proses perkawinan,
Pesamuhan Agung III MDP Bali tahun 2010 ini memutuskan :1. Pasangan suami istri yang akan melangsungkan perceraian wajib menyampaikan kehendak itu kepada prajuru banjar atau desa pakraman. 2. Prajuru banjar atau desa pakraman wajib memberi nasihat untuk mencegah terjadi perceraian.3. Apabila terjadi perceraian harus diselesaikan dengan proses adat kemudian dilanjutkan di pengadilan negeri.4. Menyampaikan salinan putusan/akta perceraian kepada prajuru banjar atau desa pakraman.5. Pada saat bersamaan prajuru banjar menyarankan kepada warga yang telah bercerai agar melaksanakan upacara perceraian sesuai agama Hindu.6. Mengumumkan dalam paruman banjar bahwa pasutri bersangkutan telah bercerai secara sah menurut hukum nasional dan hukum adat Bali, sekalian menjelaskan swadharma mantan pasangan suami istri tersebut di banjar/desa pakraman setelah bercerai.

Dalam perkawinan biasa sederajat dan berbeda wangsa/kasta akibatnya berbeda jika terjadi perceraian. Untuk sederajat, istri kembali ke rumah daha. Ketut Sudantra menegaskan perkawinan nyerod sudah dihapus sehingga jika terjadi perceraian tidak ada lagi upacara pati wangi. Pada perkawinan nyeburin atau nyentana, apabila terjadi perceraian suami kembali ke rumah truna.Setelah perceraian, anak dapat diasuh ibunya, dan tidak memutuskan hubungan dengan keluarga purusa dan anak tersebut mendapat jaminan hidup dari pihak purusa, walaupun diasuh ibunya.
Keputusan yang dihasilkan dalam Paruman III MDP Bali ini cukup melegakan aktivis perempuan yang hadir dalam paruman tersebut. Ketua LBH APIK Bali Budawati menyatakan cukup lega terhadap keputusan MDP Bali ini. “Sekarang tinggal disosialisasikan ke masing-masing desa pakraman. Kita lihat sekarang apa kekurangan dan kelemahannya dalam penerapannya di lapangan. Kami akan terus memantau,” jelasnya. Luh Anggreni yang juga Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Bali menyatakan keputusan yang dihasilkan MDP Bali sudah sensitif gender. Dari dulu sudah diperjuangkan agar perempuan bisa duduk dalam kepengurusan MDP Bali. “Ini menjadi contoh bagi desa pakraman, perempuan perlu diajak duduk bersama untuk mendengar persoalan yang dialami perempuan,” ujarnya.
Ia berharap, keputusan MDP Bali ini dapat dijadikan acuan bagi desa pakraman kabupaten/kota di seluruh Bali. Walaupun disesuaikan dengan desa, kala, patra, tetapi tetap menempatkan kedudukan perempuan dan laki-laki sejajar.Berbagai terobosan lain juga sudah dilakukan MDP Bali dengan mengajak generasi muda Hindu yang tergabung dalam KMHDI untuk ikut duduk dalam kepengurusan MDP Bali. “Ini bagus karena jangan sampai setelah dewasa baru mereka memahami adat Bali. Sepatutnya generasi muda mereka diberi pemahaman sejak dini agar lebih mengerti adat Bali dengan benar,” kata Anggreni. Ibu Teladan se-Bali 2008 Nyoman Nilawati menyatakan, perempuan dalam ajaran agama Hindu sangat dimuliakan. Ia berharap, perempuan lebih diberi ruang dan kesempatan untuk ikut lebih banyak terlibat dalam kegiatan adat, tidak hanya ikut dalam pelaksanaan, tetapi mulai dari perencanaan, dan ikut urun saran dalam pengambilan keputusan. Secara pribadi para perempuan banyak yang sukses, namun, terkait masalah adat, terkadang suara mereka belum didengar. Untuk itu, dengan duduknya para perempuan di MDP Bali, ia berharap, berbagai persoalan perempuan lebih bisa diperjuangkan. –ast
Koran Tokoh, Edisi 516, 17 s.d 24 Oktober 2010