Minggu, 16 September 2012

Hindari nyeri pinggang gunakan lutut sebagai tuas


Anda berusia 40-60 tahun yang sering menderita  nyeri pinggang?  Sudah diobati, namun tak sembuh bahkan kumat-kumatan.  Nyeri pinggang yang ringan dapat diobati dengan obat, istirahat maupun exercise tertentu. Namun, ada insiden 5%, nyeri pinggang yang kadang membandel yang disertai nyeri menjalar ke sendi kaki,  kelemahan otot atau mengecilnya otot, bahkan terjadi gangguan fungsi kencing dan berak.  Jika Anda mengalami hal seperti ini, lakukan pemeriksaan lebih lanjut, baik scan pinggang maupun MRI untuk mengetahui kelainan anatomi  yang mendasari nyeri pinggang.
Menurut ahli nyeri pinggang Dr. dr. Tjokorda Gde  Bagus Mahadewa, M.Kes, Sp.BS., nyeri pinggang tidak hanya masalah saraf tapi juga berhubungan dengan jaringan lunak ataupun jaringan penunjang lainnya maupun tulang.   “Umumnya pasien datang dengan gangguan nyeri yang konsisten. Nyeri pinggang disertai kesemutan di jari kaki, kencing tersendat, berak seminggu sekali.  Pada laki-laki disertai gangguan ereksi maupun ejakulasi. Nyeri pinggang ini disebabkan karena terjadi penyempitan rongga tulang belakang yang harus dilakukan tindakan,” paparnya.

Ia mengatakan, saraf tulang belakang bertanggung jawab terhadap semua saraf di bagian bawah tubuh. Penyebab dari  penebalan rongga ini karena  riwayat pekerjaan yang menggunakan pinggang berlebihan seperti petani yang mencangkul, duduk terlalu lama, dan mengangkat berat.  Jika pekerjaan ini dilakukan bertahun-tahun hingga 10 tahun,  di usia tuanya akan  mengalami penebalan dari jaringan rongga saraf maupun bantalan tulang belakang bergeser ke belakang sehingga menyebabkan rongga saraf mengecil.  Namun, gangguan ini juga terjadi karena proses penuaan. “Walaupun tidak melakukan aktivitas mencangkul atau mengangat beban berat tetap saja dapat bisa terkena. Penyebabnya multifaktor. Namun, yang paling banyak terkena laki-laki karena lebih banyak melakukan aktivitas berat,” tambah Sekretaris SMF Bedah Saraf FK Unud/RS Sanglah ini.

Isu yang berkembang di masyarakat, tindakan operasi pada tulang belakang sering menimbulkan kelumpuhan. Menurut kepala divisi neurospine SMF Bedah Saraf FK Unud/RS Sanglah ini,   berdasarkan penelitiannya, dengan teknik spinoplasty isu tersebut telah terbantahkan. Pada kasus yang murni karena penyempitan rongga tulang belakang, teknik ini dapat dilakukan tanpa pemasangan pen.
Dengan teknik terbaru ini berdasarkan hasil penelitiannya,  pasien lebih cepat sembuh. Nyerinya lebih sedikit, rawat inap hanya 3-5 hari dan tidak ada benda asing atau pemasangan pen sehingga tidak ada rasa kaku pada pinggang.   Teknik ini merupakan alternatif teknik operasi  untuk kasus penyempitan rongga tulang belakang. Teknik standar tanpa pemasangan impan atau pen ini  komplikasinya  rendah, respons pasien lebih rendah kemungkinan infeksi tidak ada.

Pascaoperasi, kondisi pasien lebih cepat membaik dibanding teknik operasi yang lama yang memungkinkan pasien baru bisa dipulangkan lebih dari 7 hari.  Teknik ini juga meminimalkan merusak jaringan sehat sehingga risiko mencederai  saraf lebih sedikit.
Suami Tjokorda Istri Indira Kusumadewi, S.E. ini mengatakan, berat badan ditopang tulang belakang terutama pinggang sebagai tiang penyangga.  Aktivitas yang dilakukan lebih dari 30 menit sudah menimbulkan kompensasi, misalnya saat kita berolahraga lebih dari 30 menit pasti ada perubahan denyut jantung. Begitu juga ketika mengangkat barang. Untuk mencegah gangguan ini, gunakan pinggang dengan cerdas.  “Saat mengangkat barang jangan gunakan pinggang sebagai tuas, tetapi gunakan lutut, usahakan pinggang tetap tegak terutama pekerjaan membungkuk seperti mencangkul,” jelas bapak lima anak ini.  Ia menyarankan, setelah melakukan  aktivitas selama 30 menit istirahatkan pinggang dan bahu sejenak sekitar 5-15 menit. –ast