Minggu, 07 Oktober 2012

Dokter Ayu Witriasih, Kadang Dianggap Malaikat

Pernahkah Anda mendengar istilah dokter keluarga. Di Indonesia istilah dokter keluarga masih terasa asing, berbeda dengan di luar negeri konsep dokter keluarga sudah berjalan sejak dulu. Padahal, memiliki dokter keluarga menurut dr. Ayu Witriasih, sangatlah penting dikarenakan kesehatan setiap anggota keluarga dapat tercatat dengan baik. “Masyarakat dapat memilih  dokter umum yang tempat prakteknya dekat rumah  menjadi pilihan pertama. Dokter keluarga ini merupakan andalan pasien saat pertama kali mendapat masalah kesehatan.  Namun, jika memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, maka dokter keluarga akan merujuk ke dokter spesialis, laboratorium, ataupun rumah sakit,” katanya.

Dokter Ayu menuturkan, awal tertarik menjadi dokter keluarga  karena tetangga di lingkungan tempat tinggalnya dan sebagian besar temannya merupakan orang asing. "Mereka sudah terbiasa di negaranya mempunyai satu dokter konsultan yakni family doctor, yang setiap saat bisa dihubungi lewat telepon atau tatap muka," ujar Kepala Puskesmas IV Denpasar Selatan  ini tentang ketertarikannya sebagai dokter keluarga.
Dari pengalaman ini akhirnya ia tertarik dengan konsep dokter keluarga yakni memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif dengan pendekatan holistik baik itu promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. "Kami memandang pasien sebagai manusia seutuhnya, bukan hanya bagian tubuhnya yang sakit, pelayanan kesehatan yang kontinu, menjalin kerjasama dengan profesional dengan institusi pelayanan kesehatan lainnya untuk kepentingan pasien agar proses konsultasi dan rujukan berjalan lancar," ungkapnya.
  
Menurut istri Iwan Duzanta ini, 80 % masalah kesehatan masyarakat dapat diselesaikan dokter keluarga. Dokter keluarga juga akan  memantau kesehatan seluruh anggota keluarga, melakukan pencatatan medis setiap pasiennya, dan catatan ini akan bertambah setiap kali pasien berobat, serta memberikan konsultasi agar kesehatan seluruh keluarga kian membaik. “Jadi, dokter keluarga tak hanya sebatas pengobatan, melainkan juga mengupayakan mencegah hadirnya penyakit yang lain. Pelayanan dokter keluarga, merupakan pelayanan  kesehatan yang mengutamakan pencegahan sehingga dapat menurunkan biaya perawatan dan pengobatan, mendiagnosis dan mengobati penyakit sedini mungkin dan  penanganan individual bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari keluarganya,” paparnya.
Penerapan untuk mengetahui penyakit pasien, dokter keluarga harus melihat kebiasaan hidup keluarga pasiennya, kebersihan rumah, hingga kondisi sosial ekonomi yang kemudian membuat rekam medis yang akurat.  Kesehatan kerja juga  merupakan bagian dari ilmu yang dipelajari dalam dokter keluarga karena dasar dari dokter keluarga adalah mengetahui segala permasalahan tentang kesehatan kerja.
Tahun 1997 Dokter Ayu   mengikuti Asian Pasific Regional Conference  WONCA (Organisasi Dokter Keluarga Sedunia) di Seoul, Korea Selatan. Sejak itu ia  menjadi member dari WONCA dan Persatuan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) yang tiap tahun mengadakan pertemuan rutin berupa seminar dan pelatihan.

Dokter  yang mendapat gelar Pakar Kedokteran Keluarga  tahun 2000 dan Dokter keluarga  pada tahun 2010 dari PB IDI ini  menyatakan, dokter di pelayanan primer sudah melaksanakan sebagian dari konsep dokter keluarga hanya saja belum mendapat pengakuan sebagai dokter keluarga dan hanya melakukan kontak dengan pasien ketika sakit. Konsep dokter keluarga sudah mulai diterapkan PT. Askes pada pelayanan primer. Namun, dokter keluarga yang ditunjuk Askes  adalah dokter umum yang belum mengikuti pendidikan berkelanjutan sebagai dokter keluarga sehingga hanya bisa melayani pasien di saat sakit.
Saat ini yang sudah mendapat gelar Pakar Kedokteran Keluarga (PKK) lima orang  Prof. Agus Bagiada, dr. Darmadi,  Prof. Dr. dr Mangku Karmaya, dr Widana dan dr Ayu.  Sedangkan yang mendapat gelar dokter keluarga di Bali ada 4 orang yakni dr Darmadi, dr Arcana,  dr. Kanis dan dr Ayu.
Sebagai pengurus Persatuan Dokter Keluarga Indonesia, ia  berharap Pendidikan Kedokteran Bersinambung (PKB) untuk mendapatkan gelar dokter keluarga dapat dilaksanakan lembaga yang berwenang Tri Partit terdiri dari Fakultas Kedokteran, Dinas Kesehatan dan PDKI melalui organisasi induknya IDI.

Ia menyarankan, dokter di pelayanan primer dimanapun bertugas harus melaksanakan promotif dan preventif  selain kuratif. ”Setelah konsep dokter keluarga ini dikenal baik oleh masyarakat kami harap, nantinya pasien adalah orang sehat yang hendak berkonsultasi yang memerlukan perubahan gaya hidup dan tidak semata-mata memerlukan obat,” tuturnya.
Ada kisah menarik dilontarkan dokter Ayu. Sebagai dokter keluarga kadang- kadang ia dianggap sebagai malaikat ketika pasien mendapat masalah yang serius dan darurat.  Dokter keluarga membantu menyelesaikan masalahnya termasuk merujuk ke dokter spesialis dan mencarikan rumah sakit yang tepat. Artinya, rumah sakit yang dituju sesuai dengan keadaan ekonomi pasien. ”Ada pasien mau operasi usus buntu, dia tidak memberikan dokter anestesinya  membius sebelum saya ada mendampinginya di dalam kamar operasi. Begitu juga ketika tidak puas dengan layanan spesialis dan rumah sakit maka yang pertama di komplain adalah dokter keluarga,” ujar wakil ketua Persatuan Dokter Keluarga Indonesia Bali ini sembari tertawa.  Hal positif, kata dokter Ayu, dia  banyak belajar dari pasien dengan berbagai macam permasalahannya sehingga selalu meng up date ilmunya.-ast


4 komentar:

ghiyats mengatakan...

semoga share infonya bermanfaat bagi semua pembaca

pinjaman-tanpaagunan.org mengatakan...

Memang konsep dokter keluarga sudah harus diterapkan, dengan mempercayakan kepada 1 dokter maka akan diketahui rekam medis sejarah kesehatan keluarga tersebut. artikel yang berguna sekali

grosir jilbab murah mengatakan...

kadang istilah dokter pribadi terkesan mewah ya padahal mungkin hanya dokter langganan kita saja...

jual powerbank murah mengatakan...

sangat menginspirasi sekali artikelnya :) jadi terharu