Rabu, 22 April 2009

Seminar Ikhlas Erbe Sentanu

MUSUH terbesar manusia adalah diri sendiri yakni melawan hawa nafsu. Manusia sering lupa. Mereka berkutat dengan perang melawan orang lain. Padahal, mereka hanyalah sekumpulan musuh yang kecil. Jika manusia ingin menang perang, rahasianya adalah hentikan semua pemborosan, membuang waktu dan tenaga untuk melawan musuh yang kecil. Begitu disampaikan Erbe Sentanu dalam seminar The Science & Miracle of Zona Ikhlas di Nirmala Hotel & Convention Centre.

Satu hal ditegaskan lelaki yang akrab disapa Pak Nunu ini adalah ketika manusia mampu mengalahkan musuh terbesar dalam dirinya, ia akan mencapai kesuksesan dalam segala bidang. “Berserah diri, ikhlas adalah perjuangan untuk mencapai segalanya. Rasa syukur membuat manusia hidup bagai di surga. Surga adalah ikhlas yang dibuktikan dengan kesederhanaan,” ujarnya didepan ratusan orang yang mengakhiri seminar itu.
Ia menilai problem yang sering terjadi manusia menuduh diri sendiri dengan pernyataan “saya tidak cantik, saya hanya anak petani, atau saya tidak pintar.” Ia menegaskan untuk mencapai kesuksesan senjata utamanya keyakinan dan ilmu rahasianya adalah berserah diri dan ikhlas. Salah satu contoh perlu dijadikan renungan.

Salah seorang karyawan hotel di Surabaya menuturkan dia hanyalah seorang anak petani. Dengan bekerja keras dan berhasil membeli satu unit mobil. Ketika mobilnya dicuri ia hanya bisa menangisi mobil kesayangannya itu.
Setelah mencoba berserah diri dan ikhlas menerima semuanya tak kurang dari 1 ½ bulan kemudian ia berhasil menemukan mobilnya yang sudah hilang.
“Itu artinya, keajaiban ada karena kita selalu berdoa dan berusaha ikhlas. Semua yang ada adalah keajaiban. Kekuatan itu ada di dalam hati seperti orangtua yang menekankan untuk selalu berhati-hati. Selalu gunakan HATI. Hati yang enak, penuh doa, dan prasangka baik. Dengan menggunakan hati, hidup akan lancar,” papar Pelopor Industri Kesadaran dan Teknologi Spritual di Indonesia ini.

Corporate Soul Consultant di sejumlah perusahaan besar ini mengatakan sekecil apapun keajaiban jangan pernah diabaikan. Ia menenkankan perbanyaklah memudahkan urusan orang lain karena Tuhan tidak akan diam. Tuhan bekerja melihat semua kebaikan yang sudah dilakukan. “Satu menit kita marah, kita akan kehilangan 60 detik kebahagiaan. Tubuh kita mengeluarkan hormon-hormon. Bagaimana jadinya kalau selama 3 bulan kita sering marah? Kita merasa banyak masalah, stres , capek hidup. Ketika kita mengikhlaskan semuanya, keajaiban pasti datang,” papar Pendiri Katahati Institute ini. Ia menegaskan orang yang berpikir realitis percaya keajaiban. “Ketika keajaiban diberi penghargaan, berarti kita menghargai Tuhan. Ucapkan keajaiban itu menjadi besar. Berbagilah dengan kebahagiaan,” ujar suami Veve Safitri ini.

Ia menyayangkan sekarang ini manusia sudah lupa untuk berbagi kebahagiaan. Bayangkan saja, seandainya 250 juta orang penduduk Indonesia berdoa setiap kali, berapa banyak kebahagiaan yang akan dirasakan? Menurutnya doa bersifat percepatan sehingga semua keajaiban akan terjadi. “Kekuatan dan keajaiban ikhlas itu nyata dan terjadi setiap saat di sekitar kita. Keajaiban ikhlas itu milik semua orang dan bisa terjadi pada siapa saja yang bersedia dengan sengaja mengikhtiarkan keikhlasan dalam menjalani hidup sehingga semua dimudahkan oleh Tuhan,” ujar Penggagas Teknologi Quantum Ikhlas yang sudah diekspor ke beberapa negara di Asia ini.

Ia mengungkapkan fenomena keajaiban sebagai bukti nyata dari tuntunan keikhlasan yang bisa dijadikan salah satu parameter berserah diri dari orang yang takwa. Mereka senang bersyukur dan gemar bersabar menjalani kehidupan dengan hati positif. Syarat utama, kata dia, tentu harus konsisten membersihkan hati dengan selalu mengerjakan semua perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Sayangnya, umat manusia yang mencoba menerapkan semua hal itu lupa menyertakan rasa ikhlas didadanya. ”Pejuang ikhlas adalah semua orang yang terampil mendengungkan rasa ikhlas dihati dalam menjalankan hidupnya dengan berbagai cara. Dengan kekuatan berserah diri manusia semakin menyadari bahwa sebenarnya kita sendirilah yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada kita,” ungkapnya.

Ia menyayangkan sebagian orang masih gemar mencari orang pintar sebagai solusi menyelesaikan masalahnya sendiri. Padahal, kata dia, orang pintar yang dicari selama ini adalah diri sendiri.

“Kita tidak perlu bertanya apa untungnya melakukan kebaikan untuk orang lain sementara urusan saya sendiri begitu banyak? Keuntungan yang Anda dapat sangat jelas dan tak ternilai. Setiap kali Anda memudahkan dan meringankan urusan orang, Anda memperoleh laba spritual berupa rasa bahagia yang menyebabkan deposito rekening jiwa Anda meningkat tajam. Hal ini membuat kemudahan akan hadir lebih deras ke dalam hidup Anda. Jadilah orang ikhlas, bukan orang biasa,” paparnya. –ast

Sudah dimuat di Koran Tokoh, Edisi 536, 19 April 2009

3 komentar:

boykesn mengatakan...

hmm..sebuah pencerahan...enak sekali jika saja bisa turut hadir...

sigit mengatakan...

yg paling susah dijalani memang ikhlas, beruntunglah bagi yang sudah bisa menata hatinya. salam

ilmi mengatakan...

ikhlas memang luar biasa, semoga kita bisa mengamalkan ikhlas yg sesungguhnya. thanks postingannya...
http://kafebuku.com/the-sciences-miracles-of-zona-ikhlas/