Jumat, 24 September 2010

Lebaran dengan Makanan Khas Bugis

BERSILATURAHMI pada hari Idulfitri sambil menikmati hidangan lebaran khas Bugis di rumah Haji M. Sabik menorehkan kesan khusus. Menurut penuturan istrinya, Hajjah Maisarah, ada makanan tertentu yang memang disajikan hanya saat Lebaran. Ketupat dan opor memang sudah menjadi tradisi menu Lebaran. Namun, penganan spesial kue Bugis tetap menjadi prioritas untuk disuguhkan saat Lebaran. Buras dan lepek-lepek, salah satunya. Ia mengatakan, kue khas Bugis ini sering dimodifikasikan di tempat lain sesuai selera yang membuatnya. “Cara membuatnya sama dengan kue lemper. Bedanya, bahan utamanya beras. Kue ini sangat cocok dijadikan bekal jika bepergian,” ujarnya.

Pembuatan buras sangat mudah. Hanya saat merebusnya, kata perempuan usia 69 tahun ini, membutuhkan waktu agak lama agar tidak mudah basi. Berikut pemaparan ibu 8 anak dan nenek 17 cucu ini.
Beras direndam dengan air sebentar. Kemudian dimasak bersama santan dan garam. Setelah menjadi nasi setengah matang, sisihkan. “Biasanya satu kilogram beras menggunakan santan dari setengah butir kelapa. Sisa kelapa diparut dan disangrai (saur) kemudian diulek,” jelasnya.
Siapkan bumbu buras yang terdiri atas semua bumbu genep Bali, kecuali kencur. Campur rajangan jahe, lengkuas, kunyit, bawang merah, bawang putih. Tambahkan sedikit merica, pala, kemiri, ketumbar, daun salam, daun jeruk, dan sedikit terasi. Semua bumbu diulek sampai halus, kemudian ditumis. Setelah setengah matang, masukkan daging sapi cincang. Masak sampai matang. Kemudian campur dengan saur tadi. Menurut Hj. Maisarah, fungsi saur untuk memberikan rasa gurih pada adonan isi.
Ambil daun pisang, taruh tiga sendok makan adonan buras. Taruh adonan isi di dalamnya. Bungkus seperti kue nagasari atau sumping yang berbentuk kotak. Ikat dengan tali agar tidak lepas. Kemudian rebus hingga 2-3 jam sampai matang. Setelah matang, lepaskan tali, dan siap disajikan.

Kue spesial lainnya, lepek-lepek yang disajikan dengan srikaja. Cara membuatnya, ketan dikukus, kemudian di-aru. Istilah orang Bugis di-bampah dengan santan. Kemudian dibungkus memanjang dengan daun janur. Bungkusannya menyerupai kue bantal khas Bali yang memanjang. Kukus selama 3 jam. Lepek-lepek dimakan bersama pasangannya, srikaja.
Cara membuat srikaja, satu gelas gula merah dan satu gelas telur ayam dicampur atau di-mixer sampai putih. Kemudian dikukus. Srikaja bentuknya lembek dan rasanya lembut. Lepek-lepek ditaruh di piring, kemudian di atasnya ditaruh potongan srikaja.
Ia menuturkan, kue spesial Bugis ini selain disajikan saat Lebaran juga disajikan saat upacara sunatan dan upacara bayi berusia selapan. Hj. Maisarah selalu mengerjakannya sendiri penganan khas Bugis ini, dan tidak pernah membeli. “Jarang, toko kue menjualnya,” katanya.

Lauk-pauk
Lauk-pauk khas Bugis yang disajikan saat Lebaran yakni kedonting dan coko ridi panggang manuk. Bentuk kedonting mirip semur daging. Bahan utamanya daging sapi. Semua bumbu genep Bali, kecuali kencur, dihaluskan. Khusus lengkuas/laos diberikan porsi yang lebih. Bagi yang suka pedas, biasanya ditambahkan sedikit cabe. Setelah semua bumbu halus, kemudian ditumis. Kelapa disangrai kemudian dihaluskan. Masukkan ke dalam bumbu tadi. Masukkan daging sapi yang sudah dipotong sesuai selera. Masak hingga dua jam sampai daging empuk.
Sedangkan coko ridi panggang manuk menyerupai nasi kuning yang dimakan bersama ayam panggang. Hanya bedanya, bahan utamanya ketan bukan beras.
Ketan dimasak menyerupai nasi kuning yakni di-bampah dengan santan dan ditambahkan garam, daun salam, dan daun jeruk. Masak hingga ketan matang. Seekor ayam setelah dibersihkan, dikeprak kemudian dipanggang. Beri bumbu genep Bali dengan tambahan kemiri yang lebih banyak. Bumbu genep yang sama dengan bumbu kedonting ditumis. Masukkan daging ayam tadi. Masak hingga mengkilat. terakhir beri perasan air jeruk limau untuk menambah aroma sedap.
Selain disajikan saat Lebaran, coko ridi panggang manuk disajikan saat upacara tujuh bulanan wanita hamil. Seorang dukun akan diundang ke rumah si wanita hamil, dan menyuapi wanita tersebut dengan makanan khas ini. Menurut Hj. Maisarah, fungsi upacara tersebut, untuk keselamatan si ibu dan jabang bayi yang akan dilahirkan. –ast

Koran Tokoh, Edisi 610, 22 s.d 29 September 2010

1 komentar:

Edi Prasetiyo mengatakan...

Wah enak banget tuh makanan nya lam kenal ya du tunggu kunjungan baliknya di http://www.editutorial.co.cc/