Minggu, 24 Agustus 2008

Situs Porno disukai Remaja


Perkembangan dan dinamika teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia sangat cepat. Bahkan manfaatnya sudah sangat dirasakan masyarakat. Namun, tidak dapat dipungkiri dalam perkembangan TIK bagaikan pisau bermata dua. Ada sisi positif dan sisi negatifnya. Demikian diungkapkan Ketua STIKOM Bali Drs. Dadang Hermawan, Ak.M.M., dalam diskusi terbatas “Kiat Jitu Berbisnis Menggunakan Sistem Teknologi Informasi Modern, Kerjasama Koran Tokoh dengan Telkomsel, Selasa (12/8).

Direktur LPBA Denpasar ini mengatakan, perkembangan dan dinamika teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia sangat cepat, walaupun penetrasinya secara umum masih relatif tertinggal dibandingkan negara Asia lainnya.
Data yang dikutip dari International Data Center (2006) pengguna telepon rumah di Indonesia 6% dari jumlah penduduk, HP
26%, internet 5%. Cina pengguna telepon rumah 31%, Hp 33%, internet 10%. Malaysia pengguna telepon rumah 17%, HP 75%, internet 45%, Singapura pengguna telepon rumah 43%, HP 95% dan internet 62%. Tahun 2008 malah diperkirakan pemakai internet di Indonesia sudah mencapai 28 juta lebih.

Menurutnya kedepan dengan perkembangan TIK maka akan berkembang pula perangkat-perangkat pintar seperti e-learning, e-book. “Akses internet tanpa harus melalui PC atau komputer lagi tapi dapat melalui PDA, HP. Lemari es ada layarnya, atau lemari pakaian ada monitornya. Itu mungkin saja terjadi di masa depan,” paparnya.

Walaupun manfaat TIK sudah sangat dirasakan masyarakat, kata Dadang, tidak dapat dipungkiri dalam perkembangan TIK bagai pisau bermata dua. Selain ada sisi positif ada juga sisi negatifnya. “Sebuah pisau selain digunakan untuk mengiris dapat juga digunakan mencelakai orang lain. Begitu juga dengan perkembangan IT ini,” ujarnya.
Menurutnya dampak negatif
bukan melulu pada remaja. Namun, jika berbicara masalah dampak negatif yang paling disorot adalah para remaja karena mereka adalah generasi muda yang notabene penerus bangsa di masa depan.

Ia menyebutkan dampak negatif yang paling menonjol adalah masalah pornografi. Masalah ini memang menarik untuk semua kalangan baik dewasa maupun remaja. Data pada Filter Review 2006 menunjukkan, setiap detiknya ada 28.258 pengguna internet yang mengakses situs porno. Dalam waktu yang sama 372 pengguna lainnya menggunakan mesin pencari situs –situs porno lainnya. Setiap detiknya lebih dari $3000 dibelanjakan untuk pelesir virtual porno dan setiap 39 menit satu blue video baru diproduksi di AS.

Dari data itu, kata Dadang Hermawan, menunjukkan demand dan suppy dunia maya yang berkiatan pronografi sangat signifikan yang akhirnya membawa dampak negatif pada perilaku kaum remaja. “Dampak yang dapat dilihat seperti kekerasan seksual, pedofilia, hamil di luar nikah. Ini menenunjukkan telah terjadi efek negatif terhadap perkembangan TIK,” ujarnya. Dampak negatif lainnya penggunaan waktu yang berlama-lama untuk main game di internet.

Ia menilai jalan keluar dari masalah ini sangat tidak efektif jika melakukan pemblokiran situs porno. Karena biasanya, para remaja semakin penasaran jika dilarang secara vulgar. “Mereka akan terus mencari jalan bahkan tak jarang mereka mampu menjebol walaupun sudah diblokir. Contohnya di STIKOM Bali. Semakin diblokir, mahasiswa semakin penasaran. Malah ada juga yang mampu menjebol pemblokiran,” paparnya lebih jauh.

Ia menyarankan sebaiknya para remaja diberikan pengertian dengan sabar dan tekun tentang baik buruknya pornografi. Mereka dibimbing dan dibina secara terus menerus teantang bahaya yang ditimbulkan dengan maraknya pornografi di internet.
Selain itu, memperbanyak kegiatan-kegiatan yang menghibur dan mendidik di luar sekolah formal seperti perlombaan, kompetisi yang bersifat hiburan dan menambah semangat bebas dari narkoba dan
minuman keras.

Tugas ini kata Dadang, merupakan tugas bersama, bukan saja dari kalangan dunia pendidikan juga dunia bisnis, dan pemerintah yang harus bertanggung jawab.
“Namun, yang paling penting adalah mengembangkan dan meningkatkan proses komunikasi di lingkungan keluarga. Bagaimana orangtua mampu menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya dan menjadikan mereka sebagai teman curhat para remaja, yang mungkin dilingkungannya telah
terkontaminasi dengan dampak negatif internet,” ujarnya. -ast
(
Sudah dimuat di Koran Tokoh Edisi 502, 24 Agustus 2008)

3 komentar:

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Masak pengguna hp di Indonesia cuma 26%?Mungkin karena surveynya dilakukan tahun 2006 kali ya..Menurutku sih,di tahun 2008 ini dah lebih dari 50%.
Hp sekarang emang gak cuma buat telfon ama sms aja..tp bisa buat muter video porno jg..Asyik dah.. :p

bapakethufail mengatakan...

mudah2an belia bisa menjaga amanah yang begitu beratnya....

Alim Mahdi mengatakan...

Ehm... ya ini sebuah pertanda. Kita juga harus bijaksana menyikapinya.