Minggu, 30 Mei 2010

Kedatangan Obama Positif bagi Perkembangan Pariwisata

SEBAGAI orang muda yang ingin mengenal negara lain lebih dekat, Bruce W. Carpenter tiba di Indonesia. Tahun 1974, Bruce yang baru saja menyelesaikan kuliah di negaranya, AS, pertama kali menginjakkan kakinya di Kuta, Bali. Keindahan Bali yang ia dengar dari beberapa orang yang sudah pernah berkunjung ke pulau ini, menjadikan ia panasaran untuk melihatnya secara langsung. Berbekal uang 400 dolar AS ia melakukan perjalanan liburan panjang, mengunjungi beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia.
Ia mengungkapkan, dalam perjalanannya itu dirinya pernah hidup hanya dengan uang 2 dolar AS per hari. Uang sedikit itu ia gunakan untuk biaya makan, penginapan, dan jalan-jalan. Untuk itu ia lebih sering naik bus dan kapal laut. Setelah melakukan perjalanan keliling Indonesia, Bruce akhirnya jatuh cinta pada kebudayaan Bali. "Waktu saya tiba di Kuta, suasananya masih sepi. Lalu lintas sangat jauh dibandingkan kondisinya sekarang. Banyak pohon kelapa tumbuh di pinggir pantai. Pasir di pantainya tanpa sampah berserakan. Banyak penduduk yang beternak sapi. Saat itu Kuta terkesan sebagai wilayah yang penuh hamparan sawah," kenang lelaki asal New York ini.

Lelaki yang beristrikan wanita asal Belanda, Carola, ini menuturkan, dari Kuta jika ingin pergi ke Ubud, ia harus melewati Denpasar. Jalanan sepi. Belum ada jalan by pass yang membuat perjalanan lebih cepat. Di pasar-pasar, orang-orang tua, termasuk perempuan, sering terlihat bertelanjang dada. Tidak ada agenda tetap hiburan malam bagi masyarakat, yang ada pertunjukan kesenian saat berlangsung piodalan. Bruce berteman dengan Jero Dalang Made Sija dari Bona, dan Made Jimat seorang penari dari Batuan, Gianyar. Bruce tidak bisa menari Bali. Tetapi, ia mengaku sangat suka menonton tarian Bali dan pertunjukan wayang Bali. Banyak hal ia pelajari di Bali. Selain seni dan budaya, sejarah termasuk karakter manusia Bali juga ia cermati. Banyak buku yang telah ia tulis. Sekitar 16 bukunya tentang kebudayaan Indonesia termasuk seni dan budaya Bali, sudah beredar di banyak negara.

Ketika ia memutuskan pergi ke Bali setelah kunjungannya di Yogakarta, beberapa orang mengingatkan agar berhati-hati di Bali karena banyak black magic, leak. "Begitu saya tiba di Bali, masyarakat menyambut kedatangan saya dengan baik. Orang Bali sangat terbuka dan bersahabat," ujarnya. Sebaliknya beberapa orang Bali juga mengingatkan dirinya agar berhati-hati ketika berada di Jawa. Ia menilai, saat-saat itu mereka belum banyak mengenal satu sama lain sehingga salah paham terhadap sesama bangsa sendiri. Setelah cukup lama bertempat tinggal di Bali, Bruce pulang ke negaranya, karena modalnya habis. Ia sempat bekerja di beberapa perusahaan di Amerika dan Eropa. Ketika modal sudah cukup, ia kembali ke Bali. Senantiasa tersimpan kerinduan pada Bali dalam dirinya.

Bruce sangat tertarik pada topeng Bali. Awal mulanya, ia mengoleksi topeng untuk sekadar menyalurkan hobi. Namun, beberapa teman dan koleganya berniat membeli koleksinya. Inilah awal mula Bruce memasarkan barang kerajinan Bali ke negara kelahirannya, AS. Tahun 1988, ia berketetapan hati untuk menetap di Bali. Bruce memilih tempat tinggal di Sanur. Waktu itu, katanya, sebagai orang asing sulit bertempat tinggal secara tetap di Indonesia. Persepsi masyarakat masih negatif terhadap orang asing. Politik anti-Eropa dan Amerika sewaktu-waktu muncul, karena dianggap negara kapitalis. "Untuk mencari visa turis saja susah; harus pergi ke Kedutaan Besar AS di Jakarta. Visa hanya berlaku 28 hari dan jika habis berlakunya harus diperpajang lagi," ujarnya.

Sejak kepemimpinan Joop Ave sebagai menteri Pariwisata RI, kata Bruce, banyak perkembangan yang dialami orang asing di Indonesia. Tamu mulai berdatangan ke Bali. Ia menilai, saat itu era baru parisiwata di Indonesia. Jumlah turis asing meningkat tajam dalam waktu yang singkat. Kemudahan dalam mencari visa membuat para turis berduyun-duyun datang ke Bali. Hotel mulai banyak dibangun, termasuk di Nusa Dua.
Ia menuturkan, menulis banyak buku tentang kebudayaan Bali sebagai refleksi kecintaannya pada Bali dan agar dunia lebih mengenal Bali seutuhnya. Bruce sangat lancar menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan, ia mengerti bahasa Bali. Ia mengungkapkan kesannya, orang Bali ingin melindungi kebudayaan Bali, tetapi tidak semua tahu bagaimana cara menjaganya. Mereka secara rutin melakukan kegiatan upacara keagamaan, tetapi belum semua tahu apa makna upacara tersebut. Seolah-olah mereka takut tidak melakukannya karena tidak ingin mendapatkan masalah dalam hidupnya.

Bruce menilai, orang AS umumnya sangat terbuka terhadap orang baru. Mereka tidak terlalu mempersoalkan harus membuat suatu kegiatan khusus dalam komunitas mereka. Ia lebih suka berbaur dengan semua orang, penduduk Bali dan semua orang asing dari berbagai belahan dunia. Jumlah warga AS di Bali terbatas. Setelah terjadi tragedi bom Bali tahun 2002, mereka diundang rapat di Kosulat AS di Denpasar. "Rapat ini hanya membahas soal keamanan. Tidak ada urusan politik," ujarnya. Dan, bagi Bruce, tragedi bom di Bali tidak menyurutkan cintanya pada Bali. Pesta kemerdekaan AS tiap tanggal 4 Juli biasanya dirayakan dengan pesta oleh warga di AS. "Saat Hari Kemerdekaan AS, kebetulan musim panas. Biasanya warga di sana piknik dan membuat pesta dengan memanggang ikan sambil menikmati kembang api. Perayaan di Bali biasa saja. Saya pernah diundang seorang teman untuk ikut merayakannya. Acaranya makan-makan dan ramah tamah," ujarnya.

Ia menyatakan senang Presiden Obama akan berkunjung ke Bali. Kunjungan itu akan memberikan nilai positif bagi perkembangan pariwisata Bali. Dalam mengisi hari-harinya di Bali, Bruce berbisnis barang seni rupa dan melayani kebutuhan interior seni untuk museum, hotel, biro perjalanan, atau pribadi. Istrinya, Carola, bergerak dalam bidang seni pahat. Hobi di bidang kesenian pula yang menumbuhkan cinta mereka yang kemudian diabadikan dalam biduk rumah tangga. Bruce dan Carola dikaruniai dua anak yang sudah menginjak dewasa. Avalon bertempat tinggal di Bali dan Allegra kini sedang kuliah di Los Angeles. Avalon membantu kegiatan bisnis orangtuanya. – ast.
Susi Johnston Piawai Baca Lontar
Voluntir Kampanyekan Obama


SUSI JOHNSTON, warga asal AS, juga sangat mencintai Bali. Ia berketetapan hati menghabiskan sisa hidupnya di Pulau Dewata. Perempuan yang bersuamikan Bruno Piazza asal Italia ini, pertama kali datang ke Bali langsung bertempat tinggal di Ubud. Susi sangat dekat dengan keluarga Puri Ubud karena pertama kali datang ia bertempat tinggal di puri itu. Tujuh tahun, Susi mempelajari kebudayaan Bali di Ubud. Tiap sore, ia suka menghabiskan waktu duduk di pinggir Jalan Monkey Forest bersama beberapa anggota puri.

Kecintaanya pada Ubud, membuat Susi tertarik menulis buku tentang sejarah Puri Peliatan. Selain menulis buku, Susi juga menulis di berbagai majalah di AS tentang budaya dan adat Bali. Untuk mengenal sejarah Bali lebih jauh, Susi tertarik belajar membaca lontar. Ia berguru pada balian Ida Bagus Putu Dalem di Tampaksiring. Setelah diupacarai secara agama Hindu sebagai orang Bali dengan sudha widani dan pewintenan di Gria Gede Klungkung, Susi mengaku lebih mudah belajar membaca lontar. Ia diberi nama baru “Kadek Susilawati”. Dengan kepiawaiannya membaca lontar, Susi mampu menerjemahkan kekawin ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Salah satunya, Aji Palayon. Hanya dalam waktu tiga bulan, ia mampu menerjemahkannya ke dalam dua bahasa itu. Master Art di University of St. Andrews, Scotland, ini menuturkan sangat suka membaca karya sastra.

Ketika larangan berkunjung diberlakukan pemerintah AS menyusul tragedi bom tahun 2002, Susi menyikapinya dengan santai. Ia mengatakan, teroris ada di mana-mana tidak hanya di Bali. Susi sudah pernah hidup di berbagai negara di Amerika dan Eropa. Keamanan menjadi harga yang mahal. Ia berpandangan, hidup di Bali begitu tenang. Ia biasa keluar malam hari setelah bertempat tinggal di Kuta. Ia mengaku tidak ada masalah. Dia mengaku salut terhadap orang Bali. Kalau ada warga yang alami kecelakaan di jalan raya, mereka pasti antusias menolong. Kalau ada yang berteriak "maling!", mereka pasti datang beramai-ramai. "Rasa kekeluargaan orang Bali sangat kental," katanya.

Ia mengungkapkan ada kemiripan antara orang AS dan orang Bali. Mereka sama-sama terbuka dan sangat bersahabat. Saat ini, warga AS lebih banyak memanfaatkan liburan mereka ke Florida dan Hawai. Masih banyak warga AS yang belum mengenal Bali. Artinya, Bali masih memunyai kesempatan untuk dikenalkan lebih jauh di negara itu. Dibukanya penerbangan langsung Bali-Singapura-Los Angeles atau New York akan memudahkan warga AS untuk datang ke Bali. Dengan waktu tempuh 15 jam di pesawat, mereka sudah tiba di Bali. Setelah tujuh tahun di Ubud, Susi pindah ke Jalan Oberoi, Seminyak, Kuta. Saat itu kawasan di sekitar Jalan Oberoi masih berupa hamparan sawah, belum banyak rumah penduduk, toko atau restoran seperti sekarang. "Sekarang sudah banyak perubahan di sini. Juga, ada banyak hotel," ujar perempuan yang pernah bergabung sebagai voluntir kampanye presiden Barack Obama ini.

Ia mengungkapkan, dulu orang Bali suka belajar bahasa Inggris pada turis asing. Sekarang sudah banyak tempat kursus. Orang Bali banyak yang pintar berbahasa Inggris. "Ketika bertemu dengan turis asing, orang Bali umumnya cepat akrab dan langsung menyapa mereka dengan bersahabat. Begitu juga orang Amerika. Mereka sudah terbiasa mempersilakan tamu untuk mengambil minuman sendiri ke kulkas," tuturnya. Ia mengatakan, sebagian besar warga AS yang bertempat tinggal di Bali memunyai latar belakang pendidikan di bidang seni dan athropologi. Jurusan itu termasuk favorit di AS.
Susi mengatakan, pernah mengikuti pesta perayaan Hari Kemerdekaan AS yang difasilitasi Konsulat AS di Denpasar. "Kami piknik dan makan-makan dalam acara ramah tamah yang bersifat kekeluargaan. Saya baru kenal beberapa warga AS yang berada di Bali ya waktu pesta itu," katanya. Menurut Susi, pesta semacam itu tidak sering digelar. Namun, pesta meriah pernah diadakan menyambut kemenangan Obama sebagai presiden pertama kulit hitam di AS. Kemenangan Obama disambut warga AS yang ada di Bali dengan sumringah.
Sebagai kepeduliannya terhadap generasi muda Bali, banyak hal sudah dilakukan Susi. Salah satunya, sebagai orangtua asuh I Putu Eka Gunayasa, mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Unud, dan Ni Made Wulan Kusumasari, siswi SMP Dalung. Putu, saat duduk di SMA pernah meraih juara I lomba menulis lontar. Sedangkan Wulan bercita-cta menjadi dokter. Susi ingin membantu Wulan meraih cita-citanya. Saat ini, Susi bekerja di bidang pemasaran di CV ICON Asian Arts, suatu perusahaan yang melayani ekspor barang antik, mebel, dan kerajinan dari Bali dan Indonesia. –ast
Koran Tokoh, Edisi 594, 30 Mei s.d. 5 Juni 2010

3 komentar:

The Belitung Blogging mengatakan...

bagusnya c gt.....ditengah-tengah tekanan dunia atas serangan israel ke kapal pengangkut bantuan kemanusiaan....

salam kenal
http://kpadaku.blogspot.com
http://kodzan.blogspot.com

susi johnston mengatakan...

thanks for posting this . . . just found it . . .
:)

Macan Tidur mengatakan...

long time . . wondering how you're doing . . . don't lose touch!