Minggu, 06 Juni 2010

Tatap Pasangan dengan Penuh Cinta

ANDA sudah menikah bertahun-tahun. Anda merasa bosan. Anda merasa pasangan tidak menarik lagi. Anda melihat orang lain lebih baik daripada pasangan Anda. Parahnya lagi, timbul keinginan Anda untuk mengakhiri perkawinan. Sebelum melakukan tindakan yang salah, Anda perlu menyimak penuturan Zoya D. Amirin, M.Psi, sebagaimana disampaikan dalam seminar “Jatuh Cinta Lagi”, yang digelar family care community CNI Minggu (30/5) di Gedung CNI Kuta.

“Apa sih cinta itu?” tanya Zoya, psikolog tamatan Universitas Indonesia, di hadapan sekitar tiga puluh member CNI. Zoya mengatakan, semua orang pernah merasakan cinta. Setelah menikah, kata Zoya, cinta bergeser. Suami mengalihkan perhatian pada pekerjaan atau mengejar karier, istri mengalihkan perhatian pada anak. Beberapa penelitian tentang cinta mengatakan, cinta itu abstrak seperti angin; datang dan pergi tiba-tiba.

Ia mengutip penelitian Rubin yang mengatakan ada tiga komponen cinta. Pertama, attachment. “Suami istri kalau mau pergi bisa saling mencium tangan atau kening,” ujarnya memberi contoh. Kedua caring, peduli satu sama lain. Contoh, tetap peduli saat salah seorang mitra pasangannya sakit. Atau, ketika istri ngidam muntah-muntah, suami dapat membelai rambut istrinya dan mengantarnya ke toilet, walaupun biasanya suami jijik melihat muntahan. Ketiga, ada hal-hal yang bisa dibicarakan. “Mengapa kita bisa menjadi dekat? Karena kita berbagi rahasia. Ini juga berlaku dalam persahabatan. Jika kita saling berbagi rahasia dengan teman, kita menjadi dekat,” jelas Zoya.
Coba cek, berapa kali kita melihat pasangan kita tiap hari dan menatapnya dengan penuh cinta. “Mungkin, kita merasa tidak pernah punya waktu untuk melakukan itu. Ini hal yang kecil, tetapi dampaknya bisa luar biasa,” ujarnya.

Ironisnya, kata Zoya, banyak pasangan mengatakan, buat apa melakukan hal seperti itu. Kita sudah tua. Hal itu cukup hanya ada di sinetron atau dongeng. Ia menganjurkan, tiap hari kita menyempatkan diri menatap pasangan kita; bahkan sampai lima kali dalam sehari. Hal itu akan menghindari emosi yang jauh antarsuami dan istri dan kemungkinan perselingkuhan juga menjauh.
Ia mengungkapkan, Sternberg’s menyebut tiga komponen cinta, pertama passion. Ketika sedang pacaran, hati berbunga-bunga; selalu teringat pasangan, sering tersenyum sendiri dan selalu bersemangat. Setelah setahun menjalin hubungan passion akan hilang. Kedua, diperlukan intimasi untuk menjaga kedekatan dengan pasangan. Ada satu kasus yang pernah diceritakan seorang pasien Zoya. Selama 15 tahun menikah, si istri tidak pernah membuatkan suaminya kopi. Suaminya mengeluh kepada Zoya. Lucunya, suaminya tidak protes, tetapi malah menyimpannya di dalam hati.

Menurut Zoya bukan berarti gara-gara istrinya tidak membuatkan kopi, suaminya berselingkuh. Namun, kata dia, kalau hal-hal kecil seperti itu bisa membuat suaminya berbahagia, mengapa tidak dilakukan saja.
Ketiga, cinta perlu komitmen. Ada pasangan ‘hidup bersama’ mampu bertahan lima tahun dalam membina hubungan. Namun, ketika mereka menikah, hanya bertahan dua tahun. Artinya, dalam pernikahan ada suatu komtimen yang harus mereka pertanggungjawabkan, yakni selembar kertas yang bernama surat nikah.

Tidak Ada Cinta Terlarang
Ia menegaskan, jangan pernah memakai ukuran orang lain untuk ukuran kita. Pasangan kita berbeda dengan orang lain. Buat sendiri dinamika dalam diri kita.
Zoya mengatakan, bertemu merupakan kesempatan sedangkan mencintai merupakan pilihan. Kita bukan kucing, kita bisa jatuh cinta kapan saja termasuk orang yang sudah menikah. “Tidak ada cinta terlarang. Yang ada, statusnya terlarang,” tandasnya.
Dalam beberapa hal perempuan sering kurang peka. Ketika bertemu lawan jenis, mereka merasa cocok dan bisa berbagi banyak hal termasuk pembicaraannya nyambung. Para perempuan langsung berkata pada dirinya sendiri, “Saya tidak apa-apa berteman dengan dia. Saya hanya berteman dengan dia. Saya hanya makan berdua dengan dia. Tidak ada apa-apa dengan kami. Selama dalam hati perempuan terus sibuk memikirkan itu, artinya mereka tidak peka. Sebenarnya sudah terjadi sesuatu dalam dirinya,” paparnya.
Ia menyatakan, Anda tidak bisa menuntut orang lain membahagiakan Anda. Bahagia atau tidak merupakan tanggung jawab Anda. Jangan biarkan orang lain menentukan kebahagiaan kita.

Ada anggapan, perempuan cantik, pintar, dan hebat pasti disayang suaminya. Belum tentu. Suaminya terkadang berselingkuh. Apa yang salah? “Tidak adanya ikatan emosi yang kuat,” jawab Zoya.
Dalam seminar tersebut, peserta diminta menuliskan tiga hal kecil yang disukai yang diharapkan dilakukan pasangan mereka. Salah seorang peserta perempuan menuliskan, ingin dicium keningnya oleh pasangannya ketika keluar rumah. Pasangannya langsung menjawab, “Saya jarang melakukan itu karena lupa buru-buru kerja. Saya janji nanti akan berubah. Nanti saya belikan bunga sekilo,” selorohnya yang disambut geer peserta lainnya.

Jangan Diselesaikan dengan Orang Lain
Zoya mengutip satu kalimat bijak Kahil Gibran yang mengatakan, sebaiknya di antara pasangan ada jarak. Saat menikah, kata Zoya, perempuan dipanggil sesuai dengan nama suaminya. Contoh, Nyonya Budi. Saat memunyai anak, perempuan dipanggil dengan nama anaknya. Contoh Bu Ayu. Lama-kelamaan perempuan kehilangan identitas dirinya. Malah saat bersama pasangannya, mereka sering memanggil ‘bapak’ dan ‘ibu’ atau ‘mama’ dan ‘papa’. Mereka jarang sekali menyebut nama pasangannya. Ia menyarankan, lebih baik mencari nama panggilan yang lebih bermakna, bisa kata ‘sayang’, ‘cinta’, ‘sweety’ atau yang lainnya. Saat memanggil nama pasangan, tatap matanya. Beri umpan balik dengan hati positif, jujur, dan penuh hormat.

Jika Anda sedang bingung atau sedih, ungkapkan kesedihan Anda.
Jangan pernah berasumsi pasangan Anda ahli nujum yang bisa menebak hati Anda. Sering pasangan meributkan, sudah menikah bertahun-tahun ‘kamu tidak tahu apa yang saya mau’. “Bagaimana bisa tahu, kalau tidak diungkapkan? Jangan biarkan pasangan Anda bingung. Tanyakan saja apa yang menjadi kerisauan Anda. Misalnya, mengapa ’kamu suka sekali sms-an’. Supaya tidak negative thinking padahal kejadian sebenarnya mungkin tidak seperti yang Anda pikirkan,” ujar Zoya. Zoya menyarankan, jangan lakukan aksi diam, malah dikira tidak terjadi apa-apa. Memang tidak mudah menerima perbedaan pasangan. Namun, ada kesepakatan di sana. Apa yang mengganggu Anda, jangan biarkan mengganggu hubungan Anda.

Zoya mengatakan, agar hubungan itu sehat, Anda harus mengambil bagian di sana, walaupun hal terburuk pasangan Anda tidak ikut mengambil bagian. Kalau Anda setia, tetapi pasangan kita tidak setia, terima saja.
Seorang pasien Zoya berkata, ‘suami saya sudah berselingkuh berkali-kali. Saya harus bagaimana. Dia yang selingkuh kok saya yang disuruh evaluasi diri?’ Zoya mengatakan, kita tidak bisa mengubah lingkungan, pasangan atau orang lain. Kita hanya bisa mengubah diri kita sendiri. Jangan pernah berhenti berbuat baik karena putus asa. Ini berhubungan dengan dunia akhirat. Tuhanlah yang nanti akan menilai. Ada satu filosofi yang perlu dicermati “Ketika kita kehilangan orang yang tidak mencintai kita, semestinya kita bersyukur.” Artinya, Tuhan sayang kepada Anda. Nanti akan ada orang yang tepat datang kepada Anda.
Ada puisi B.J. Habibie yang ditujukan kepada istrinya Hainun Habibie (alm) yang dikutip Zoya. Puisi itu menunjukkan bagaimana rasa cinta yang mendalam BJ Habibie kepada istrinya, kesedihan kehilangan orang yang sangat dicintainya. “Aku bukanlah orang hebat. Tapi kamulah yang hebat karena kamu sudah membuatku mencintaimu seperti ini.”

Zoya menyarankan, lakukan hal-hal yang menyenangkan berdua. Pasutri yang mampu dapat memilih jalan-jalan, makan malam, atu menonton film berdua. Dalam hal berhubungan seks bukan dilihat dari berapa kali melakukannya. Lakukan karena sama-sama menyukainya. Lakukan hal yang berbeda yang membuat Anda dan pasangan berbahagia. Kalau hal ini tidak dilakukan, Anda boleh percaya atau tidak, kenikmatan seksual tidak berimbang. Pasangan menjadi impoten jika berhubungan dengan istrinya, tetapi tidak impoten jika melakukannya dengan wanita lain. Zoya berpandangan, perempuan harus tahu di mana sensitivitas dalam tubuhnya. “Di tempat-tempat mana Anda merasa bergairah sebagai titik rangsangan seksual. Kenikmatan tidak akan terjadi karena hanya kekerasan penis, tetapi bagaimana kepuasan itu dinikmati berdua. Laki-laki lebih cepat bereaksi dengan seks karena 2,5% otaknya memikirkan seksualitas. Sedangkan perempuan, harus dirangsang terlebih dahulu dengan sentuhan. Diperlukan tahap merayu,” paparnya.
Dalam tiap hubungan harus setara. Artinya, cari kegiatan sosial agar sebagai indvidu Anda bahagia. Jangan setelah menikah Anda bagai burung dalam sangkar. Ketika Anda berpisah dengan pasangan, Anda kebingungan.

Ketika Anda memiliki konflik dengan pasangan, jangan selesaikan dengan orang lain. Selesaikan masalah Anda dengan pasangan Anda, berusaha memaafkan dan melupakannya. Marah, sedih, menangis harus dikeluarkan karena itu emosi yang mengganggu. Namun, marah dilakukan dengan tepat, dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat. Menangislah saat Anda bersedih. Ini biasanya terjadi bagi perempuan yang mengalami perpisahan dengan pasangannya.
Zoya pernah kedatangan seorang pasien. Dia menangis hampir lima jam. Ternyata selama ini orang itu tidak pernah menangis. Mengapa? “Orang-oarang berkata saya harus kuat. Saya tidak mungkin sedih dan menangis. Saya orang yang bertanggung jawab di rumah,” ujarnya mengutip penuturan pasiennya.
Saat perempuan menceritakan masalahnya, mereka hanya ingin didengar dan dipahami. Namun, lelaki berbeda. Ketika mereka curhat, laki-laki ingin diberikan solusi. Ini yang sering tidak dimengerti. Ketika perempuan curhat, dan diberikan solusi oleh pasangannya, malah marah-marah.
Seorang peserta bertanya, bagaimana caranya menegur pasangan agar tidak membuatnya marah? Zoya memberikan tipsnya. Gunakan kata-kata positif. Mulailah dengan kalimat, ’Saya pikir………….’, ’Saya merasa……….’, ’Boleh tidak, kalau …………’. Kalimat seperti ini tidak membuat pasangan merasa dipojokkan. –ast

Koran Tokoh, Edisi 595, 31 Mei s.d 6 Juni 2010