Minggu, 14 September 2008

Sahur dengan Mi Instan

BULAN Ramadan juga dinikmati para pemulung di lingkungan Sekar Tunjung Tohpati Denpasar. Walaupun mereka melakoni pekerjaan berat tiap harinya, mereka tetap menjalankan ibadah puasa.

Di antara bau tak sedap yang menyengat hidung, 15 kepala keluarga yang berprofesi sebagai pemulung ini tetap gigih menunaikan ibadah puasa. Firpakui, misalnya. Lelaki yang sudah tiga tahun menjadi pemulung itu, tetap bekerja sambil berpuasa. ”Insya Allah saya masih berpuasa. Saya tetap puasa meski tiap hari kerja berat. Bagi saya yang penting niatnya,” ujar lelaki asal Bondowoso ini.

Firpakui yang tinggal bersama anak sulungnya yang turut membantunya bekerja ini mengatakan tidak ada yang menu spesial selama bulan puasa. “Seadanya saja,” tutur bapak dua anak ini. Untuk menu sahur biasanya sudah dipersiapkan pada malam harinya. Karena istrinya tinggal di Jawa, otomatis ia sendiri yang menyiapkan menu sahur dan berbuka.

Untuk menu sahur, ia memilih yang praktis yakni masak mi instan. “Kadang mie rebus, kadang mi goreng,” tuturnya sambil tertawa. Untuk menjaga agar perutnya tidak sakit, Firpakui tidak lupa mengonsumsi obat promag setelah sahur. Minum air gula setelah sahur juga dilakoninya, agar ia tetap bersemangat melakukan kegiatan rutinnya mencari barang bekas di seputar Kota Denpasar.

Sedangkan menu berbuka puasa, ia memilih memasak sendiri. Bahan makanan sudah ia beli pada siang harinya, sehingga sore saat ia pulang kerja, ia langsung bisa masak. Untuk menu sehari-hari memang tidak ada yang istimewa, karena ia lebih suka menyimpan uangnya untuk dibawa nanti pulang ke Jawa. Saat mudik ia mengaku menyempatkan diri membeli oleh-oleh buah-buahan seperti salak Bali, pir, dan apel. “Kalau dulu harga barang bekas masih bagus, saya bisa banyak menabung. Sekarang harganya anjlok, sehingga persiapan lebaran juga seadanya,” aku lelaki usia 35 tahun ini.

Hal senada juga dituturkan Ibu Diky. Ibu tiga anak ini juga memilih menu yang praktis untuk sahur yakni nasi, mie instan, kerupuk, dan telur. Menu berbuka ia memilih kolak, lalapan daun singkong, tempe, tahu, dan ikan tongkol. Pukul empat sore ia sudah bersiap –siap memasak menu untuk berbuka puasa. Ia mengaku suaminya setiap hari mendapatkan penghasilan sekitar Rp 30.000. “Kalau ada rezeki lebih, saya siapkan menu beragam untuk berbuka. Misalnya masak daging. Kalau tidak, seadanya saja,” ujarnya.
Karena letak masjid yang sangat jauh dari perkampungan pemulung ini, ia memutuskan untuk mengaji di biliknya saja. “Kalau menggelar tarawih di sini tempatnya tidak memadai. Selain halaman sempit, kotor, dan banyak anjing berseliweran. Jadi kami hanya mengaji di dalam kamar,” tutur perempuan asal Jember ini. Namun, ia usahakan untuk mengaji tiap malam selama bulan puasa. Biasanya para penghuni rumh bedek ini, akan pulang bersamaan sekitar seminggu sebelum lebaran menggunakan sepeda motor masing-masing. Jam dua dini hari berangkat dari Denpasar tiba di kampung halamannya di Jember sekitar pukul 7 pagi. Biasanya Bu Diky mudik hanya berbekal uang dan tidak membawa oleh-oleh. Dia mengaku lebih baik membeli oleh-oleh di kampung halaman. Selain harganya lebih murah di Jawa, ia merasa repot jika dalam perjalanan harus membawa banyak barang.

Lain lagi penuturan Bapak Santoso asal Situbondo. Dia yang hanya tinggal sendiri di bilik itu mengaku untuk sahur dan berbuka, cukup membeli di warung. Bapak dua anak ini mengaku berusaha tiap malam untuk tarawih ke masjid. Untuk menjaga kesehatan dan ketahanannya berpuasa ia mengonsumsi hemaviton agar badannya tidak lemas. Suatu ketika, dia mengaku terlambat sahur. Terpaksa ia hanya sekali bekerja mencari barang bekas. Menurut Santoso, tidak ada perbedaan selama puasa dengan hari biasa, karena ia sudah rutin menjalankannya. Hanya kalau terlambat sahur, ia memilih banyak istirahat. -ast

Sudah dimuat di Koran Tokoh, Edisi 505, 14 September 2008

14 komentar:

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Para pemulung itu hebat2 ya..Meski bekerja berat,tp tetep puasa..Jadi malu aku,lha kerjaku gak seberat mereka tp kalo siang kerjanya molor mulu..hehe..Semoga amal ibadah mereka diterima..Amiin.

Muhibudi mengatakan...

postingan yang bagus, bisa dijadikan sebagai bahan renungan juga.

salam kenal.
my blog : muhibudi.com

Muhammad Qori mengatakan...

jadi bersyukur deh,ternyata kita puasa puasa masih bisa ngeblog.

Deantoro Miko mengatakan...

Semoga para pemulung itu diberikan ketabahan di zaman yang susah ini

Kristina Dian Safitry mengatakan...

gw jadi ingat waktu observasi kaum gelandangan di daratan china tahun lalu. negara yg dikatakn makmur,rupanya kebijakan pemerintahan tak cukup bijak bagi kaum bawah. ah..saya pikir bukan hanya dichina deh,he..he..

Bang Dos mengatakan...

hhmmm jadi tambah bersyukur nih ..

Tukang Nggunem mengatakan...

Yang paling menyentuh, meski ditengah keterbatasan dan kemiskinan mereka masih mau untuk berusaha dan memiliki harga diri, gak hanya pasrah pada nasib dan menjadi peminta2...
Ya semoga amal ibadah mereka di bulan puasa ini mendapat balasan yang berlipat ganda dari Gusti Alloh, amiinnn...

gus mengatakan...

karenanya sejak dulu saya tak pernah percaya teori yg mengatakan org miskin di indonesia (kecuali pengemis tentunya)adalah org malas.
tapi lebih percaya pada teori banyak org miskin di negeri ini karena pemerintah malas mengurusi rakyatnya
(salam kenal dari semarang)

herdianto mengatakan...

wah enak dong mie instan, lagian abis sahur minum promag..

ternyata berhasil juga iklannya Haji Dedy Mizwar...

Agung Aritanto mengatakan...

gue agung salam untuk di bali

cahpesisiran mengatakan...

salut deh buat mereka-mereka

Darkpuccino™ mengatakan...

wahhh saya smalam jg makan mie instan hehe :) salam juga. trima kasih kunjungannya

novnov mengatakan...

biasanya yg suka sama mie instant itu anak kost hahahahaha

Bunda Rierie mengatakan...

amin.semoga bunda dijadikan orang2 yang bersyukur yaa...btw bunda dan keluarga penggemar mie instan ha.ha