Sabtu, 01 Maret 2008

Mengguncang Tubuh Bayi Akibatkan Cedera Otak

Mengguncang-guncang tubuh bayi usia di bawah satu tahun dapat mengakibatkan cedera otak, bahkan kematian. Jika bertahan hidup perkembangan otaknya tidak oftimal dan mengalami kecacatan.
Demikian diungkapkan Ahli Bedah Saraf dan Otak RS Sanglah Denpasar dr. Sri Maliawan, Sp.BS.

Ciri-ciri bayi yang mengidap cedera otak, kata Dokter Maliawan, wajahnya pucat, rewel, ubun-ubunnya tegang, dan kelopak matanya putih. Jika melihata tanda seperti itu, orangtua hendaknya waspada dan segera membawa ke dokter. Jika terlambat penanganannya, dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian.

Saat ini berdasarkan penelitian, katanya, kasus shaken baby syndrome (mengguncang-guncangkan bayi dengan keras) prosentasenya tinggi penyebab kematian bayi.
Ia menilai banyak kasus sering terjadi, jika bayi menangis tubuhnya digoyang-goyangkan dengan keras, agar tidak rewel. Namun, dibalik itu dampaknya perlu diwaspadai.
“Jika setelah digoyang ia diam bukan berarti bayi tadi tidak rewel mungkin saja mengalami cedera otak,” katanya.

Menurutnya pertumbuhan otak bayi di bawah satu tahun belum sempurna, apalagi usia tiga bulan, otaknya masih sangat lembek seperti bubur.
“Mengguncangkan tubuh bayi dengan keras dapat mempengaruhi pertumbuhan otaknya. Tidak ada benturan namun ada pendarahan didalam otaknya. Jika ada pembuluh darah yang robek, muncul pendarahan di kepala. Jika tidak pendarahan, tetap saja ada kerusakan jaringan sel otak yang dapat memicu kecacatan otaknya,” paparnya.
Jika kerusakannya ringan mungkin saja anak menjadi rewel.

Namun, jika kerusakan otaknya berat dapat mengakibatkan kejang-kejang, epilepsi, kelumpuhan separuh, kecerdasannya terganggu, dan hiperaktif.
Untuk itu, para ibu diharapkan lebih memperhatikan bayinya, jangan hanya menyerahkan pengasuhan pada pembantu. “Jika terjadi gangguan pada otaknya, pengobatan tidak banyak membantu, karena hasilnya tidak menjamin kesembuhan total sempurna, jelas ada kecacatan yang timbul. Ini tergantung berat ringannya cedera yang terjadi,” paparnya.

Ia menyarankan pencegahan adalah kunci pokok. “Sebaiknya mulai sekarang dekap bayi dengan kasih sayang dan jangan mengoyang-goyangkan bayi dengan keras,” saran Dokter Maliawan.
Menurut Pendiri Yayasan Saraf Otak Tulang Belakang ini, selain karena shaken baby syndrome, cedera otak bisa terjadi karena bayi kekurangan vitamin K, kelainan bawaan, dan trauma alat-alat saat melahirkan.

Pengasuhan bayi sangat riskan, kata dia, perlu diwaspadai jika bayi jatuh dari tempat tidur. “Jika dilihat dari jarak jatuhnya cukup tinggi, sebaiknya dilakukan CtScan. Dengan alat ini, akan diketahui jika terjadi masalah dengan otaknya,” katanya.

Cedera otak didapat digolongkan dari ringan hingga berat.
Menurutnya yang paling ringan setelah benturan di kepala, ada riwayat bingung sebentar, setelah itu tidak ada keluhan, kembali normal. “Agak berat sedikit, setelah benturan, terjadi amnesia, kemudian sadar dengan baik tidak ada keluhan. Lebih berat lagi sedikit, setelah benturan terjadi tidak sadar 3-5 menit, setelah itu sadar, namun tidak ada keluhan. Jika setelah benturan pingsan, kemudian tidak ada keluhan disebut cedera kepala klasik,” ujarnya.

Cedera kepala ringan hampir 80% disebabkan karena kerusakan mikroskopis yang tidak akan terlihat dengan alat CT Scan.
Obatnya hanya satu, kata dia, istirahatkan otak jangan sampai bertambah berat.
“Yang berbahaya justru jika setelah benturan melakukan aktifitas berat seperti loncat-loncatan, atau olahraga. Ini bisa memicu kerusakan otak,” katanya.
Cedera agak berat jika setelah benturan kepala terasa nyeri, mual, muntah vertigo berputar-putar.

Cedera paling berat jika pasien tidak sadar, kejang-kejang, kelumpuhan, apalagi otaknya kelihatan keluar. Cedera otak yang paling berat mengakibatkan kematian. Ia mengutip penelitian di Amerika Serikat, pada tiap orang yang mengalami benturan kepala setelah dilakukan CT Scan, 17% ada kelainan, dan 5 % perlu operasi. -ast

Dimuat di Koran Tokoh, Edisi 478, 2-9 Maret 2008

3 komentar:

Pritha Khalida mengatakan...

Waduh Mbak, ya jangankan bayi digeder2 palanya, kita aja pasti sakit lho! Hihihi...
Iya tapi itu warning juga buat ibu2 yang suka kebawa esmosi kalo anaknya nangis, apalgi di tempat umum.

Putu Adi Susanta mengatakan...

Yup...contoh gambar perdarahannya bisa dilihat blog saya.

Selama saya bekerja di sanglah, banyak sekali kasus-kasus shaken baby sindrom ini, paling banyak terjadi pada bayi di bawah 3 bulan, jadi buat ibu-ibu hati-hati dengan bayinya ya

Welli Wilyanto mengatakan...

Numpang tanya:

Kalau bayi di bawah satu tahun jatuh dari ranjang, kira-kira penanganannya gimana.

Kalau jatuh itu terus tanda-tanda yang perlu kita lihat apa saja untuk mengetahui terjadinya cedera otak atau tidak.

Terima kasih.