Selasa, 23 Desember 2008

Gunakan Kondom Cegah PMS

KASUS Penyakit Menular Seksual (PMS) menjadi topik hangat di masyarakat. Angka kematian setiap tahun terus meningkat. Menurut laporan epidemik nasional, Bali menduduki urutan nomer dua di Indonesia dalam kasus PMS. Demikian diungkapkan dr. Putu Elly Supriathini, Pemilik Elly Medical Service ini.

Menurut perempuan kelahiran 12 April 1970 ini, beberapa kasus yang menyebabkan PMS begitu cepat menyebar di Bali seperti industri seks yang luas, meningkatnya jumlah hubungan seks dengan banyak pasangan pada usia premarital (remaja) dan eksmarital ( yang sudah menikah), kesadaran pemakaian kondom yang masih sangat rendah, urbanisasi dan migrasi penduduk yang sangat tinggi, praktik injeksi dan sterilisasi alat kedokteran yang belum memenuhi syarat, dan lalu lintas dari luar negeri yang bebas. “Prilaku seks yang tidak aman bisa berimplikasi banyak hal baik secara fisik, psikis dan sosial,” kata Dokter Elly. Salah satu implikasinya adalah terinfeksi PMS yang dapat dapat mengakibatkan kemandulan.

Bagi yang sudah terinfeksi PMS, kata dokter Elly, diharapkan dapat berprilaku seksual secara aman agar pasangannya tidak ikut terinfeksi. Hal ini yang harus menjadi perhatian.

PMS adalah penyakit menular seksual yang dikenal dengan STD (Sexually Transmitted Diseases) yang merupakan penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang kepada orang lain melalui hubungan seksual.

Ia menyebutkan ada beberapa cara penularan PMS yakni melalui seks oral, sels vaginal dan seks anal. Penyebab PMS yakni bakteri, virus, jamur, protozoa, ekstoparasit.

Bakteri dapat menyebabkan penyakit GO (kencing nanah), dan sipilis (raja singa). Virus menyebabkan penyakit herpes genitalis, HIV/AIDS, hepititis B, kutil kelamin. Jamur dan protozoa mengakibatkan keputihan, ekstoparasit mengakibatkan gatal-gatal pada alat kelamin.

Menurutnya, PMS yang disebabkan bakteri dan jamur dapat disembuhkan dengan antibiotik asal diketahui dan diobati sedini mungkin. Sedangkan PMS karena virus sangat sulit diobati bahkan tidak dapat disembuhkan seperti HIV/AIDS.

Gejala PMS secara umum akan dirasakan pada laki-laki dan perempuan seperti rasa sakit atau gatal pada alat kelamin. Kemudian muncul benjolan/luka di sekitar alat kelamin, yang disusul dengan pembengkakan pada pangkal paha. “Khususnya pada wanita PMS yang diderita tidak menunjukkan gejala. Hal itu disebabkan karena alat reproduksi perempuan berada di dalam tubuh sehingga apabila ada infeksi sulit diketahui. Berbeda dengan laki-laki yang memiliki anatomi organ seksual di luar tubuh sehingga mudah diketahui,” paparnya. Karena itu, kata dia, pada orang yang kelihatannya sehat belum tentu tidak mungkin terinfeksi PMS karena gejala yang tidak dapat dilihat dengan mata.

Ia menganjurkan pada orang yang aktif seksual lebih dari satu pasangan sebaiknya menggunakan kondom.

Ia menilai, kondom merupakan alat kontrasepsi yang tepat yang digunakan untuk mencegah penularan PMS. Mengapa? “PMS menular melalui cairan vagina dan sperma. Dengan penggunaan kondom penularan PMS dapat dicegah,” ujarnya. Namun, ia menyarankan gunakan kondom yang baik dan benar.

Sebagai kepeduliannya akan kasus PMS yang terus meningkat, dokter Elly mengkoordinir rekan-rekan sejawatnya untuk melakukan tindakan nyata sebagai salah satu cara untuk memutuskan mata rantai penyebaran PMS ini. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah membagikan sejumlah kondom ke tempat-tempat yang berisiko terjadinya transaksi seksual seperti daerah lokalisasi, panti pijat, tempat karaoke, café remang-remang, ataupun hotel yang yang memiliki indikasi memberikan jasa penggunaan shortime.

Penyebaran kondom di tempat berisiko, kata dia, bertujuan untuk pendekatan pada orang-orang khususnya yang melakukan seks aktif dengan lebih dari satu pasangan, misalnya PSK karena mereka mata rantai yang paling mendasar dalam penularan PMS di masyarakat.

“Agar anjuran ini lebih efektif, kami memotivasi mereka dengan pembagian kondom. Dengan harapan mereka nantinya mengajak pelanggannya memakai kondom, kalau perlu mewajibkan pelanggan menggunakan kondom,” katanya. Hal ini, kata dia, untuk menghindari penularan terinfeksi kepada orang awam seperti ibu rumah tangga dan anak-anak.

Menurutnya, perlu gerakan global menyikapi hal ini yakni gerakan terpadu melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat umum. –ast

Sudah dimuat di Koran Tokoh, Edisi 519, 21 Desember 2008

8 komentar:

gus mengatakan...

cegah PMS dengan monosexual...hehehe. sayah lebih setuju dgn kampanye saya sendiri drpd kampanye kondomisasi...

wirati mengatakan...

@buat gus:
he.he.he.he.he iya tuh, setia pada pasangan sendiri. betulllllllllllllll.bagussssssssssss

ifoell mengatakan...

takut deh..
ngga pengen coba2 jajan diluar...
libih baik menghindar dari pada babak belur.. iya ngga...?

wirati mengatakan...

@buat ifoell:
ha.ha.ha banr bangt tuh. babak belur dari siapa sih mas??????he.he.he.

Erik mengatakan...

Kalo aku gak setuju kampanye bagi baiin kondom, lebih baik kampanye anti free sex-nya dong.

wirati mengatakan...

@ buat Erik:
yah lah
tapi apa anak muda bisa dilarang?
coba deh caranya gmn?

FATAMORGANA mengatakan...

ngeri ya PMS itu. hiiih....

Mampir Ngombe mengatakan...

Menurut saya yang paling baik adalah jangan melakukan perilaku menyimpang dengan bergnti-ganti pasangan...

Setialah kpd pasangan kita sendiri (tentunya yang sudah terikat pernikahan sesuai agama dan negara lho)

Kampanye Setia Pada pasangan sendiri aja...gimana ??