Rabu, 24 Desember 2008

Pahami Bali lewat Kartun

KARTUN selalu diidentikkan dengan anak-anak. Bahkan tak jarang ketika orang dewasa menyukai kartun, mereka kerap dicap seperti anak kecil. Padahal, lewat kartun ada misi yang ingin disampaikan yakni kritik tanpa harus menghakimi. Hal ini yang ditunjukkan Benny Rachmadi (Benny) dan Muhammad Misrad (Mice) ikon baru dalam dunia kartun di Indonesia saat ini.

Menurut Benny yang ditemui saat peluncuran bukunya di Museum Kartun Indonesia, Sabtu (13/12), kartun dapat dijadikan profesi yang menjanjikan. “Kartun memerlukan jiwa seni yang tinggi. Kartun juga dapat dijadikan pekerjaan tetap yang dapat menjamin masa depan,” ujar Benny.

Menurutnya, dua tokoh ini Benny dan Mice adalah cermin karakter mereka berdua. Jiwa mereka menyatu menggambar satu strip kartun secara duet.

Kedua kartunis ini memulai kiprahnya sejak masih mahasiswa di fakultas Desain Komunikasi Visual Institut Kesenian Jakarta. “Dengan kartun berwarna ukuran besar yang lucu dan aneh, kami hiasi majalah dinding kampus tiap hari. Tugas kuliah dan proyek pun difokuskan pada kartun,” kata Benny sambil tertawa. Meski masing-masing mempunya karakter yang agak berbeda, mereka mengaku senafas dalam gaya visual dan kejailan. Hal itu amini Mice.

Benny Rachmadi mulai menjajaki dunia kartun politik melalui tabloid ekonomi Kontan sejak tahun 1998. Sementara Mice yang pernah juga menjadi kartunis tetap di majalah, lebih senang menjadi orang bebas.

Meski Benny masih mengisi kartun editorial di Kontan, kreativitasnya banyak ditumpahkan dalam kartun lelucon yang mengangkat kehidupan sehari-hari bersama Mice. Mereka mulai berkolaborasi tahun 1998 dalam penerbitan buku kartun “Lagak Jakarta.” Buku ini menceritakan tentang berbagai masalah yang terjadi di ibukota. Beberapa buku muncul dalam serial itu, disamping secara rutin mereka mengisi kartun di Kompas Minggu.

Benny dan Mice sungguh tak menyangka karya mereka bakal mendapatkan tempat di hati masyarakat. Penggemar mereka sangat beragam mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan Lagak Jakarta menjadi kajian sejumlah skripsi dan tesis. Situasi politik IndonesiaJakarta pertengahan 1998 yang semakin memanas dibarengi dengan peristiwa lengsernya Soeharto 21 Mei 1998, juga menjadi bahan perhatian mereka. Merekapun menerbitkan Lagak bertema Reformasi, dilanjutkan dengan (Huru-hara) Hura-hura Pemilu’99. Ternyata buku tersebut disambut baik pembaca. Dengan kesibukan mereka berdua Lagak Jakarta berhenti hadir di hadapan pembacanya.

Setelah Lagak Jakarta karya Benny dan Mice lainnya seperti “100 Tokoh yang mewarnai Jakarta”. Kini Benny dan Mice keluar dari sarangnya. Mereka pergi ke Bali dan lahirlah “Benny & Mice Lost in Bali.”

Dalam buku ini mereka mencoba melihat dan memahami sebagian Bali dari sudut pandang kartunis. Hasilnya adalah cerita dan gambar naif yang sangat memancing tawa. Buku ini menceritakan kisah sebenarnya perjalanan mereka berdua di Bali. Beberapa daerah seperti Kuta, Ubud, Bukit Jimbaran, Denpasar menjadi pilihannya.

Menurut Mice, lewat kartun mereka mencoba memberi cermin tanpa menghakimi kisah-kisah yang terjadi di masyarakat Bali menurut pandangan orang awam yang belum pernah ke Bali.

“Bagaimana kami merasakan enaknya nasi jinggo yang hanya dikemas daun pisang yang sangat lebar tapi ternyata isinya hanya separuhnya. Nasi beberapa senduk dengan lauk sambal goreng tempe, ayam, serundeng, kacang goreng, dan sambal pedas,” katanya.

Banyak hal unik yang dipaparkan dalam buku ini. Bagaimana mereka heran melihat begitu banyak sesajen yang hampir ada dimana-mana dan berserakan di tanah. Kisah unik terjadi ketika mereka kaget melihat pohon besar di Bali dibungkus kain poleng. Termasuk kisah lucu yang terjadi ketika mereka datang ke Uluwatu melihat kera-kera nakal yang mengambil barang-barang milik pengunjung. Pemandangan di pantai Kuta yang penuh dengan bule berbikini sangat menyita perhatian mereka berdua.

Lewat kartun mereka ingin menggambarkan begitulah Bali di mata orang awam. Banyak sindiran halus pun disampaikan mereka dengan kata-kata yang mengundang senyum. Bagaimana para pemandu wisata memberikan informasi yang salah kepada turis. Perbedaan pelayanan para pedagang di pasar kesenian pada turis lokal dan turis asing. Kehidupan sehari-hari para pengais rezeki di pantai Kuta dan banyak lagi kisah menarik. Mereka khusus wisata panjang di Bali sambil merekam kejadian lucu dan kejelian yang mereka alami. Benny dan Mice berharap penggemar kartun di Bali dapat menerima karya mereka. –ast

Sudah dimuat di Koran Tokoh, Edisi 519, 21 Desember 2008

9 komentar:

IFOEL mengatakan...

tanpa kartun pun BALI sudah mendunia, apalagi tambah di promosikan lewat kartun.. Met mnyambut TAHUN BARU 2009

Erik mengatakan...

Saya suka karikatur kartun, sindirannya membuat saya tersenyum sendiri.

boykesn mengatakan...

benar mbak, kartun kadang lebih efektif dan elegan dipergunakan untuk menyampaikan informasi serta kritik, bahkan media elektronikpun sekarang dah banyak mempergunakannya.

salam kenal

attayaya mengatakan...

dengan kartun, menceritakan sesuatu itu jadi lebih gampang

attayaya mengatakan...

kalo joger dikartunkan jadi bagus tuh

Erik mengatakan...

Fotomodelnya siapa Rath.?

wirati mengatakan...

@buat Erik:
foto model yang mana maksudnya?
aku gak ngerti????????????????

FATAMORGANA mengatakan...

aku suka lho liat kartun mereka. lucu dan penuh sindiran.

wirati mengatakan...

@buat fatamorgana:
he.he.he.he. iya lucu yah, tokoh benny & mice tampang kartunnya bikin tertawa. ha.ha.ha.ha.ha.ha.ha.ha.