Minggu, 07 Februari 2010

Tangani Hidrosefalus Obstruktif dengan Teknik ETV

Prevalensi hidrosefalus (kepala membesar) di dunia cukup tinggi. Kasus di Indonesia belum ada laporan keseluruhan. Kasus di Bali sebanyak 812 kurun waktu 1992-2005. Sampai saat ini, VP shunting merupakan satu-satunya terapi pilihan pada hidrosefalus obstruktif di Indonesia. Demikian diungkapkan Prof. Dr. dr. Sri Maliawan, Sp.BS.(K) dalam orasi ilmiah pengukuhan jabatan Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Bedah Saraf FK Unud, Sabtu (23/1).

Ia mengatakan, operasi dengan teknik VP shunting, yakni memasang kateter silikon. “Teknik ini memiliki kemungkinan risiko revisi sekitar 3 kali dalam 10 tahun pascaoperasi,” ujarnya. Kendala utama, kata dia, teknik VP shunting selalu diikuti revisi. Terapi lain untuk hidrosefalus adalah teknik ETV, yaitu pengaliran CSS dari dasar ventrikel III ke sisterna basalis.

Putra kedua dari pasangan Ketut Meregeg dan Somawati ini mengatakan, teknik ETV hanya dilakukan pada hidrosefalus obstruktif (HO). “Para peneliti mendapatkan angka keberhasilan dan komplikasi yang bervariasi dari 40% sampai 100%. Angka keberhasilan 68% pada evaluasi 84 bulan. Anak berumur di bawah 2 tahun yang dilakukan ETV terjadi 70% perbaikan klinis dan 63% perbaikan radiologis. Umur di atas 2 tahun didapatkan perbaikan klinis 100 % dan perbaikan radiologis 73 %,” paparnya lebih jauh.

Pada infantil hidrosefalus keberhasilan mencapai 46 %, sedangkan penderita usia di atas 2 tahun keberhasilannya mencapai 64-74%. Umur sebenarnya tidak berpengaruh.
Ia mengatakan, masalah utama di Indonesia dan Bali adalah biaya alat yang relatif mahal dengan VP shunting apalagi kalau terjadi revisi akan sangat membebani keluarga penderita. Peneliti di negara maju menemukan biaya VP shunting lebih besar dibandingkan ETV. “Keuntungan teknik ETV adalah sekali tindakan tidak memerlukan perawatan lebih lanjut, biaya murah dan sederhana, sangat ideal untuk penderita di Indonesia,” ujar lelaki kelahiran Banjar Jambe Belodan Tabanan, 14 Januari 1956 ini.

Teknik ETV dilakukan pertamakali di RS Sanglah 7 Maret 2005 dan juga merupakan yang pertama di Indonesia. Sampai saat ini sudah dikerjakan 149 kasus ETV di RS Sanglah. Dari kasus tersebut ada 3 kasus yang akhirnya dipasang VP shunting. Ia mengatakan, teknik ETV merupakan alternatif terapi hidrosefalus obstruktif, tanpa pemasangan alat, lebih murah, dan angka keberhasilan yang tinggi.

Ilmu bedah saraf telah berkembang sejak 100 tahun terakhir, walaupun sudah dikenal sejak zaman Neolithicum (7000-3000 SM). Temuan arkeologi tulang kepala manusia Peru, Perancis, dan Afrika Utara menunjukkan defek tulang kepala karena luka tembus pada kepala atau bekas operasi.
Ilmu Bedah Saraf berkembang pesat tidak hanya trauma kepala, tapi juga dalam hal penyakit saraf pusat baik otak maupun sumsum tulang belakang.

Kemudian menjamah saraf tepi berkaitan dengan trauma, tumor, infeksi, kelainan bawaan/kongenital, penyakit degeneratif, sampai kelainan fungsional. Teknik operasi berkembang pesat seiring temuan teknologi kedokteran zaman ini.
H.W. Cushing dianggap sebagai bapak pelopor bedah saraf modern. Puncak revolusi perkembangan bedah saraf ditandai dengan ditemukannya alat mutakhir scan komputer otak (brain computerized tomography scanning) oleh G.N. Hounsfield pada tahun 1969 di Inggris, yang mulai diperkenalkan dan diterapkan penggunaannya di dunia pada tahun 1971. Tahun 1980 ditemukannya scan resonansi magnet (magnetic resonance imaging atau MRI) pada tahun 1980.

Pelayanan bedah saraf di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1948 yang diprakarsai oleh Prof. Dr. CH Lenshoek, seorang ahli bedah saraf dari Belanda. Awalnya memberikan pelayanan untuk menolong korban perang dunia. Sebagai pusatnya didirikan Klinik Bedah Saraf di Prince Margriet Hospital Jakarta yang didanai Palang Merah Belanda. Rumah sakit inilah yang pertama dilengkapi dengan fasilitas alat diagnostik, pengobatan dan perawatan untuk kasus-kasus bedah saraf.

Pelayanan Bedah Saraf di Bali diawali dengan Kepala Bagian Bedah FK Unud Prof. dr. I Ketut Budha SpB. KBD merekomendasikan dr Sri Maliawan mengikuti pendidikan spesialisasi Ilmu Bedah Saraf kepada Prof. dr. Basoeki Wirjowidjojo SpBS di FK UNAIR Surabaya.
Dokter Sri sebagai peserta didik ke-4 di UNAIR dan Lulusan ke-25 di Indonesia. “Pelayanan Bedah Saraf di Bali dimulai tahun 1991. Waktu itu sudah ada CT scan. Saya mulai merangkak membina dan memperkenalkan ilmu bedah saraf tidak saja kepada masyarakat, tetapi juga kepada teman sejawat medis dan paramedis, “ ujar profesor bedah saraf pertama di Bali ini.

Ia memperdalam lagi ilmunya ke Jerman di bawah asuhan Prof Marie Brook. Ia juga memperdalam ilmunya ke Nagoya Jepang di bawah asuhan almarhum Prof. Sugita, dan terjun langsung ke Singapore General Hospital.
Tahun 1997 Dr. dr. Nyoman Golden Sp.BS ikut bergabung ke bagian Bedah Saraf. Tahun 2005, dr. Tjokorda Gde Bagus Mahadewa M Kes. Sp.BS juga ikut bergabung. Mereka bertiga kemudian membuat draft usulan pendirian SMF Bedah Saraf yang akhirnya diterbitkan SK Dirut RS Sanglah per 25 Maret 2006. Pertengahan tahun 2007 dr. I Wayan Niryana, M.Kes, Sp.BS., ikut bergabung. Dengan kedatangan dr. Niryana, dibentuklah Divisi Stroke dan Neurovascular. Bersama-sama, mereka telah mempublikasikan hasil karya ilmiah di jurnal dalam negeri dan Internasional.

Ia mengatakan, SMF Bedah Saraf meletakkan dasar penanganan pasien bedah saraf dengan konsep tiga tepat; tepat waktu pelayanan, tepat indikasi dan tepat mutu. ”Dalam bidang pengabdian masyarakat, SMF Bedah Saraf berperan serta dalam penanganan kasus Bom Bali I dan II. Kami juga mendirikan Yayasan Otak dan Saraf Tulang Belakang (YOSTB) tahun 2006 untuk membantu masyarakat kurang mampu,” ujar lelaki yang beberapa kali membuka seminar gratis bedah saraf untuk semua masyarakat dan menjadi narasumber di televisi. –ast

Koran Tokoh Edisi 576, 24 s.d 30 Januari 2010




5 komentar:

Anonim mengatakan...

saat menulis komentar ini,saya sedang menemani kakak ipar di RS.Kakak saya mengalami hidrocepahalus (usia 33th,wanita). Saya blm pernah bertemu dgn dr.bedah saraf nya karena saya jarang ke RS (sedang hamil 37 mgg). Tp dokter kakak saya (dr. Yudi Yuwono SpBS di rs Mitra Keluarga Depok) memberikan 2 option : VP shunting atau ETV.
Setelah saya membaca blog saudara, ternyata ETV lebih kecil resikonya yah.
Saya butuh sekali tempat sharing mengenai biaya yang terjangkau untuk ETV ini,khususnya di daerah jakarta.karena kondisi keuangan kami terbatas. Saya juga butuh sharing mengenai tingkat keberhasilannya, terus terang saya takut jika setelah operasi ETV kakak saya koma.
email saya us_balqis@yahoo.co.id

Anonim mengatakan...

Saya juga mengalami masalah yang sama.
Tolong email ke saya juga : hendryharyanto@hotmail.com

Terima kasih atas bantuannya.

vpshunt mengatakan...

mungkin link di bawah ini bisa membantu, untuk dijadikan referensi :)

vpshunt

Ayu mengatakan...

Anak saya dari umur 26 hari sudah oprasi pemasangan alat yang berupa selang karna di diangnosa hidrosifalus. Seblom umur 1 th anak saya sudah 7 x menjalani opeasi.oprasi ke 7 pelepasan selang karna infeksi.jd anak saya tidak lagi memakai selang. Tp setlah umur 11 th anak saya menjalani opeasi ETV. Tp pasca oprasi kondisi anak saya semakin menurun. Cegukan sepanjang hari. Punggung bengkok. Kaki kaku dan susah jalan sendiri.kini anak saya sudah berumur 17 th dan memakai kursi roda untuk membantu dalam kesehariannya dan kesekolah.

Ayu mengatakan...

Anak saya dari umur 26 hari sudah oprasi pemasangan alat yang berupa selang karna di diangnosa hidrosifalus. Seblom umur 1 th anak saya sudah 7 x menjalani opeasi.oprasi ke 7 pelepasan selang karna infeksi.jd anak saya tidak lagi memakai selang. Tp setlah umur 11 th anak saya menjalani opeasi ETV. Tp pasca oprasi kondisi anak saya semakin menurun. Cegukan sepanjang hari. Punggung bengkok. Kaki kaku dan susah jalan sendiri.kini anak saya sudah berumur 17 th dan memakai kursi roda untuk membantu dalam kesehariannya dan kesekolah.