Selasa, 06 Juli 2010

Ida Pandita Jaya Dangka Ramana Putra

Guru Besar yang Jadi Sulinggih. Telah menjalani kehidupan spiritual selama 30 tahun, Prof. Ir. I Ketut Rika resmi mediksa sebagai sulinggih (28/4) dan memiliki nama suci Ida Pandita Jaya Dangka Ramana Putra. Bersama Pandita Istri Jaya Dangka Ramana Putri, ia tinggal di Pasraman Giri Sekar Wana, Jalan Jaya Pangus 5 Peguyangan Kangin Denpasar. Lelaki yang memasuki pensiun 2 Mei 2009 di usianya yang ke-70 tahun ini, menjadikan konsep catur guru sebagai dasar menempuh jenjang kesulinggihan. Ketika diwinten ke tingkat bhawati Ketut Rika memantapkan keyakinannya untuk meningkatkan spiritual. Kewajiban sebagai dharma negara, guru rupaka, guru pengajian dan guru wisesa telah dilewati, maka ia mulai mendaftarkan diri menjadi murid guru swadiaya agar menjadi bhawati dan wiku.

Keseriusan melakukan kewajiban Pandita telah dimantapkan. Langkah awal dilakukan dengan mengumpulkan anak cucunya untuk meminta dukungan. Setelah mendapatkan dukungan keluarga, kakek 15 cucu ini belajar kesulinggihan dengan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan lebih mendekatkan diri pada hal-hal niskala. Sebagai seorang pegawai negeri dan menyandang guru besar, ia belum berkonsentrasi penuh pada pengabdiannya di dunia spiritual. Namun, setelah masa pensiun, semua ditinggalkannya. “Bagi saya menjadi seorang sulinggih merupakan jalan yang sangat mulia, karena dapat membantu meringankan problem umat Hindu,” ujar ayah Ir. I Putu Eka Nila Kencana, M.Ti, I Made Dwi Pritaningsih, Ir Komang Sri Padma Dewiwati, M.Si (alm.), Ir I Ketut Catur Purusa Hartanegara, dan dr. Luh Putu Pancawati, Sp.M. ini.

Ia bersama istrinya I Nyoman Wasiki yang kini bergelar Ida Pandita Istri Jaya Dangka Ramana Putri
membangun pasraman di pinggir sungai Ayung. Tebing-tebing sungai ditumbuhi tanaman tinggi dan besar membuat pasraman Giri Sekar Wana tempat yang layak untuk bermeditasi. Suara burung di pepohonan, ikut menentramkan pikiran dan hati. “Kegiatan harian di pasraman ini mendalami ajaran sastra agama. Kegiatan dua minggu sekali, dua hari sebelum purnama dan dua hari sebelum tilem kami mengadakan diskusi dengan topik ajaran agama seperti Sarasamuscaya, Mahabrata, Ramayana termasuk geguritan, kidung, dan wirama,” ujar Mantan Guru Besar Fak. Peternakan Unud ini.
Kesibukan lain anggota Sabha Walaka PHDI Pusat ini pernah mengisi acara dharma wacana di salah satu televisi swasta nasional. Tugas pokoknya sebagai pandita melayani umat dalam masalah panca yadnya. Lelaki asal Jembrana ini, juga sering didatangi umat untuk dimintai nasihat. Ia sangat terbuka ketika orang datang melakukan meditasi di pasraman miliknya.

Rika menuturkan, hidupnya banyak dilalui dengan kesederhanaan. Berbekal nekad ia datang ke Denpasar untuk melanjutkan sekolahnya di SLUA Saraswati Denpasar. Di sanalah ia bertemu Wasiki dan mereka memiliki ketertarikan satu sama lain. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA-nya, Rika melanjutkan studinya ke Fak. Perternakan Unud. Wasiki berkarier sebagai karyawab Telkom. Mereka sepakat menikah, dan Rika tetap melanjutkan kuliahnya. Kesibukan mengurus anak-anak dari perkawinannya dengan Rika, Wasiki lebih berkonsetrasi menjadi ibu rumahtangga. Setelah anak-anaknya besar, Wasiki kembali beraktivitas. Ia memilih menjadi guru TK di Desa Tegeh Sari Tonja. Sejak tahun 1976, Rika mulai melakukan tirtayatra ke berbagai pura yang ada di Bali, termasuk di luar Bali. Sekitar 80 pura telah ia datangi dan berbagai pengalaman spiritual ia dapatkan dari perjalanannya.

Kebahagiaan yang tidak pernah ia lupakan pada saat mendapat kesempatan mendak betara tirta Hyang Pasupati di Gunung Semeru tahun 1979 menjelang upacara 100 tahun sekali (Karya Eka Dasa Ludra).
Bersama rombongan yang dipimpin Jero Mangku Srinaja, pemangku Penataran Agung Besakih mereka berangkat ke Desa Senduro. Perjalanan dimulai dari Kota Lumajang Jawa Timur menuju kaki gunung Semeru. Jalan makin sempit melewati sungai beraliran deras dan penuh bebatuan. Makin ke hulu, tebing sungai di kiri dan kanan makin tinggi dan curam. Hutan bambu berganti hutan kayu lebat dengan pepohonan yang tinggi. Sesekali terdengar suara auman macan tutul yang menghuni hutan. “Perjalanan tidak mungkin dilanjutkan karena buntu oleh tebing batu yang sangat tinggi di kaki sebelah timur Gunung Semeru. Kami berkeliling memeriksa tempat tersebut, ternyata berhulu sempit dengan dinding batu tegak lurus dan bagian atasnya tidak terlihat karena tertutup semak belukar. Pada dinding batu tersebut ada aliran air kecil,” papar Ketua Trah Pasek seluruh Bali tahun 1989-1999 ini.
Tiba-tiba hal aneh dialami Rika. Ia mendengar suara sayup-sayup “Nembe Jani Nira Ketangkilin”. Setelah mendengar suara tersebut, Rika langsung menangis karena terharu. Jero Mangku mengambil keputusan untuk mendak betara tirta di tempat tersebut. Semua rombongan menyucikan diri dan bersiap mengiringi Jero Mangku melaksanakan kegiatan ritual mendak betara tirta. –ast

Koran Tokoh, Edisi 599, 4 s,d 11 Juli 2010

2 komentar:

Yudi Darmawan mengatakan...

nice post..

salam

Anonim mengatakan...

thanks ya,