Kamis, 27 Oktober 2011

Pengidap HIV/AIDS di Bali 4833 Orang

Kasus HIV/AIDS menyita perhatian semua kalangan masyarakat di Indonesia. Data Menkes RI menunjukkan, secara kumulatif jumlah HIV positif terbanyak di DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua, Jawa Barat, Sumatera Utara, Bali, dan Jawa Tengah. Data KPA Prov. Bali hingga September 2011 mencatat 4833 pengidap HIV/AIDS di Bali. Usia 19-20 tahun menduduki persentase 43,55 %, menyusul usia 30-39 tahun 35,11%.
Denpasar menduduki posisi teratas dengan jumlah ODHA 2179, Buleleng 1059, Badung 732, Tabanan 301, Gianyar 213, Karangasem 138, Klungkung 81, Jembrana 78, dan Bangli 52. Kelompok risiko heteroseksual menduduki 73,93%, pengguna narkoba suntik 16,10%, dan homoseksual 4,22%. Data ini dipaparkan saat diskusi yang digelar Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Daerah Bali, Selasa (18/10) di FK Unud.
Selain dihadiri para aktivis yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS dan mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unud, diskusi menjadi sangat istimewa karena kehadiran ahli Epidemologi asal Inggris Elizabeth Pisani yang juga pengarang buku “Kearifan Pelacur”.
Menurut Elizabeth, kondom merupakan salah satu cara dalam pencegahan virus HIV ini. Namun, pemakaian kondom relatif masih kecil di tingkat kelompok berisiko. Dalam bukunya, ia mengkritisi berbagai kebijakan dalam menanggulangi HIV/AIDS. Saat ini, PSK sudah menjadi pilihan pekerjaan. Dibanding bekerja di pabrik, menjadi PSK lebih menjanjikan untuk mendapatkan uang. Bahkan, PSK dijadikan ajang pencarian modal. Saat ini, tercatat 12.000 PSK di Indonesia. Satu diantara 4 PSK sudah terkena HIV/AIDS.
Elizabeth yang melakukan wawancara langsung dengan beberapa PSK di Indonesia ini mengaku miris. Dari penemuannya, 28 PSK di Sentani Papua, tercatat sebagai pengidap HIV. Namun, mereka tak berani membuka amplop hasil pemeriksaaan tes. Karena ketakutan ini, mereka tetap menjalankan profesi sebagai pelacur dan menulari pelanggan mereka tanpa berani mengobati dirinya.
Berbagai stigma telah membuat para PSK tak berani menerima diri mereka sebagai pengidap HIV/AIDS. Padahal, HIV/AIDS sama dengan penyakit lain seperti kanker yang bisa juga mengakibatkan kematian. Namun, stigma masyarakat yang membuat terlalu ketakutan berlebihan, akhirnya malah memberikan dampak negatif yang justru merugikan penderita. Mereka takut dites dan takut berobat padahal gratis. Menurutnya, HIV/AIDS malah sudah menjadi life style, seperti mobil yang bisa juga diiklankan, agar PSK mau dites HIV. Tidak usah takut dan tidak menakutkan.
Agus dari Diskes Badung mencoba berbagi cerita. Dulu ia pernah bertugas di KPA Atambua selama 7 tahun. “Dana untuk program penanggulangan HIV/AIDS memang tergantung dari pejabatnya. Kebetulan pejabat yang memimpin adalah dokter, banyak program bagus digelontorkan dengan dana yang cukup. Ganti pejabat, program mandeg karena pemimpinnya tidak konsen untuk masalah itu. Begitu juga kalau ada keluarga pejabat yang terkena HIV/AIDS banyak dana digelontorkan untuk mengatasi masalah HIV/AIDS itu,” katanya.
Ironisnya, masyarakat bangga di daerahnya tidak ada lokalisasi atau kafe. Namun, justru mereka malah menjadi pelanggan dan mau datang ke lokalisasi walaupun tempatnya sangat jauh.
Menurut Elizabeth, memang sulit mendapatkan bantuan dana untuk masalah HIV/AIDS. Mencari dana dengan program ibu hamil, bayi atau anak-anak, lebih mudah dibandingkan untuk kasus HIV/AIDS.
Ia menilai, sistem otonomi daerah di Indonesia menimbulkan dua sisi yang berbeda. Keuntungannya, ada dana dari APBD. Namun, kelemahannya, jika pemimpinnya tidak tertarik, usaha penanggulangannya akan mogok. Menurutnya, memang tak bisa mengarahkan prilaku tiap orang.
Untuk itu, pemerintah, polisi, dan germo perlu bekerja sama. Satu contoh dibeberkan Elizabeth dalam penanggulangan HIV/AIDS di Thailand. Salah satu upaya pencegahan dengan penggunaan kondom 100% di kelompok berisiko, bisa meniru model yang diterapkan di Thailand. Pemilik rumah bordir atau germo di Thailand diberi peringatan, agar seluruh PSK-nya tidak boleh terinfeksi HIV. Tiap dua minggu dilakukan tes. Jika ada tiga perempuan yang terkena virus HIV dalam satu bulan, rumah bordir itu harus ditutup. Program ini program nasional. Semua rumah bordir terkena aturan ini. Ancaman tersebut, membuat takut si pemilik rumah bordir maupun germonya. Mereka berusaha menjaga agar semua PSK-nya tidak ada yang terkena HIV. Akhirnya, terjadi negoisasi penggunaan kondom antara pelanggan dan para germo.
Salah seorang aktivis HIV/AIDS yang turut hadir di diskusi mengatakan, tidak semua PSK bisa diatur. Satu kisah diungkapkannya ketika ikut pendampingan ke salah satu lokalisasi tahun 1999. Seorang PSK malah berani berbohong, dengan memasukkan air cucian beras ke dalam kondom saat diperiksa.
Ketut Sukerata mempertanyakan, slogan untuk mengampanyekan penggunaan kondom 100% apa mudah untuk diterapkan. Menurut Elizabeth, kampanye penggunaan kondom 100% maksudnya diterapkan pada kelompok berisiko seperti di lokalisasi, kelompok waria dan gay. Bukan di sekolah atau di masyarakat.
Ari Murti, salah seorang anggota Rotary Club Nusa Dua ikut berbagi pengalaman. Dalam kegiatan sosialnya, ia mengajak para PSK di Nusa Dua untuk mengikuti spiritual healing. Tiap bulan mereka datang untuk mengikuti kegiatan tersebut. Setelah mengikuti spiritual healing beberapa bulan, beberapa PSK sadar menularkan virus HIV ke orang lain merupakan dosa. Mereka takut akibatnya nanti setelah meninggal. Sebanyak 25 orang akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi PSK. Ada juga beberapa PSK, setelah mengikuti spiritual healing berusaha memaksa pelanggannya agar mau memakai kondom.
Menurut Christian dari Gaya Dewata, beberapa data menunjukkan kasus terus meningkat. Namun, belum ada tindakan atau upaya pemerintah untuk mengimbangi dengan jumlah layanan kesehatan. Apalagi khusus bagi kaum gay dan waria, mereka kesulitan melakukan pemeriksaan. Puskesmas belum mencakupi keperluan mereka. Akhirnya mereka terpaksa tidak berobat.
Prof. D.N. Wirawan, M.P.H., mengatakan, khusus para waria dan gay, kini dapat menikmati layanan kesehatan di Bali Medika. Mereka tidak perlu bingung harus kemana melakukan pemeriksaan, karena sudah ada Bali Medika. “Awal buka mulai bulan September 2011 baru melayani IMS. Ke depannya diharapkan bisa melayani semuanya. Kami juga sedang mencari bantuan sponsor untuk melengkapi peralatan kesehatan untuk menunjang semua layanan. Pelayanan Senin sampai Sabtu,” ujarnya.
Menurut Elizabeth, jumlah orang yang mengidap HIV/AIDS terus meningkat. Alasannya, karena pengobatan di tingkat global termasuk Indonesia sudah efektif dengan mendapatkan obat gratis. Otomatis jumlah orang yang hidup dengan HIV meningkat karena mereka tidak meninggal. Namun, program pencegahan tidak seefektif pengobatan. Dalam program pencegahan tidak berjalan optimal. Kelompok berisiko tinggi seperti perempuan, laki-laki, dan gay yang suka berganti banyak pasangan, dan pengguna narkoba suntik paling banyak tertular HIV di Indonesia. Peningkatan terjadi pada gay. Penelitian tahun 2002 menunjukkan hanya 3% gay di Jakarta mengidap HIV. Sekarang sudah berkembang menjadi 18%.
Berdasarkan penelitiannya, penjara merupakan pabrik HIV/AIDS. Alasannya, seks antara sesama napi laki-laki dan narkoba cukup gampang masuk di penjara. Untungnya sekarang sudah ada dua klinik untuk para gay dan waria. Satu di Jakarta dan satu di Bali. Namun, kata Elizabeth, dua klinik tersebut belum cukup untuk menangani semua kebutuhan dibandingkan dengan jumlah kenaikan pengidap HIV bagi kelompok gay dan waria. –ast

Edisi 666