Senin, 22 November 2010

Kesiapan Denpasar Antisipasi Bencana

Badan Pemadam Kebakaran Dilebur Jadi BPBD. SARANA MCK (mandi, cuci, kakus) sering terabaikan dan karenanya dikeluhkan para pengungsi di tempat-tempat pengungsian, sebagaimana yang terjadi di tempat-tempat pengungsian korban meletusnya Gunung Merapi sekarang ini. Bagaimana kesiapan Kota Denpasar mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam?

Bencana datang tanpa diduga. Mengantisipasinya, diperlukan suatu manajemen agar saat terjadi bencana penanganannya lebih maksimal. Saat ini baru ada tiga kabupaten/kota yang memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Bali yakni Denpasar, Gianyar, dan Buleleng.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar dr. I Made Sudhana Satrigraha mengungkapkan, manajemen bencana meliputi penanganan mulai dari prabencana, saat terjadinya bencana, dan pascabencana.
Sistem yang diterapkan BPBD Kota Denpasar dalam penanganan bencana melalui instruksi lembaga dan pengaduan masyarakat melalui call centre 0361- 223333. BPBD Kota Denpasar memiliki 4 pos pengaduan yakni Pos Induk di Jalan Imam Bonjol, Pos Juanda di Renon, Pos Cokroaminoto di Terminal Ubung, dan Pos Merpati di depan Stadion Kompyang Sujana.

Mantan kepala Rumah Sakit Wangaya ini mengatakan, prabencana meliputi pencegahan dan kesiapsiagaan. Pencegahan mencakup penyuluhan kepada masyarakat umum, mulai dari pelajar, sampai ibu rumah tangga. Tahun 2010 ini BPBD Kota Denpasar memprioritaskan penyuluhan kepada masyarakat di wilayah pesisir seperti Kelurahan Serangan, Kelurahan Sanur, Desa Sanur Kauh, Desa Sanur Kaja, dan Kesiman Kertalangu. Wilayah ini dianggap rawan bencana tsunami. Penyuluhan lain, juga menyasar 9 pasar di Denpasar. BPBD memberikan bantuan alat bantu pemadam api ringan (APAR) sekaligus penggunaannya kepada pengelola pasar agar mereka dapat melakukan penanggulangan ketika terjadi kebakaran. Bagi anak-anak TK, siswa SD, SMP, SMA ada program pelatihan mematikan api yang dilakukan di Pos Induk. “Agar program ini mencapai sasaran, tahun lalu kami mengadakan lomba mengatasi bahaya kebakaran ‘bagaimana cara mematikan api’. Pesertanya masyarakat umum dan siswa. Tahun depan bertepatan dengan HUT Kota Denpasar, lomba yang sama akan kami gelar lagi. Pesertanya ibu-ibu PKK,” katanya.

Kesiapsiagaan diprioritaskan pada kompetensi para kru di lapangan dan membuat peta wilayah rawan bencana dan peta evakuasi. Saat terjadinya bencana, BPBD melakukan penanganan darurat dan penyaluran logistik. BPBD berkoordinasi dengan stakeholder lain seperti TNI, polisi, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, SAR, dan PMI.
Menurutnya, dalam penanganan darurat petugas akan bergerak dengan analisis cepat seperti saat bencana gunung meletus. Beberapa analisis dilakukan seperti berapa kawasan yang dianggap rawan bencana, ke mana arah lahar mengalir, dan wilayah mana yang paling berbahaya. Berdasarkan analisis cepat tadi, kata dia, dapat dilakukan beberapa tindakan tepat seperti bagaimana evakuasi korban, penyelamatan korban sakit atau meninggal, dan membuat tempat pengungsian.
Di bidang logistik, kebutuhan pokok pengungsi menjadi prioritas, seperti pangan berupa makanan dan air bersih, sandang pakaian, papan seperti tenda atau balai banjar untuk berteduh, pelayanan kesehatan dan pelayanan psikologi.

Mobil MCK
Saat bencana, biasanya selalu dikeluhkan minimnya fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Saat ini DKP Kota Denpasar memiliki satu mobil MCK. Mobil ini biasanya dimanfaatkan untuk kegiatan besar seperti pameran. Hal ini dibenarkan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Denpasar I Ketut Wisada, S.E. “Memang dengan satu mobil tentu kekurangan. Instansi seperti TNI dan Polri juga memiliki masing-masing satu mobil MCK yang siap membantu jika diperlukan. Selain pemanfaatan mobil MCK, akan dibuatkan tenda-tenda darurat untuk mengatasi masalah MCK,” ujar Dokter Sudhana.
Pascabencana meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi.
Rehabilitasi meliputi perbaikan fasilitas umum seperti kantor pemerintahan yang rusak terkena bencana. Sedangkan rekonstruksi dilakukan setelah masa rehabilitasi. “Kalau perlengkapan atau banyak peralatan rusak dan tidak dapat digunakan lagi, akan diganti barang baru. Kami bertugas membantu pengadaannya,” ujarnya.
BPBD didirikan dua tahun lalu sebagai pengganti Badan Pemadam Kebakaran. “Dulu petugas kami hanya mampu menangani bencana api. Kini setelah badan ini dilebur menjadi BPBD, semua regu memiliki kompetensi dalam mengenal bencana air, api, angin, alam, dan sosial,” jelasnya. BPBD diperkuat 170 personal, terdiri atas siap regu 120 orang dan sisanya 50 orang di manajemen. Petugas siap regu mendapatkan penyegaran seminggu sekali tiap hari Jumat. Mereka diberi pengetahuan agar mahir melakukan pertolongan dan menggunakan alat bantuan. -ast

Tokoh, Edisi 619, 21 - 27 November 2010

Tidak ada komentar: