Senin, 20 Oktober 2008

Manfaatkan Toga untuk Keluarga

Hobi tanaman, awal mula Tjok Istri Agung Adnyani, atau yang akrab disapa Ibu Tjok ini terjun ke pengolahan tanaman sebagai obat tradisional dan kecantikan. Pemanfaatan pekarangan di sekitar rumahnya menjadi pilihannya mengembangkan hobi bercocok tanam. Rumah Ibu Tjok sengaja dibuat terbuka yang mengandung makna ia bersama keluarganya sangat mencintai alam dan terbuka pada siapapun.

Itu alasan yang dilontarkan suaminya Tjok Gede Agung Adnyana, Sm.Hk, ketika ditanya tentang konsep rumah tinggalnya. Kicauan burung menyambut kedatangan kami siang itu. Ada 24 jenis tanaman obat yang tumbuh di pekarangan rumahnya diantaranya ginseng, jempiring, tebu merah, delima,ua liligundi, daun dewa, mahkota dewa, tabia bun, sirih, dan dadap.

Perempuan kelahiran Klungkung, 21 April 1949 ini mulai belajar meracik tanaman menjadi obat tradisional lewat hobinya yang suka membaca dan menonton televisi. Aktif sebagai anggota PKK di Br. Sindhu Kelod Sanur dan sebagai pengurus PKK di Kelurahan Sanur membuat wawasannya makin terasah.

Menurutnya banyak sekali manfaat yang ia dapatkan sejak aktif di PKK. “Mulai dari penataran P4, kursus kecantikan, memasak, bahasa Inggris, membatik, menjahit, manajemen, dan pelatihan tanaman obat,” tutur Pimpinan Putri Bali ini.

Setelah ilmu itu diserapnya, Ibu Tjok menularkannya kepada ibu-ibu PKK lainnya. Ia sempat membuka kursus bordir dengan cuma-cuma pada remaja dan ibu PKK se-Desa Sanur tahun 1978 sampai 1990. Keinginan itu didasari rasa ingin membantu perempuan agar mempunyai keterampilan yang dapat menghasilkan. Karena kegigihannya aktif sebagai PKK, maka tak salah ketika tahun 1984 ia mendapatkan prestasi Ibu Teladan Kabupaten Badung.

Setelah ia menguasai cara meracik obat tradisional dari tanaman obat, ia pun membagi ilmu itu pada ibu-ibu lainnya. Ia terjun ke lapangan memberi penyuluhan ke masing-masing PKK di Kelurahan Sanur. Bagi Juara I Kader PKK se-Kota Denpasar tahun 2000 ini, ia berharap dengan penguasaan obat tradisional para ibu dapat melakukan P3K untuk anggota keluarganya. “Selain mudah didapat biayanya juga murah,” katanya.

Dalam kesehariannya, Bu Tjok memanfatkan toga ini untuk keluarganya. Khususnya untuk pengobatan sederhana bila cucunya sakit. Kini ia pun memanfaatkan bahan tradisional untuk membuat lulur kecantikan dan sempat mendemokan pembuatannya di depan tim juri.

Kartini pendobrak, begitulah julukan ibu tiga anak ini. Dulu semasa kecilnya, dialah satu-satunya perempuan di Puri yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Sebagai perempuan ia juga ingin maju dan pintar. Menurutnya walaupun perempuan nantinya berfungsi sebagai istri bukan berarti perempuan tidak boleh berkiprah sama dengan laki-laki. “Suami dan istri harus saling bahu membahu. Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi,” ujarnya.

Ketika ditanya kiat menjaga rumahtangganya, Ibu Tjok menjawab diplomatis. “Selalu penuh cinta dan romantis,” ujarnya yang disambut senyum manis Pak Tjok. Bahkan kemesraan mereka kerap membuat kagum putra-putrinya.

Salah satu putrinya, Tjok Trishna mengaku kemesraan kedua orangtuanya memberinya motivasi untuk lebih kuat menjaga arti sebuah perkawinan dengan tetap saling pengertian dan terbuka satu sama lain. Tjok Gede Agung Kurniawan, putra sulungnya yang sudah menikah dan tinggal bersamanya mengaku salut dengan ibunya. Salah satu nasihat ibunya yang selalu diingatnya, jangan selalu meminta bantuan orang lain. “Kalau bisa dikerjakan sendiri tanpa pembantu lakukanlah pekerjaan dengan baik. Hasilnya memberi kepuasan tersendiri,” ujarnya.

Keinginanan Ibu Tjok memajukan kaum perempuan memberinya inspirasi membentuk Koperasi Wanita Bali Krya Pertiwi tahun 2007. Dengan misi dan visi dari perempuan Bali untuk ibu pertiwi, koperasi ini kini telah berkembang dengan jumlah anggota 60 orang. Rasa ingin membantu sesama pun terlintas dibenaknya ketika melihat anak pembantunya putus sekolah karena tidak ada biaya sekolah. Ibu Tjok turun tangan membantu biaya sekolah dan keperluan buku pelajaran siswa yang kini duduk di kelas III SD 10 Sanur itu. –ast

(salah satu calon kandidat Ibu Teladan 2008)

7 komentar:

Blogger Addicter mengatakan...

wah..patut dijadikan contoh nie..

cocok dijadikan panutan :) apalagi ampe bantu orang lain ;) salut :)

Muhammad Qori mengatakan...

Apakah ibu ini punya blog?

Tikno mengatakan...

Salut buat Ibu Tjok Istri Agung Adnyani. Artikel ini membuat saya teringat banyak kenangan di Bali. Saya pernah tinggal di Denpasar (daerah Sanglah, Jl Raya Sesetan). Apakah Anda jurnalis dari harian Bali Post? Jika benar, sudikah anda mendukung impian saya tentang:
1. Countries without military.
2. One world (no differences).
3. Stop economic embargo.

Senang berjumpa dengan Anda. Ken ken kabare ?

wirati mengatakan...

@buat tikno:
wah senang berkenalan dnegan Anda.
Semoga impian anda menjadi kenyataan.

@buat Qori:
Sayang banget dia ga punya. Tapi kalau perlu bantuan, silakan mengontak saya, suksma

@buat blogger addicter:
benar banget. Saat ini dia sedang dicalonkan sebagai salah satu Ibu teladan se-Bali.

iam mengatakan...

kirain toga itu yg buat wisuda.

semoga jadi ibu teladan seb ali ato bila perlu se-indonesia. kita butuh ibu2 seperti itu.

gus mengatakan...

selalu saja ada kisah keteladanan diblog karib jurnalis yang satu ini. wew.. . .

obat kuat mengatakan...

obat kuat paling berkhasiat , dapat mengatasi impotensi dan meningkatkan gairah, multi orgasme